Chapter : 1/1 oneshot
Author : Hotaru Miyawaki
Fandom : Alice Nine
Pairing : ToraxSaga, ShouxSaga, ToraxAkemi(OFC)
Genre : Angst, drama
Rating : mendekati R
Warning : no character death. male x male relationship. weird point of views :/
A/N : aku gak tau apa yang aku tulis ini. jadinya aneh banget tapi ya... gitu deh.
Song theme : Shiroki Yuutsu - The Gazette.
Note: The poem between the story is Shiroki Yuutsu's english translation. warna yang lebih terang menunjukkan flashback.
Summary : Dan kini, betapa ia merasa dunia ini tidak adil padanya, karena yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan seperti orang lain. Tapi kini, kebahagiaan itu terasa terlalu bias didepan matanya sendiri.
Where To With The Melancholie
- oneshot -
Apakah kau berpikir bahwa, jika cerita seorang tokoh berakhir dengan bahagia, maka semua tokoh di dalam cerita itu juga akan bahagia?
Coba pikirkan kembali.
On the other side of the drape that is fluttering in the wind
What I was trembleing for with a weak voice was no body
It was the 'loss' I noticed for the first time
Cerita ini adalah cerita dimana ia meyakini apa yang benar akan apa yang ia lakukan. Dan kini, betapa ia merasa dunia ini tidak adil padanya, karena yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan seperti orang lain. Tapi kini, kebahagiaan itu terasa terlalu bias didepan matanya sendiri.
Gereja dimana Saga berdiri didepannya sore itu, adalah gereja yang akan dipakai oleh seseorang yang dikasihinya menikah esok hari. Saga hanya berdiri didepan pintunya yang tertutup, menatap ukiran salib di tengah kedua pintu kayu itu, kosong. Esok, dia akan datang kemari dan memberi selamat kepada orang yang paling dicintainya, karena esok, lelaki itu akan menikah dengan seorang wanita yang sudah dipilihkan oleh orang tuanya untuknya.
Saga menghela nafas.
Sejak Tora datang di sore hari di hari terakhir musim semi itu, ia merasa sebagian dari dirinya telah mati. Atau lebih tepatnya, raganya tetap berada di bumi, namun jiwanya telah melayang entah kemana. Dan tanpa jiwanya itu, ia tidak bisa lagi menangis.
Indelibly stained with a feeling of fear I can't get rid off
I seem to forget the warmth of that hand that was wiped away
The feeling of safety is taken away by the white walls
How many Aprils do I have to see until it'll end?
“Saga,” Tora berbisik di telinga Saga malam itu. Bisikan yang sangat lembut dan penuh perasaan, terisi oleh segala emosi diantara mereka, dan cinta. Ya, cinta yang sangat dalam.
Didalam pelukan Tora, Saga mendekat, merapatkan tubuhnya yang tak terbalut kain apapun kepada lelaki yang lebih tua darinya itu. Sisa-sisa pembuktian cinta mereka masih terasa hangat di dalam tubuhnya, yang Tora berikan padanya dengan tulus, memberi tanda bahwa ia hanya milik Tora seorang. Saga menggumam, memeluk Tora lebih erat lagi.
“Saga, Honey,” Tora terus memanggilnya. Jemarinya yang panjang mengelus rambut gelap Saga dengan lembut. Ia juga terus mengecupi kening Saga, dan tubuhnya memeluk Saga penuh perlindungan.
“Ya?” Saga sedikit mengadah agar mata mereka bertatapan.
“Aku...,” Tora terlihat gelisah. Ia menunduk.
“Ada apa?” Saga mengernyit. Saat itulah ia merasa ada yang salah pada situasi mereka saat itu.
“Saga, maaf,”
Saga membesarkan matanya dan merasa panik. Ia menangkup kedua pipi Tora dengan kedua tangannya, membuat Tora bertatapan lurus dengan matanya.
“Demi apa maaf itu? Ada apa? Katakan.” Pinta Saga.
“Aku...” Tora menutup matanya rapat-rapat sejenak, lalu membukanya kembali dan menatap Saga dengan mata yang mencerminkan kesedihan yang mendalam. “Aku akan menikah bulan depan. Ibuku menjodohkanku... dengan seorang wanita...”
By crossing paths I'll be able to easily make this crumble
So this is more fragile than I can express
Syok melanda seluruh tubuh Saga secara spontan. Ia merasa hatinya tersayat sangat dalam. Tora? Menikah?
“Ta—tapi—” Air mata mulai mengucur deras dari mata Saga yang juga terasa sakit.
Tora segera memeluk Saga lebih erat. Didalam pelukannya, Saga menangis, menangis sejadi-jadinya. Nafasnya tersengal seperti berlari berkilo-kilo meter, tangannya mengepal kaku di dadanya. Tora terus mengecupi semua bagian dari wajah Saga, berusaha menenangkannya namun percuma. Ia tahu akan seperti ini, dan ia sama sekali tidak menyukai hal ini.
“Kau bilang kau mencintaiku!” Saga nyaris berteriak, masih didalam isakan tangisnya.
“Aku mencintaimu, Saga, aku sangat mencintaimu! Tapi sekeras apapun aku berusaha mempertahankan hubungan kita, semakin keras kepala pula ibuku, Saga. Saga...” Tora berusaha menjelaskan, namun penjelasannya tidak membuat Saga berhenti menangis. Dan semakin malam, semakin sakit pula hatinya, menyadari masa depannya sendiri mencegahnya untuk tetap bersama dengan seseorang yang dipilihnya sendiri.
Saga terus menangis hingga ia tertidur di pelukan Tora.
Dan ketika Tora pergi, Saga tak lagi menangis. Karena ketika Tora pergi, jiwanya ikut serta menguap tepat didepan matanya.
Lightly I'm swaying in sadness
It's not reflected in the ever returning smile
Where to with the melancholie
The meaning of transitoriness, I knew my weakness I reflected upon
At the moment it's like I'm protecting you, like I'm huging you...
Sudah lebih dari sebulan yang lalu sejak saat itu. Saga selalu tahu, ya, ia selalu tahu bahwa Nyonya Amano tidak akan pernah merestui hubungan mereka. Hubungan antar sesama laki-laki, dan walaupun Tora dan Saga menyakini bahwa apa yang mereka jalani adalah benar, Nyonya Amano bersikeras untuk memiliki menantu normal seorang wanita. Dan disanalah Saga tahu, akhir dari perjalanannya.
“Saga,” Suara seseorang membuatnya kembali ke bumi. Tangannya menepuk pundak kiri Saga dengan halus.
Saga menoleh ke belakang dan menemukan Shou, sahabatnya, tersenyum kecil padanya. Namun semanis dan semenenangkan apapun senyum Shou itu, Saga tidak bisa mengembalikannya.
“Ayo pulang,” Ajak Shou. Saga hanya mengangguk dan mengikuti langkah Shou yang panjang dari belakang.
I'm saying your answer is a lie
Laughing about my bad dreams
Tapi ada pula sebuah cerita didalam sebuah cerita, yang nyaris tidak diketahui oleh siapapun selain dari pemeran lain disana. Pada sesosok lelaki jangkung dan tampan bernama Shou, hanya dengan sekali melihatnya kau akan tahu betapa dia adalah lelaki yang lembut dan penuh pengertian. Untuk Shou, Saga lebih dari sekedar sahabatnya. Mereka sudah bersama sejak kecil, bahkan sejak mereka berdua baru mengenal dunia, dan Shou selalu peduli pada Saga, lebih dari siapapun yang pernah mendapatkan perhatiannya selama hidupnya.
Shou selalu ada bersama Saga, baik dalam keadaan suka maupun duka. Shou selalu menjadi bagian dari hidup Saga yang terkadang sangat rumit. Shou selalu bisa meluruskan jalan Saga yang semrawut, dan seperti apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat lainnya di dunia, Shou mendukung pilihan-pilihan Saga yang tergolong sulit. Karena dialah yang paling mengerti Saga, setidaknya dia berpikir demikian, sampai Tora datang dan mengambil Saga darinya.
Ada sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi misi dari hidupnya sendiri, yaitu untuk melindungi Saga. Ya, apapun yang terjadi padanya. Siapapun yang mendapatkan hatinya.
Secara diam-diam, Shou selalu, ya, selalu, memiliki perasaan lebih pada teman sepermainannya sejak kecil itu.
Ingin rasanya Shou menggandeng tangan Saga dan mengantarnya pulang. Ingin ia berkata pada Saga bahwa semua akan baik-baik saja, dia masih bisa hidup walaupun tanpa Tora disisinya, karena ada dia. Ya, karena Shou ingin berjanji pada Saga bahwa dia akan menjaga lelaki itu seumur hidupnya, seperti yang sudah ia lakukan sepanjang hidupnya sampai saat itu.
Shou menoleh kebelakang, sejenak, memandang dengan sedih raut muka Saga yang sedang memandang pohon-pohon sakura yang menghijau. Profil hidung Saga yang tinggi, tulang pipinya yang sedikit menonjol keatas, bibirnya yang mungil dan tipis dan halus, serta rambut yang belakangan ini ia cat cokelat sangat gelap nyaris hitam yang terlihat kontras dengan kulitnya yang terlalu putih.
Saat itu pula, hatinya memutuskan. Mantap, ya, sudah waktunya untuk mengungkapkan pada Saga apa yang selalu ada di hati dan pikirannya. Shou menunduk. Otaknya sedang memproses sepersekian banyaknya peluang yang akan muncul didepannya jika ia mengatakannya sekarang. Tapi semua pertanyaan bodoh dan negatif yang terus menerus muncul di kepalanya segera ia hapus dengan percaya diri.
Shou memutar badannya, menghadap Saga.
Saga menatap lurus kearah Shou.
“Saga, aku—”
“Ayo kita ke taman. Aku sedang tidak ingin pulang.” Potong Saga cepat, sebelum Shou bahkan sempat untuk menyelesaikan kalimatnya.
“Baiklah,” Shou mengangguk.
Pengakuannya bisa menunggu.
*-*-*
Taman dimana Saga sering berada jika suasana hatinya sedang tidak menentu, berada tidak jauh dari apartemen yang dulu ia bagi bersama Tora ketika mereka masih bersama. Ah, kalimat itu terasa pahit di telinganya saat ini. Dulu, ya, pikirnya, mendesah.
Saga duduk di salah satu ayunan. Ia menarik ayunan itu kebelakang, mengayunnya. Matanya menatap sesuatu didepannya tanpa fokus apapun.
Kurang dari empat belas jam lagi dan Tora akan menikah dengan wanita lain.
“Saga,” Shou memanggilnya.
Dengan malas Saga mengangkat wajahnya, melihat Shou menyandarkan lengannya di tiang ayunan di sebelahnya. Matanya menatap tanah dan ia terlihat terlampau tenang, tidak seperti biasanya. Saga menaikkan alisnya dan bergumam, “Hm?” untuk mendapatkan perhatian Shou.
“Aku ingin kau tahu sesuatu,” Ujar Shou.
“Apa itu?” Tanya Saga.
“Kita sudah saling mengenal sejak kita masih sangat kecil, kan,” Shou melanjutkan. “Aku ingin mengatakan bahwa aku...”
Saga mengernyitkan keningnya.
“Bahwa aku suka—”
“Saga.” Sebuah suara memotong semua perhatian dan semua kalimat yang masih mengambang di udara itu.
Baik Shou maupun Saga sama-sama kaget mendengar suara itu. Suara yang seharusnya tidak mereka dengar saat ini, dalam keadaan yang rumit seperti ini. Saga nyaris melompat dari ayunan ketika melihat sosok pemilik suara itu. Ia berjalan kearah lelaki itu dengan tatapan tak percaya.
“Tora,”
Lelaki tinggi berambut hitam pekat itu tersenyum padanya. Ia berjalan mendekati Saga dan ketika mereka bertemu, Tora segera meraih tangan Saga dan menggenggamnya; mengaitkan jemari-jemari mereka dengan sangat erat. Tangan Saga yang penasaran, mengelus pipi Tora, memindai profil wajah Tora yang setelah sebulan lamanya tak bertemu, terasa asing di indra perabanya.
Tora mendekap tubuh Saga dengan erat.
“Ayo ikut denganku, Saga, hiduplah denganku,” Pinta Tora berulang-ulang, dengan wajah yang ia benamkan di leher Saga dan bernafas dengan berat disana.
Saga merasakan kakinya melemas. Bagaimana ia bisa percaya dengan hal itu?
“Kita ke Sapporo, kita akan menabung dan kita akan pindah diluar negri, berdua, aku ingin menikahimu aku tidak ingin menikah dengan Akemi.” Tora terus mengoceh, tidak memberi Saga sekecil apapun ruang untuk berbicara.
Shou hanya memperhatikan mereka, dengan hati yang hancur nyaris dengan kepingan yang terlalu kecil, dan lancip, yang membuat semua organ tubuhnya terasa sakit. Ia merasa lemas, dengan leher yang terasa seperti tercekik dan sulit rasanya untuk bernafas.
Seharusnya aku tahu aku tidak akan menang, pikirnya.
Ia melihat Tora melepaskan pelukannya. Namun kedua tangannya masih menggenggam lengan kurus Saga. Shou tahu bahwa genggaman itu sebenarnya terasa sakit, namun Tora memandang Saga dan berbicara melalui pikiran dan pandangan dengan cara yang paling halus yang pernah ia tahu.
Dan Saga mengangguk. Mengiyakan.
Tora kembali memeluknya. Shou bisa merasakan bagaimana mereka berdua merasa bahagia. Tapi ia tidak bisa ikut bahagia bersama mereka.
Tangan Tora kini menggenggam tangan Saga. Ia menariknya menuju gerbang keluar taman itu. Tapi Saga menghentikannya. Saga berlari kearah Shou dan memeluknya sejenak. Lalu mereka bertatapan, dan Shou semakin merasa sakit ketika ia melihat betapa bahagianya Saga saat itu, yang terpancar di kedua mata cokelatnya yang sempurna.
“Terima kasih. Kau sahabat terbaikku, Shou,” Dan Saga memeluknya lagi sebelum menghilang bersama Tora.
Ke Sapporo.
Kaki Shou yang lemas tidak lagi bisa menyangga beban tubuhnya. Ia terduduk di ayunan yang tadi diduduki oleh Saga. Matanya menatap lurus tanpa fokus apapun ke langit. Ya, langit yang berubah warna menjadi jingga seiring berjalannya waktu. Dan awan putih yang berkejaran yang terlihat seperti kelinci dan tupai. Tapi tidak, dia tidak akan menangis.
I'm simply enduring that I can't even breathe
I'm completely hiding my blocked words
Where to with the melancholie
The clinging wanted tomorrow is still blooming
Like the flame that is protecting you
flickering flickering
Mungkin Shou selalu ada untuknya. Mungkin Shou adalah orang yang paling mengenal Saga, namun di sisi lain Shou juga adalah orang yang paling tidak mengerti tentangnya. Dan Shou bukan pula seseorang yang memiliki hatinya. Bukan seseorang seperti dia yang diinginkan oleh Saga. Ia menginginkan seseorang seperti Tora, yang bisa membawanya pergi dengan sejuta alasan, mengeluarkan mereka dari lubang hitam yang membelenggu dengan erat. Seseorang yang memiliki keberanian lebih dan kasar namun di saat yang bersamaan bisa melindunginya. Seseorang yang nyaris tidak memberi celah untuk berargumen. Seperti Tora.
Bukan seseorang sepertinya, yang selalu berbasa-basi, yang bahkan tidak akan pernah bisa mengatakan apa yang dia rasakan, apalagi membawa Saga keluar dari khayalannya.
On the other side of the drape that is fluttering in the wind
What I was trembleing for with a weak voice was no body
It was the 'loss' I noticed for the first time
Demi orang tua Tora, demi calon istri Tora yang ia tinggalkan di sore yang terik itu seorang diri, yang seharusnya menikah dengannya esok hari, dan demi Shou yang tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi setelah Saga dibawa pergi, aku bertanya: apakah akan ada akhir yang bahagia di cerita ini?
OWARI
( ~♥∇♥)~
ReplyDeleteWwww~~ Keren~
( /≧∇≦)/
Fanfic Hotaru-chan selalu menyentuuuh~
akemi..?
ReplyDeleteKok jadi keinget kopel saya ya ini
kasiaaann shou-kuuunn
kanap shoouu, kenapa nasibmu selalu malang?
selalu aja ditinggalin neng saga aduh,
beneran deh kasian ama shou ;__;
*knapa
ReplyDelete@miko-chan
ReplyDeletethank you miko-chaaaan <3
@nobu
kopel anda yg mana? maksudnya gimana eh? :/
maaf ya nob tapi gw udah bilang kan?
shou yg ditinggalin saga demi tora itu FETISH gw! FETISH gw ya oloh DDDDX
Hota~ fic nya keren deh! :D tapi ngegantung ya... hmmm ada skuelnya ga ntr? :D
ReplyDelete@yaara
ReplyDeleteaaa arigatou udah baca ya ////w////
etto... aduh... keknya gak ada sikuelnya ini, gomen >,<a
itu shounya.. shounya knp malang bgitu?? TAT
ReplyDeletesini, sini, nangis d pelukanku aja..(/>_<)/ *d hajar fans shou* #kabur