Chapter : 3/a of ??
Characters/pairings : Byou x ??, Tora x Saga, Ryoga, Kazuki, K, more to come
Fandom : SCREW, Alice Nine, BORN, The Gazette, more to come
Author : Hotaru Miyawaki
Genre : slight crack, fluff, drama
Rating : NC-17 (untuk amannya)
Warning : cursings, dirty words, sexual activity between grown men
A/N : telat
Summary : Thanks to this thin wall of Saga’s apartment.
AKIKAZE
Chapter 3/a
Semalaman aku tidak bisa tidur. Pagi ini aku bangun dengan kantung mata besar berwarna hitam, dan mata yang sangat sulit kubuka. Mungkin bengkak, mungkin, aku nyaris menangis semalaman. Thanks to this thin wall of Saga’s apartment. Semalam adalah malam yang mungkin tidak akan kulupakan seumur hidupku. Bagaimana aku bisa? Aku tidak yakin, tapi aku yakin aku tidak akan mudah melupakannya.
Aku sedang mengaduk secangkir susu vanila yang baru saja kubuat secara manual di meja makan dengan gerakan yang sangat malas ketika kulihat Tora keluar dari kamar mandi. Tanpa aba-aba, bulu kudukku berdiri tegak dan aku merasa badanku menggigil. Tora melihat aku yang segera membuang muka dengan wajah memerah. Aku konfirmasi, wajahku memerah karena aku merasa tidak nyaman. Kehadiran Tora membuatku berfikiran yang aneh-aneh. Maksudku, ah, oke, aku akan menceritakannya.
Di Amerika, pasangan gay itu sudah pasti biasa. Di Prinston High setidaknya ada lima atau enam pasangan homo yang kukenal. Aku berteman dengan mereka tapi aku tidak pernah dekat-dekat dengan mereka. Aku selalu memposisikan diriku di tempat yang aman, dan aku berhasil berada di ‘lingkaran malaikat’ selama yang bisa kuingat. Sampai aku berada disini, sampai ketika Saga mengaku dia adalah gay dan dia hidup bersama Tora. Sampai tadi malam, ketika akhirnya aku mendengar dengan jelas ketika mereka sedang bercinta.
“Aaah, motto, harder, haaard... fuck, harder, Toraaa... Aaah!” Seperti itu yang kudengar semalam, membuatku terbangun di tengah malam. Desahan Saga, terus menerus, tidak terputus. Suara erangan itu, desahan itu, membuat mataku terbelalak. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku setiap kali Saga nyaris berteriak, meminta Tora untuk menyentuhnya, to deepen his hard length inside of him. Aku, somehow, tidak bisa menolak bayangan Saga terengah-engah dengan wajah bergairah dan bahagia. Tora and his rough thrust, dan Saga yang terus mendesah-desah mengatakan cinta. Ditambah pemandangan selayer keringat tipis membungkus kulit mereka dan berkilau terkena remang lampu tidur yang berwarna jingga. Mulut Saga terkatup-katup, dan Tora dengan penuh nafsu memasukkan lidahnya kedalam mulut Saga dan menghisapnya. Tora tetap pada setiap ritem thrust-nya, sambil berkata, “Cum for me, honey, Saga, my Sagaaa...” dan akhirnya Saga nyaris menjeritkan nama Tora dan aku tahu itulah klimaks Saga. Jelas sekali di benakku bagaimana cairan putih susu Saga mengotori perutnya dan perut Tora, dan sedetik kemudian Tora menyusulnya. Aku bisa membayangkannya ketika Tora juga nyaris menjerit, dan aku tahu Tora ‘memberi tanda’ bahwa Saga adalah miliknya, dengan melepaskan cairannya sendiri didalam tubuh kakakku itu.
KAKAKKU! Mereka berdua tidak tahu bahwa aku—yang berada di kamar tepat di sebelah mereka—tidak bisa tidur, dan menyumpal telinga dengan bantal sama sekali tidak membantu. Aku ingin menangis, oh kakakku, kakak laki-lakiku berhubungan seks dengan sesama laki-laki! Bayangan apa yang mereka lakukan di kamar mereka tidak mau pergi meninggalkanku sendiri dengan pikiranku. Mereka telah meracuniku. Mereka telah meracuni anak berusia dibawah umur dengan adegan tidak senonoh yang menjijikkan. Tidak secara visual sih, tapi tetap saja ‘audio yang terdengar ketika mereka melakukan fertilisasi secara abnormal’ adalah polusi! Polusi suara! Sumpah, sangat menjijikkan! Lebih parahnya mereka nyaris membuatku hardening juga!
Jadi seperti inilah wajahku saat ini, lebam dan jelek seperti anak cewek yang diputus pacar. Aku tahu aku menyedihkan.
Tora mendekatiku—tidak, dia berjalan menuju dapur dimana aku masih berdiri tidak bergerak. Dia mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk putih dan tetap meletakkannya diatas kepala sambil membuat secangkir kopi. Aku tetap diam di tempatku, menunduk, tidak mengeluarkan suara apapun. Aku ingin cepat pergi ke sekolah dan aku tidak ingin berada di dalam apartemen ini lama-lama, tapi rasanya waktu berjalan sangat, sangat, sangat lama. Aku selesai mengaduk susuku dan mulai menyesapnya. Dua sesapan dan aku menemukan Tora berdiri di sebelahku sembari memasukkan dua sendok teh gula kedalam cangkirnya.
“Ohayou,” Sapanya dengan tenang. Aku tahu Tora adalah lelaki yang tenang, tapi ketenangannya itu sama sekali tidak membuatku tenang. Karena kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh seseorang yang expressionless seperti Tora, kan?
“Ohayou,” Balasku, berusaha membuat suaraku tidak bergetar, sekasual mungkin agar dia tidak curiga apa-apa. Dibalik semua itu, sungguh, aku tidak bisa berhenti merinding!
Kami tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Dia tetap sibuk pada kopinya dan aku sibuk pada susuku, berusaha menghabiskannya secepat mungkin lalu kembali ke kamar untuk ganti baju seragam. Setidaknya itulah yang kupikirkan sebelum Saga tiba-tiba keluar dari kamarnya dan berjalan nyaris melompat-lompat kearah kamar mandi.
“Ohayou, minna!” Sapanya, dengan wajah cerah.
“Ohayou,” Aku dan Tora membalasnya secara bersamaan, tapi cukup jelas terdengar bahwa kami mengucapkannya dengan nada yang berbeda.
“Byou, hari ini aku kerja sampai malam, jadi Tora yang akan menjemputmu nanti.” Ujarnya, berhenti di tengah jalan.
Jesus, aku ingin cepat-cepat terbiasa berada di negara ini agar aku bisa menaiki alat transportasi publik dan kedua pasangan ini berhenti mengantar dan menjemputku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Bahkan membaca kanjipun aku tidak bisa! Alhasil aku hanya mengangguk, lalu Saga kembali berjalan menuju kamar mandi. Oh, what a great day.
Aku meletakkan cangkirku diatas meja untuk menghela nafas sebelum kembali meminumnya ketika aku melihat Tora menaikkan satu alisnya dan menunduk melihatku. Aku menatapnya balik dan bertanya agak kasar, “What?!”
Tora terkekeh. Ia menyembunyikan tawanya dibalik tangannya. “Kau meminum susu seperti anak berusia empat tahun. Lihat bibirmu, putih semua. Pfft!”
Tapi bukan ‘susu vanila’ yang biasa kuminum setiap pagi yang muncul di pikiranku (aku selalu meminum susu agar tinggiku bertambah. Maksudku, jika Saga bisa jadi setinggi itu, kenapa aku tidak?). Sialnya, secara sangat tiba-tiba dan tanpa diaba-aba, malah gambaran tentang ‘susu vanila yang lain’ yang muncul, dan suara jeritan Saga yang tiba-tiba terdengar di otakku, membuat wajahku berubah merah padam seperti terbakar (Jesus, it’s disgusting, I swear!) dan tenggorokanku terasa macet. Aku segera mengusap bibirku yang terasa kering dan berlari ke kamar, mengabaikan teriakan Tora yang menawariku membuatkan bekal makan siang.
*-*-*-*
Oke, jadi ada kalanya aku menyesal tidak mendengarkan orang lain berbicara. Untuk seseorang seperti aku, mendengarkan memang sedikit sulit. Tapi, ayolah, Byou, minimal aku mengiyakan saja ketika Tora mau membuatkan bekal makan siang untukku. Mungkin pagi tadi aku terlalu terfokus pada kehidupan percintaannya dengan Saga, dan membayangkan ‘yang iya-iya’, sampai aku lupa kalau di Jepang, aku butuh bento. Tapi rasanya sudah terlambat, aku baru menyesalinya ketika jam makan siang berlangsung. Semua orang membawa bekal makan siang mereka. Bahkan Kazuki, ya, Kazuki si muka preman—atau aku lebih suka menyebutnya The Lost Rockstar—pun, membawa bento!
“Byon, kesini donk, makan sama kita,” Kazuki melambaikan tangannya, membuyarkan lamunanku. Oh tidak, aku baru sadar kalau aku memandangnya terlalu lama. Atau memandang bentonya? Well, yang mana saja boleh.
Dan dia memanggilku Byon. Wow. Imut sekali.
Aku menggelengkan kepala cepat-cepat.
“Eeeh? Kenapa? Kesini saja,” Sambung Hiroto, cowok mungil imut yang berambut spikey pirang terang yang sedang merapatkan mejanya dengan meja Kazuki. Ketika meja mereka sudah rapat, dia mengeluarkan kotak bento dari dalam tasnya. Kotak bento yang sangat besar.
Aku tetap pada posisiku, tersenyum pada mereka dengan senyum kecut dan iri. Lalu tiba-tiba Jin—cowok dengan tindik juga—datang menghampiriku dan menarik mejaku dan merapatkannya dengan meja Kazuki dan Hiroto. Lalu dia sendiri merapatkan mejanya dan jadilah sebuah meja besar gabungan dari empat meja individu. Ketika melihat sekeliling, semua murid di kelas ini melakukan hal yang sama. Kelas ini terlihat seperti sebuah restoran dadakan.
“Ayolah, Byon, makan bersama kan tidak buruk!” Ujar Jin, mendorong kursiku dari belakang dengan sekuat tenaganya. Aku masih tidak berbicara, but somehow, aku sudah duduk berhadapan dengan Kazuki. Jin di sebelah kananku, dan Hiroto berhadapan dengannya. “Jadi, apa bekalmu hari ini?” Tanya Jin pada dua orang yang ada didepannya.
“Ah, standar, sih. Kau tahu ibuku tidak bisa masak, jadi aku cuma membuat sosis dan omelet.” Kazuki membuka bekalnya dengan muka melas. “Kau bagaimana, Pon? Hari ini membuatkan bekal lagi untuk si dokter UKS itu, ya?”
“Usse!” Aku bisa melihat wajah Hiroto sekejap menjadi merah.
Lalu tiba-tiba percakapan mereka berhenti, dan tiga pasang mata itu tertuju padaku secara bersamaan. Aku langsung melihat mereka secara bergantian dan merasa tidak nyaman.
“Wha—what?!” Aku nyaris membentak.
“Byon bawa apa?”
“Aku...,” Menghela nafas panjang, aku menunduk. “Tidak bawa bekal makan siang.”
“Aww jangan sediiih,” Kazuki bersuara. Tapi nada suaranya terdengar memanjakan dan ketika aku mengangkat wajahku untuk melihatnya, dia memanyunkan bibirnya dan memasang muka sok imut, muka gemas.
Hoek.
“Apa tidak ada kafetaria di sekolah ini?” Tanyaku sedikit jengkel. “Apa tidak ada yang jual burger atau semacamnya?”
“Di bawah, di sebelah UKS,” Jawab Jin. “Tapi tidak ada burger, disana cuma jual pudding dan kopi susu.”
“Geez, kafetaria disini tidak membuat murid kenyang,” Komentarku dengan nada dingin.
“Memang tidak,” Jawab mereka bertiga serentak. “Makanya kami membawa bekal sendiri-sendiri,” Tambah Hiroto.
Aku terdiam beberapa saat. Mereka bertiga secara bersamaan mulai menyiapkan chopsticks untuk makan. Nyaris kurang dari sedetik kemudian, mereka sudah lahap memakan bento-bento itu dalam keheningan, dan aku yang menyedihkan ini hanya bisa melihat ketiganya makan. Karena tidak tahan, akhirnya aku berdiri.
Kazuki mengangkat kepalanya. “Mau kemana, Byon?”
“Aku mau membeli puding,” Ujarku, sembari berjalan keluar dari kelas, mengabaikan mereka yang memanggil namaku.
Berjalan menuju kafetaria hari itu adalah hari pertama untukku. Aku tidak terlalu tahu kearah mana aku harus melangkah. Lorong dan koridor-koridor di sekolah ini nyaris terlihat sama semua, aku bahkan tidak bisa menemukan tangga turun yang langsung menuju ke arah UKS. Ketika aku akhirnya menemukan tangga turun, ternyata apa yang ada di ujung tangga itu bukanlah UKS, melainkan... gudang. Atau aku turun terlalu dalam, aku tidak tahu. Tapi ada beberapa buah lorong yang aku cukup yakin salah satunya adalah lorong yang akan membawaku ke UKS yang maybe, just maybe, berada di ujung lorong itu. Jadi aku memutuskan untuk berjalan menyusuri lorong.
Tapi tidak ada apapun di ujung lorong itu selain sebuah tembok.
Kesimpulannya, aku tersesat.
Kuputuskan untuk menghubungi Ryoga dan meminta bantuannya. Jadi kukeluarkan iPhone-ku, tapi sialnya aku melihat tulisan ‘No Service’ di paling ujung kiri atas layarnya. Idiot, aku lupa kalau aku belum mengganti providerku menjadi provider lokal Jepang.
Crap. Crap. Crap! Aku tidak mau mati disini!
Aku berusaha tetap tenang dan berjalan kembali menyusuri koridor untuk menemukan tangga naik, tapi lorongnya terlalu banyak dan tidak ada pertanda kehidupan sama sekali, sehingga membuatku bingung dan nyaris berteriak frustasi ketika aku sampai di koridor. Karena tak ada seorangpun disana, aku akhirnya memberanikan diri untuk berlari, berlari sekencang-kencangnya. Aku tidak peduli, apapun yang terjadi aku harus menemukan tangga kembali keatas!
Ya, aku sedang berlari secara membabi buta ketika tiba-tiba hal itu terjadi...
BRUAKH
To Be Continued
O___O) Byou tabrakan sama siapa tuh??
ReplyDeleteoh ya,, -________- akhirnya Hotaru-chan update fic ini lagii... padahal udah penasaran sama lanjutannya... >3<)o
Berikutnya tetap update ya~~ xDD saiah tunggu lho..,,
Yes,update~ *nari para-para*
ReplyDeleteXDDD
gomen na minnaaaa updatenya lama sekalay TwT
ReplyDeletelagi setak... hiks Orz
@miko
makasiiiih <3