Title - Zephyris Village
Chapter - I
Pairing(s) - over all Tora x Saga, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)
- Hotaru Miyawaki
- Hihara Nobu
- So, ini adalah fanfic berantai dimana kita bisa menulis sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya. Kita memulainya lewat facebook dan masih berlanjut sampai sekarang (makanya mau dipisahin per-chapter saja) XD I decide to repost this from facebook notes into my blog karena sayang kalau cuma disimpen disana, kan lebih enak kalo berbagi X3
- Demi alasan originalitas gak ada edit mengedit di repost-an ini, tenang aja XDD
- Oh iya, untuk yg berminat ikut gabung dan melanjutkan fanfic ini, silakan hubungi saya, my facebook name is Hotaru Miyawaki, jangan ragu2 kita bisa have fun bareng2 kan? X3b
Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪
Zephyris Village
Chapter I
Katakanlah cerita ini berjalan di era dimana Beowulf masih menjadi raja, dimana cerita-cerita tentang monster-monster yang dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan adalah nina bobo paling terkenal di jagat raya. Di seberang samudra, di pulau kecil di timur Eurasia, Pulau Laponia, terdapat kehidupan yang menarik, yang tidak jauh dari dongeng para naga, mungkin sedikit lebih tidak masuk akal, namun berbeda. Cerita tentang kehidupan elf, peri-peri yang diberi julukan ‘penjaga hutan’, yang mendiami gunung-gunung berhutan lebat di pulau itu.
Desa Zephyris, adalah desa peri di lereng timur Gunung Crux, gunung tertinggi di Pulau Laponia, dikelilingi oleh hutan lebat dan sangat jauh dari daerah pemukiman manusia. Desa ini adalah desa yang akan mematahkan kepercayaanmu terhadap para peri—mereka tidak berukuran mini, tidak bersayap, tidak terbang, dan tidak tinggal didalam mahkota bunga. Para peri sebenarnya berukuran nyaris sama tinggi dan besarnya dengan manusia pada umumnya; hanya saja ujung telinga mereka lancip, dan percayalah bahwa mereka bermatapencaharian sama dengan manusia-manusia yang umumnya tinggal di desa: bercocok tanam, berburu, atau berternak. Peri hidup berdampingan dengan manusia, karena keberadaan mereka tidak disembunyikan. Yang membuat peri spesial adalah, mereka memiliki indra yang jauh lebih tajam daripada manusia biasa. Jika ada yang berkata bahwa peri memiliki ilmu sihir, well, maka itu juga tidak sepenuhnya salah.
Di desa ini terdapat sebuah sirkulasi tetap: anak-anak bermain, remaja menuntut ilmu, dewasa bekerja, tetua menyeduh teh di teras sembari menyulam pakaian untuk cucunya. Nyaris tidak ada yang berbeda dengan kehidupan satu peri dengan yang lainnya. Semua peri menjalaninya setiap hari, dari hari pertama mereka dilahirkan sampai akhirnya mereka mati kemudian. Sungguh membosankan, sungguh. Bagi Saga, kehidupan sebagai peri di Zephyris sangat membosankan.
Saga menghela nafas, bosan. Dia membuka dan menutup buku bersampul kulit rusa yang ia bawa, memanyunkan bibirnya dan mengapit pensil arangnya diantara bibir dan hidungnya yang tinggi. Salah satu tangannya memangku dagunya, dan dia sedang duduk diatas sebuah batu besar tidak jauh dari rumahnya (peri juga punya rumah yang tidak jauh berbeda dengan manusia biasa tentu saja). Saga baru saja pulang dari sekolah. Jika kau tanya bagaimana sekolah peri berjalan, maka aku akan menjawab secara sederhana: mereka mengajarkan sihir dan bagaimana mengendalikan indra, memperkenalkan makhluk hidup dan mempelajari anatomi mereka, serta pelajaran yang sulit untuk peri karena mereka harus mengaplikasikannya bahkan sebelum sempat mempelajarinya: menghadapi imago.
Tentu ada ratusan bahkan ribuan makhluk mitologi yang hidup pada masa itu yang juga lebih sulit untuk dihadapi; seperti naga, para demon (sukubus dan inkubus), penyihir, dwarf, dan lain sebagainya. Diantara para makhluk itu yang paling tidak dikenal adalah bangsa imago, bangsa penghuni Hutan Timur yang dianggap sebagai parasit oleh bangsa elf. Imago sendiri adalah makhluk setengah binatang setengah manusia. Mereka sering berubah wujud menjadi manusia untuk menggangu atau mencuri apapun yang ada di desa-desa yang mereka incar. Mungkin terdengar mudah untuk para peri menghadapi para imago, namun, kenyataannya tidak pernah sama dengan kelihatannya. Imago memiliki kekuatan sihir, namun mereka bukan animagus karena wujud asli mereka adalah binatang—berbeda dengan animagus yang sebenarnya adalah manusia. Mereka juga tidak bodoh, yang artinya, mereka sangat sulit untuk ditangkap. Dalam konteks yang lebih sempit, imago adalah musuh para peri.
Dan ada beberapa imago yang membuat guru-guru Saga memutuskan untuk mengajari murid-murid mereka pelajaran yang sulit itu. Beberapa ekor harimau sering memakan sapi-sapi milik petani-petani di desa manusia di selatan Zephyris, dan burung-burung gagak sering mencuri hasil panen. Lebih parah lagi, kecerdasan mereka kian bertambah dan kini mereka menggunakan kekuatan mereka untuk berpura-pura menjadi manusia dan melakukan perdagangan; mereka mendambakan harta benda berlebih. Beberapa ekor mungkin sudah ditangkap dan dibunuh, namun imago paling berbahaya masih berkeliaran diluar sana.
Jika dilihat dari arah mana sinar matahari berasal, maka seharusnya hari itu masih tergolong terlalu pagi untuk pulang kerumah. Saga jelas tidak menyukai perguruannya. Dia setengah demon, dia hanya tinggal bersama ibunya yang dihamili oleh inkubus. Di Zephyris, tidak ada yang menyukai demon. Saga bukan anak yang nakal, dia memiliki kulit yang sangat putih serta rambut cokelat keemasan yang terlihat kontras dengan kulitnya, dan mata ungu—peri tidak bermata ungu—yang menandakan bahwa dia tidak sepenuhnya peri. Di sekolahnya, Saga yang berbeda sering mendapat perlakuan yang berbeda. Beberapa orangtua peri tidak menyukai anak-anak mereka bergaul dengannya, sehingga dia menjadi sangat tidak populer, nyaris tidak terlihat malah. Sehingga siang itu, seperti siang-siang sebelumnya selama hidupnya, dia pergi dari sekolah, meninggalkan gurunya yang sedang mengajarkan bagaimana menghadapi imago, dan memutuskan untuk menghabiskan sisa harinya dengan melamun.
Saga berpikir bagaimana wujud manusia dari para imago. Apakah mereka sejelek goblin, atau seperti gergasi (ogre), atau sebau troll? Tidak ada yang pernah melihatnya. Mengadah keatas dan melihat awan-awan yang berkejaran di langit yang cerah, Saga menghela nafas lagi. Mungkin jika dia menangkap satu saja imago, dia akan diakui sebagai seorang peri, pikirnya. Ya, itu ide yang bagus. Lagipula dia memiliki kemampuan untuk membidik apapun dengan tepat. Dia sangat berbakat dalam hal memanah, walaupun tidak ada seorangpun yang mau untuk mengakuinya.
“IMAGO!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak, disusul oleh teriakan yang lain secara bersahutan.
Saga menoleh kebelakang dan melihat penduduk desa segera mengambil persenjataan mereka dan berlari kearah yang sama. Saga segera bediri. Dia pulang kerumahnya untuk mengambil panahnya lalu berlari keluar lagi, mengabaikan ibunya yang berteriak padanya untuk tetap berada dirumah. Saga berlari kearah yang berlawanan dengan para peri lain. Ia pernah melihat seekor imago beberapa kali melintasi jalur itu, sehingga entah bagaimana ia bisa tahu bahwa mereka akan melewati jalur itu lagi.
Menemukan pohon besar yang rindang dan strategis, Saga segera memanjatnya untuk bersembunyi. Ia siap sedia dengan busur panah di tangan kirinya, dan bersembunyi dibalik ranting-ranting dan daun hijau yang lebat dan menunggu satu saja imago datang melewatinya.
Cukup lama Saga menunggu namun tidak ada tanda apapun dari seekor imago. Ketika suara penduduk desa mulai mereda, tidak ada lagi teriakan dan kutukan, Saga mendesah. Mungkin menangkap imago dan membunuhnya dan memperlihatkan pada para peri bahwa dia juga salah satu dari mereka bukanlah takdirnya. Mungkin dia memang ditakdirkan untuk dikucilkan sampai dia mati nanti.
Tapi tiba-tiba indra perinya yang tajam merasakan kehadiran beberapa imago dalam jarak dekat. Ia menunduk semakin dalam, memperhatikan dengan seksama, menggunakan indranya semaksimal mungkin. Dua ekor srigala cokelat menyeret masing-masing babi dan kerbau, lalu muncul seekor lagi kehitaman menyeret seekor sapi. Saga berpikir, binatang-binatang buruan mereka sangat besar, dan mereka mengambil terlalu banyak jika hanya untuk mereka konsumsi sendiri. Ada yang aneh disana, ya, Saga merasakannya. Saga memutuskan untuk menembak salah satu dari imago srigala itu, namun ketika serigala itu cukup jauh, Saga merasakan aura aneh yang sangat kuat mendekat. Saga menenangkan diriya yang mulai merasa tegang dan takut, matanya fokus pada tanah dibawahnya, menunggu apapun yang beraura sangat kuat itu datang.
Dan disanalah ia seorang manusia muncul entah dari mana. Ia berbadan tinggi dan tegap, berambut hitam pekat, berjalan dengan angkuhnya mengikuti ketiga serigala itu dari belakang. Ia tidak membawa apapun bersamanya. Dari posisinya, Saga hanya bisa melihat punggung lelaki itu. Matanya menyipit dan berkonsentrasi. Ia nyaris melongo tak percaya ketika tiba-tiba lelaki itu membungkuk, bulu-bulu putih berbelang hitam muncul di sekujur tubuhnya, perlahan, lalu ia melompat dan berubah sepenuhnya menjadi seekor harimau putih. Melihat seekor imago yang bertransformasi adalah hal pertama bagi Saga dan ia tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Saga berpikir mungkin dialah bossnya, sang ketua atau semacamnya. Saga mengambil satu anak panah yang ia simpan didalam kantung, lalu menariknya dengan busur panah, dan membidik sang harimau putih.
Dia hendak menembak ketika harimau itu menoleh kearahnya secara tiba-tiba, dengan mimik mengancam, mata yang tajam yang bahkan bisa merajang seluruh indra perinya.
Saga tertangkap basah.
Keringat dingin mulai bercucuran, membanjiri pelipisnya. Bibir Saga bergetar hebat, rasa takut mulai menyeruak dalam dirinya. Manik mata Harimau itu benar-benar mengerikan, bahkan dia pun tak yakin apabila peri-peri lain di sekitarnya pernah berhadapan langsung dengan Imago seperti ini. Sosok Imago yang sekarang ada di bawahnya itu benar-benar jauh dari bayangan—maksudnya, wajah mereka memang tidak seburuk Troll tapi aura mereka sangat mengerikan.
Saga terlalu takut untuk bergerak, anak panah yang dipegangnya sebisa mungkin dia pertahankan agar tak jatuh dari genggamannya dan membuat suasana tambah hancur. Apabila tiga ekor serigala itu mengetahui keberadaannya dia akan habis. Saga tahu, saat ini dia tidak bisa melakukan apapun selain berharap pada takdir. Takdir baik yang tentu saja tidak akan diberikan Astaroth meskipun dia adalah setengah campuran dari Inkubus.
Dia diam dan mencoba untuk mengontrol dirinya yang mulai benar-benar panik, gemetar yang awalnya hanya mengalir di telapak kakiknya kini mulai beranjak dan hampir menguasai seluruh tubuhnya.
Serigala-serigala yang bersama Harimau itu tak bergeming dari tempat mereka, seolah menunggu si Harimau itu mengambil langkah duluan. Saga berpikir, jika Harimau itu memang akan menangkapnya habislah sudah. Sehebat apapun dan se-akurat apapun bidikan Saga tak akan mampu mengalahkan sekumpulan Imago sekaligus, lagipula dia masih seorang siswa dan bukan pula yang paling mahir di sekolahnya.
Detik berikutnya entah apa yang sebenarnya terjadi, ini bukan kado dari Astaroth—ini keajaiban. Harimau itu tiba-tiba saja berjalan meninggalkan Saga yang masih heran dengan apa yang terjadi saat ini. Tak ada Imago yang baik hati, dia tahu akan hal itu. Bola mata Saga yang tadinya tak mau bererak kini mulai mengikuti langkah serigala dan Harimau putih yang memimpin di depan mereka sembari menyeret buah tangan yang mereka peroleh dari penduduk desa.
Setelah memastikan
punggung-punggung Imago itu pergi dia mulai merangkak dari dahan besar
yang ia tempati dan menginjakkan kakinya kembali ke tanah dasar.
Hembusan nafas Saga sudah mulai membaik dari sebelumnya—dia bisa menarik
udara yang seimbang untuk paru-parunya. Elf juga bisa bernafas, tentu
saja.
Saga memasukkan anak panahnya kembali ke dalam sarung lalu mengencangkan seutas tali sebagai penyangganya. Dia kembali berjalan—menapak ulang jejaknya barusan, bisa dilihatnya jelas ada banyak jejak kaki serigala dan…jejak kaki manusia—jejak Harimau putih itu. Bulu kuduk Saga kembali meremang, mengingat kejadian menegangkan yang baru saja ia alami.
Badai sudah berlalu tepi tetap saja ada perasaan tak nyaman baginya. Ternyata memang dia adalah seorang yang ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang paling dikucilkan di desa Zephyris, keberaniannya untuk menangkap satu Imago saja itu mulai menciut, tak bisa dibayangkan kalau dia hampir mati diterkam Harimau jejadian itu sendirian. Yah, tapi apa mau dikata? Dia tak punya kawan berburu, malah dulu dirinya dan Ibunya adalah target utama bagi penduduk di Zephyris atau bagi penduduk di kaki gunung.
Saga yang setengah campuran dan juga Ibunya yang sampai bisa dihamili oleh Inkubus merupakan hal yang menarik sekaligus menyebalkan. Penduduk di Zephyris sangat khawatir apabila Saga jauh lebih dominan sebagai Demon ketimbang Elf. Bayang-bayang kehancuran jelas selalu terbayang di benak penduduk desa yang lain apabila Saga masih berada di desa mereka, kendati demikian Saga masih tetap bersikap seperti Elf dan bukannya Demon. Saga sudah terbiasa dengan cibiran dan segala caci maki dari makhluk di sekitarnya.
“Saga! Darimana saja kau?!” suara Ibunya menyaut di ambang pintu.
Saga berjalan lesu dan menaruh kantung panahnya di samping pintu lalu duduk diam di batu besar yang tadi siang dia tempati. Ibunya hanya menghela nafas, perlahan dia mendekati anak semata wayangnya itu. Warna rambut Saga tak nampak terlalu cerah karena mentari memang mulai bersujud di pipi bumi, wanita itu menarik tangan anaknya pelan—mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
“Masuklah, aku tidak mau para Kaldorei itu datang dan mengganggumu lagi,”
“Tapi ini belum malam, bintang pun belum ada yang terlihat,” Saga mengelak. Dia ingin bersantai dan menenangkan pikirannya.
“Saga,”nada itu adalah yang paling dibenci Saga.
“Baiklah, rasa khawatirmu berlebihan. Bukannya Kaldorei itu sama saja dengan kita?”
“Jangan ajak aku untuk bercanda, nak. Mereka memang tak jauh berbeda dengan Elf, tapi denganmu!”
Saga menutup pintu rumahnya dan mendesah lagi. Manik matanya menabrak kirai jendela yang usang, pikirannya jadi campur aduk. Ocehan Ibunya tak ia dengar, Saga hanya sibuk pada pemikirannya sendiri. Memikirkan cara untuk mengubah jalan hidupnya yang memang rumit itu, Saga sempat bertanya pada Ibunya bagaimana caranya agar dia dapat terlihat biasa di antara elf yang lain. Dia ingin sama seperti mereka, memiliki banyak teman, punya kesempatan untuk menunjukkan keberadaanya dan lain sebagainya.
Saga memasukkan anak panahnya kembali ke dalam sarung lalu mengencangkan seutas tali sebagai penyangganya. Dia kembali berjalan—menapak ulang jejaknya barusan, bisa dilihatnya jelas ada banyak jejak kaki serigala dan…jejak kaki manusia—jejak Harimau putih itu. Bulu kuduk Saga kembali meremang, mengingat kejadian menegangkan yang baru saja ia alami.
Badai sudah berlalu tepi tetap saja ada perasaan tak nyaman baginya. Ternyata memang dia adalah seorang yang ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang paling dikucilkan di desa Zephyris, keberaniannya untuk menangkap satu Imago saja itu mulai menciut, tak bisa dibayangkan kalau dia hampir mati diterkam Harimau jejadian itu sendirian. Yah, tapi apa mau dikata? Dia tak punya kawan berburu, malah dulu dirinya dan Ibunya adalah target utama bagi penduduk di Zephyris atau bagi penduduk di kaki gunung.
Saga yang setengah campuran dan juga Ibunya yang sampai bisa dihamili oleh Inkubus merupakan hal yang menarik sekaligus menyebalkan. Penduduk di Zephyris sangat khawatir apabila Saga jauh lebih dominan sebagai Demon ketimbang Elf. Bayang-bayang kehancuran jelas selalu terbayang di benak penduduk desa yang lain apabila Saga masih berada di desa mereka, kendati demikian Saga masih tetap bersikap seperti Elf dan bukannya Demon. Saga sudah terbiasa dengan cibiran dan segala caci maki dari makhluk di sekitarnya.
“Saga! Darimana saja kau?!” suara Ibunya menyaut di ambang pintu.
Saga berjalan lesu dan menaruh kantung panahnya di samping pintu lalu duduk diam di batu besar yang tadi siang dia tempati. Ibunya hanya menghela nafas, perlahan dia mendekati anak semata wayangnya itu. Warna rambut Saga tak nampak terlalu cerah karena mentari memang mulai bersujud di pipi bumi, wanita itu menarik tangan anaknya pelan—mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
“Masuklah, aku tidak mau para Kaldorei itu datang dan mengganggumu lagi,”
“Tapi ini belum malam, bintang pun belum ada yang terlihat,” Saga mengelak. Dia ingin bersantai dan menenangkan pikirannya.
“Saga,”nada itu adalah yang paling dibenci Saga.
“Baiklah, rasa khawatirmu berlebihan. Bukannya Kaldorei itu sama saja dengan kita?”
“Jangan ajak aku untuk bercanda, nak. Mereka memang tak jauh berbeda dengan Elf, tapi denganmu!”
Saga menutup pintu rumahnya dan mendesah lagi. Manik matanya menabrak kirai jendela yang usang, pikirannya jadi campur aduk. Ocehan Ibunya tak ia dengar, Saga hanya sibuk pada pemikirannya sendiri. Memikirkan cara untuk mengubah jalan hidupnya yang memang rumit itu, Saga sempat bertanya pada Ibunya bagaimana caranya agar dia dapat terlihat biasa di antara elf yang lain. Dia ingin sama seperti mereka, memiliki banyak teman, punya kesempatan untuk menunjukkan keberadaanya dan lain sebagainya.
...
TO BE CONTINUED
0 shouts:
Post a Comment