Thursday, December 29, 2011

Zephyris Village - II

General :
Title - Zephyris Village
Chapter - II
Pairing(s) - over all Tora x Saga, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)
  1. Hotaru Miyawaki
  2. Oxilia Michiru
Note :
  1. So, ini adalah fanfic berantai dimana kita bisa menulis sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya. Kita memulainya lewat facebook dan masih berlanjut sampai sekarang (makanya mau dipisahin per-chapter saja) XD I decide to repost this from facebook notes into my blog karena sayang kalau cuma disimpen disana, kan lebih enak kalo berbagi X3
  2. Demi alasan originalitas gak ada edit mengedit di repost-an ini, tenang aja XDD
  3. Oh iya, untuk yg berminat ikut gabung dan melanjutkan fanfic ini, silakan hubungi saya, my facebook name is Hotaru Miyawaki, jangan ragu2 kita bisa have fun bareng2 kan? X3b
Disclaimer : the visual key boys ain't ours, but think a hundred of times first if you want to copy this work of fiction because this is a story written by a lot of people with a lot of ideas.


Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪



Previous Chapter : Chapter I





Zephyris Village
Chapter II




Muncul di permukaan kembali sang matahari di hari berikutnya. Pagi yang dingin menyambut kulit pucat Saga ketika ia sampai didepan lingkungan perguruannya. Saga berjalan dengan mata yang terfokus pada tanah alas jalan setapak yang merupakan rute yang selalu ia lewati nyaris setiap hari. Pikirannya tidak fokus.

Selain masalah hormon elf remaja yang merajai tubuhnya dan mulai mempertanyakan apakah ibunya benar-benar menerima dan menyayanginya atau tidak; ia juga tengah memikirkan bagaimana caranya agar ia diterima sebagai salah satu anggota bangsa elf seutuhnya, selain itu, masih segar dibenak Saga bagaimana seorang imago, dalam hal ini harimau putih, bisa memiliki aura yang begitu kuat yang bahkan bisa mematirasakan indra-indra peri yang mungkin sudah jauh terlatih, bagaiman ia bertransformasi, bahkan bagaimana bisa mata emas itu terasa begitu tajam hingga menusuk tulang. Semua yang dirasakannya berbeda jauh dengan apa yang dipelajarinya di Kelas Imago.

Ditambah lagi, ada sebuah rasa penasaran yang muncul di benaknya tentang wujud manusia dari imago harimau itu. Lelaki tinggi berambut sangat hitam itu, bagaimana wajahnya? Apakah ia memiliki mata emas yang tajam seperti bentuk binatangnya? Bagaimana ia sebenarnya...

“Itu Saga. Hey, Saga!” Suara seseorang memanggilnya, membuat konsentrasi Saga buyar dan secara spontan menoleh kearah suara itu. Tiga peri remaja seusianya—salah satu diantara berbadan mereka cukup tinggi dan berambut cokelat keemasan; Saga mengenalinya sebagai Kazuki, lalu satu peri lagi yang sedikit lebih pendek dan memakai semacam ikat hidung; Reita, dan yang terakhir elf yang lebih tua dari mereka yang berambut silver bernama Aoi—mereka berjalan mendekati Saga, senyum mengembang di bibir mereka.

Sangat amat langka ada peri—atau makhluk hidup lain—yang memberi senyuman pada Saga sebelumnya—selain ibunya, jadi Saga tersenyum balik pada mereka dengan ramahnya. Apa mereka menganggapnya teman sekarang?

“Hey.” Ujar Saga ramah.
“Kau datang ke Kelas Imago?” Tanya Reita, sedikit mengadahkan kepalanya.
“Iya.” Saga mengangguk.
“Kita harus rajin masuk ke Kelas Imago. Akhir-akhir ini banyak imago yang menyerang desa-desa di lereng Gunung Crux.” Tambah Kazuki. “Kudengar beberapa Elder tewas setelah penyerangan kemarin. Sungguh mengerikan.”

Tidak ada sebelumnya orang lain yang mau berbicara lebih dari lima kata dengan Saga sebelumnya. Jadi saat itu, entah bagaimana, Saga merasa bersemangat. Ia mengangguki kata-kata Kazuki yang terdengar meyakinkan, dan senyuman ramah penuh harap tidak hilang dari wajahnya yang berseri.

“Aku tahu.” Sahut Aoi, menganggukkan kepalanya. “Salah satu Elder itu mengajar di Kelas Demon. Oh ya, Saga, apakah kau akan mendaftar Kelas Demon tahun depan?”
“Aoi, apa kau lupa? Saga kan demon,” Reita menyeletuk dengan nada yang cukup tinggi sehingga peri-peri lain disekitar mereka menoleh karena dengan jelas mendengarnya.

Saga terpatung.

“Apakah demon mempelajari demon? Itu terdengar gila!” Reita terus berceloteh dengan kerasnya.
“Tak apa, kita ‘kan jadi punya objek untuk praktek. Benar, tidak?” Kazuki menyeringai.
“Sudah-sudah! Kita pergi saja selagi belum terlambat.” Aoi memotong pembicaraan mereka berdua. Melihat Saga yang bingung, Aoi diam-diam menyeringai meremehkan. “Tetua desa ini selalu menyuruh kita untuk tidak mendekati demon, jadi kita harus segera menjauhi Saga.”

Kazuki dan Reita mengangguk setuju. Mereka bertiga berlalu dengan cepat dan angkuh, meninggalkan Saga sendirian ditempatnya seperti dipatungkan oleh Medussa. Oh, betapa ia menginginkan untuk bisa memanggil Medussa dan mematungkan ketiga makhluk sombong itu. Tapi jiwanya terlalu baik. Terlalu halus, bahkan, seperti sebuah beludru yang sangat lembut.

Berusaha mengesampingkan ucapan tajam dari ketiga teman seperguruannya itu, Saga kembali berjalan menuju Kelas Imago yang saat itu berada diluar ruangan.

 

*-*-*



Dibawah pohon oak besar yang sudah tua, enam belas murid di kelas itu membuat lingkaran. Buku bersampul kulit rusa mereka bawa masing-masing, juga sebuah pensil arang atau pena bulu. Seorang elf dewasa—mereka menyebutnya Elder, semacam sebutan untuk seorang guru—menjadi awal dari lingkaran itu, menjadi satu-satunya sumber informasi bagi para elf muda tentang makhluk-makhluk imago. Diskusi pun dimulai, tentang bagaimana bentuk para imago dan bentuk mereka. Ada yang berkata mereka besar dan kuat, serta jelek seperti troll. Ada yang berkata bentuk manusia imago sangat jelek seperti para orc, dan mereka kuat. Tapi tidak ada yang tahu bahwa bentuk manusia dari para imago tidak jauh dari bentuk manusia pada umumnya, sampai Saga membuka suara, membuat semua mata terkonsentrasi padanya.

Beberapa detik ia tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Err...” Saga menelan ludahnya. “Bentuk manusia dari imago... sama sekali tidak berbeda dengan manusia biasa...”

Terdengar sedikit keraguan didalam nada bicaranya. Namun melihat sang Elder memperhatikannya seperti tertarik terhadap argumen yang ia utarakan, dengan sedikit percaya diri, Saga berani melanjutkan.

“Benar-benar tidak berbeda dengan manusia. Tidak ada bulu-bulu punggung atau kutil seperti bebatuan di sungai. Hanya saja aura mereka sangat pekat.” Tambahnya. Keyakinannya semakin besar karena semua peri yang duduk disana seperti mendengarkannya dengan seksama. “Jika mereka ingin bertransformasi maka mereka akan bertransformasi—aku melihatnya, seekor harimau putih.”

Hening.

“Jadi karena itu kemarin kau tidak berada di perguruan?” Tanya sebuah suara dengan nada penuh kecurigaan. “Kau pasti membantu para imago.”

Semua mata tertuju pada Aoi.

“Aoi, jaga sikapmu.” Potong sang Elder. “Saga adalah elf, sama seperti kita.”

Lingkaran itu seketika berubah menjadi lautan bisikan. Saga bisa melihat semua peri itu membicarakannya dan matanya, atau ibunya dan segala macam hal yang tidak ia mengerti namun dengan terang-terangan memojokkannya.

“Dia inkubus.” Tambah Reita. “Tidak ada garansi dia akan selalu berpihak pada kita.”
“Ya. Lagipula dia satu-satunya siswa disini yang melihat wujud dari imago yang mengerikan itu. Dan lagi, dia tidak ada di perguruan ketika para imago itu menyerang. Dia juga barusan mengakui bahwa dia melihat Harimau Putih dan wujud manusianya.” Kini Kazuki yang berbicara. “Mengerti? Aku sangat yakin bahwa Saga pasti membantu para imago itu menyerang desa.”

Saga tidak tahu menahu apa yang salah yang telah ia lakukan terhadap penduduk desa elf Zephyris ini. Kali ini berbagai tuduhan dan cercaan yang merajamnya terasa lebih perih daripada biasanya. Ia dituduh membantu imago, demi Zeus, ia tidak melakukannya. Ia bahkan berniat membantu, ‘kan? Tapi siapa yang akan percaya pada darah campuran sepertinya?

Dinding rencana yang telah ia susun agar bisa diakui sebagai seorang elf seutuhnya telah runtuh dengan sangat menyedihkan bahkan sebelum ia mulai memperjuangkannya. Dengan ia digiring ke ruangan para Elder atas tuduhan itu, Saga nyaris putus asa dengan hidupnya.


*-*-*-*

“Aku tidak melakukannya!” Saga nyaris membentak—sesuatu yang nyaris tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Mata ungunya yang pucat menatap lurus tanpa adanya keraguan seorang Elder yang menginterogasinya.

Sebenarnya, ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Saga yang disembunyikan oleh penduduk desa Zephyris sejak ia dilahirkan. Ketika ia marah, iris matanya yang berwarna ungu muda pucat itu akan menjadi ungu gelap, tidak bercahaya sama sekali, bahkan kadang menyala merah. Ketika mata itu berubah menjadi merah, maka dikhawatirkan secara tidak sadar Saga mengirim sinyal kepada demon-demon di Dunia Bawah—Kerajaan Ergastulum—dan mengirim mereka kembali ke Zephyris. Para elf itu sudah cukup lelah menghadapi imago yang tidak kunjung berhenti datang, menghadapi demon yang kekuatannya berkali lipat dari imago, sehingga mereka takut untuk membuat Saga marah. Atau, mereka takut mendekati Saga, karena dia adalah benang penyambung yang secara tidak diinginkan menghubungkan Zephyris dengan Ergastulum yang terkutuk.

Beruntung atau justru sebaliknya, Saga hanya seorang elf muda yang tidak mengerti tentang semua itu.

Elder yang menginterogasi Saga, bernama Thria, secara spontan mundur selangkah ketika Saga setengah membentaknya. Ia melihat mata pucat itu berubah gelap dan memerah. Ia menoleh kearah dua Elder yang lain yang juga merasakan hal yang sama, dan dengan berbicara melalui telepati yang diblok dari pikiran Saga, mereka mengangguk secara bersamaan.

“Kau boleh pergi.” Ujar Thria.

Saga pun meninggalkan ruangan itu.

“Kau merasakannya?” Tanya Thria, ketika Saga sudah terasa jauh dari mereka bertiga.
“Ya. Kuharap kejadian barusan tidak mengirimkan sinyal apapun ke Ergastulum.” Ujar salah satu dari mereka, kemudian disusul dengan anggukan dari para Elder yang lain.

Tanpa mereka ketahui, seorang pangeran di Ergastulum telah menangkap sinyal itu walaupun sinyal itu sendiri sangatlah lemah. Ia, saudara dari Raja Demon Asmodeus, salah satu pangeran dari Tujuh Pangeran Neraka, berdiri di balkon kamarnya di kastilnya yang luar biasa besar. Matanya menatap langit Ergastulum yang tidak pernah cerah; di wajahnya tergambar jelas sebuah senyuman—atau seringai di ujung bibirnya, yang menghiasi parasnya yang luar biasa tampan. Mungkin, mungkin, ia mulai merasa tertarik dengan elf muda setengah demon yang tanpa sengaja mengirim sinyal itu kepadanya.

“Leviathan,” Panggil Beelzebub. “Pertanda itu—”
“Panggil aku Shou.” Potongnya dengan dingin. Tidak ada yang berani memotong Beelzebub ketika ia berbicara tentu saja, tapi Shou, atau Pangeran Leviathan, adalah pengecualian. Nada bicaranya bahkan seperti membangun sebuah gunung es sebesar Alaska. “Leviathan adalah nama yang sangat buruk.”





*-*-*-*




Jauh kembali ke Zephyris, Saga yang bersedih tengah berjalan dengan lesu kembali pulang ke rumahnya. Lepas dari ketidaktahuannya tentang dunianya saat ini, mungkin berjalan dengan kepala tertunduk sudah menjadi kebiasaannya. Pikirannya semakin kacau. Sembari terus berjalan, Saga memejamkan matanya, mendesah, merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan...

BRUAKKH

Saga jatuh terjembab, dengan wajah jatuh ke tanah lebih dulu. Butiran tanah masuk kedalam mulutnya, membuat ia terbatuk nyaris muntah. Berusaha kembali berdiri, ia menepuk-nepuk bajunya yang kotor, kemudian membersihkan wajahnya, dan mengambil bukunya yang terpental cukup jauh. Sial, pikirnya. Kakinya terjeregal sesuatu, seperti semacam tali, tapi ia tidak melihat apapun selain daun kering dan dua pohon yang ia lewati. Walaupun terasa sakit, masih cukup beruntung wajahnya tidak terluka. Kalau sampai terluka, ibunya pasti akan marah. Tidak adakah hal lebih buruk yang bisa terjadi padanya?

Menoleh kebelakang, Saga menemukan seorang anak berambut pirang terang sedang berjongkok dan memandangnya dengan mulut setengah terbuka. Mereka saling bertatapan cukup lama, sampai elf yang terlihat jauh lebih muda dari Saga itu tiba-tiba tertawa terpingkal.

Wajah Saga memerah.

“Apa yang lucu?”
“Ahaha, maaf, maaf,” Anak kecil itu berdiri. Ia seperti menggulung sebuah tali namun Saga tidak bisa melihat apa-apa. “Aku sedang berusaha menjebak imago—kalau mereka kembali kemari. Tapi sepertinya aku salah sasaran,” Anak itu sedikit memanyunkan bibirnya.

Elf muda itu kembali berjongkok, kemudian menalikan ‘sesuatu yang tidak terlihat’ di pangkal pohon didepannya.

“Apa itu?” Saga mengernyitkan dahinya.
“Apa?”
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku sedang membuat jebakan untuk imago, bukankah aku sudah bilang?”
“Dengan apa?”
“Oh...” Elf muda itu meremas benda apapun yang tidak terlihat oleh Saga itu. Perlahan, sebuah tali tambang yang cukup besar berwarna cokelat tua mulai muncul. Tali itu menghubungkan kedua pohon yang tadi dilewati oleh Saga, dan ia mengenalinya sebagai tali yang menjeregalnya. “Kau belum diajari trik ini di kelas sihir tingkat dasar?”

Saga menggelengkan kepala. Elf muda itu hanya menatapnya. Saga, dan legenda mata ungu, terasa tidak asing baginya.

“Hey, kau Saga, kan?” Tanyanya.

Saga menjawabnya dengan sebuah anggukan.

Entah bagaimana, senyum mengembang di wajah anak itu. Ia melompat berdiri dan mendekati Saga, memperhatikan mata ungunya yang pucat.

“Keren...”
“Apa yang keren?” Saga terheran-heran. Baru kali ini ada yang berkata demikian kepadanya. Tapi dia harus waspada, berantisipasi agar kejadian dengan Aoi tidak terulang kembali. “Kau tidak takut padaku?”
“Kenapa aku harus takut?” Tanyanya balik. “Aku Hiroto. Murid tingkat dasar.”

Melihat senyum tulus Hiroto dan wajahnya yang memancarkan aura positif, Saga merasa yakin bahwa akhirnya dia menemukan seorang teman. Atau setidaknya, seorang partner untuk berburu imago.




Saga merasa bahagia ternyata ada juga yang mau berteman dengannya tapi terselip sedikit keraguan di hatinya maka dia bertanya sekali
“kau tak takut padaku?” saga mengulangi pertanyaannya untuk yang kedua kali
“hei kau tak dengar apa yang kukatakan barusan?” tanya hiroto sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah saga
tanpa diketahui hal tersebut membuat wajah saga merah padam
“tapi tapi semua elf di desa ini menjauhiku gara-gara aku berbeda dari yang lain.” Sekali lagi saga menyangkalnya
“apanya yang beda? Apa karena warna matamu yang berbeda, kau tahu saga warna matamu itu keren lhoo cocok ma wajah mu yanx cantik.”kata hiroto sedikit memecahkan suasana tegang itu
“Benarkah?”tanya saga sedikit ragu
Hiroto pun menganggukkan kepalanya dan saga mulai sedikit mempercayai elf kecil ini
Merekapun berbincang dan bercanda bersama menceritakan tentang kehidupan mereka masing-masing, ternyata kehidupan yang dijalani hiroto tak jauh berbeda dengan yang dialami oleh saga. Hiroto juga sering dikucilkan oleh lingkungannya.
“ne, hiroto sebelumnya aku belum pernah liat kau ada di sekitar sini?” saga kembali memulai percakapannya
“oh ya saga, memang aku elf baru di desa ini baru seminggu kemarin aku tiba di desa ini, aku yang berasal dari dunia timur” ucap hiroto
Saga terbengong-bengong lau berkata “ me..memang ada desa elf lain selain disini setahu ku Cuma disini tempat berkumpulnya elf”

Hiroto POV
Polos sekali kau saga, tak tahukah kau kalau seluruh ras elf takut padamu karena kau berdarah campuran.
Hah aku harus menjelaskan semuanya dari awal....
Lucu sekali wajahya saat dia terkejut itu
“ne saga desa ini bukan satu-satunya tempat tinggal bagi kaum elf, sebenarnya desa tempat tinggal elf tersebar diberbagai tempat. Kaum elf memang suka tinggal bersembunyi dihutan-hutan yang berpohon lebat karena pohon merupakan kehidupan bagi para elf” hiroto mulai bercerita tentang tempat tinggal para elf
“lalu kau elf dari desa mana?”tanyanya kemudian
“tidak, kau salah saga aku bukan elf dari desa manapun aku berasal dari Ellmiore, kau tau Ellmiore?” hiroto bertanya pada saga
“tidak, apa itu?”
huff polos sekali dia masa tak tahu tentang Ellmiore. Akhirnya aku mulai menjelaskan Ellmiore itu bukan sekedar desa tempat tinggal para elf, namum kota itu merupakan pusat pemerintahan kerajaan elf. Ellmiore berada di paling ujung dunia sebelah timur, tempat itu berada di tengah-tengah hutan yang sangat lebat. Asal kalian tahu saja Ellmiore penuh dengan kekuatan magic yang barbahaya sehingga tidak banyak elf biasa ataupun makhluk lain yang dapat menembus hutan itu. Elf yang tinggal disitu merupakan elf yang mempunyai tingkat kekuatan magic yang sangat tinggi satu lagi kekuatan yang dimiliki kota itu pohon-pohon yang ada di sekitar situ bisa berbicara dan bergerak seperti mempunyai kehidupan sendiri.
Hiroto POV END
Tak terasa hari sudah sudah mulai gelap akhirnya saga dan hiroto pun berpisah kembali ke rumah masing-masing.
Di tengah perjalanan saga tersenyum – senyum sendiri mengingat kejadian tadi akhirnya setelah sekian lama akhirnya dia mempunyai teman yang mau mengerti dirinya.
Tanpa sepengetahuan pemuda cantik itu sepasang mata yang terlihat kejam sudah mengintai sejak tadi seringaiannya pun keluar.

*******






...
TO BE CONTINUED


0 shouts:

Post a Comment