Thursday, December 29, 2011

Zephyris Village - III

General :
Title - Zephyris Village
Chapter - III
Pairing(s) - over all Tora x Saga, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)

  1. Hihara Nobu
  2. Pui (Azura)
  3. Hotaru Miyawaki
Note :
  1. So, ini adalah fanfic berantai dimana kita bisa menulis sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya. Kita memulainya lewat facebook dan masih berlanjut sampai sekarang (makanya mau dipisahin per-chapter saja) XD I decide to repost this from facebook notes into my blog karena sayang kalau cuma disimpen disana, kan lebih enak kalo berbagi X3
  2. Demi alasan originalitas gak ada edit mengedit di repost-an ini, tenang aja XDD
  3. Oh iya, untuk yg berminat ikut gabung dan melanjutkan fanfic ini, silakan hubungi saya, my facebook name is Hotaru Miyawaki, jangan ragu2 kita bisa have fun bareng2 kan? X3b
Disclaimer : the visual key boys ain't ours, but think a hundred of times first if you want to copy this work of fiction because this is a story written by a lot of people with a lot of ideas.


Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪

Previous Chapter : Chapter I - Chapter II





Zephyris Village
Chapter III

Kalau kau menerkanya, mungkim kau sudah tahu siapa yang mengintai Saga. Ah, tapi Saga tak pernah memperhatikkan hal macam itu. Insting perinya tak selalu bergerak setiap saat, Saga mengulang-ulang setiap lembar ingatannya. Ah, ya setiap mengingat para elder dan juga trio itu tadi membuat pikirannya agak jengah.

Bagaimana tidak? Boleh dikatakan ini adalah sebuah rutinitas—hal yang selalu dia alami tiap hari, ah tidak. Kali ini lebih buruk, maksudku memangnya apa yang lebih buruk selain diinterogasi paksa untuk sebuah hal yang tak pernah ia lakukan? Tambah lagi kesialan Saga hari ini. Kendati demikian, elf berambut cerah tadi sedikit mengimbanginya.

Saga merasa ini sangat wow, luar biasa.

Sadar atau tidak dia memang mulai sedikit tergelincir kedalam pemikirannya tentang Hiroto. Saga melanjutkan langkah kakinya—pulang menuju rumah dan mungkin akan sedikit mengumbar cerita tentang teman barunya tadi. Dia akan membuktikan pada Ibunya, bahwa dia sama seperti yang lain. Bahwa dia tidak berdosa hanya karena darah campuran itu, bahwa dia masih bisa punya kesempatan.

“Berbeda denganmu,” Saga ingin sekali mematahkan kata-kata Ibunya itu.

Kakinya menyusut langkah pelan, ketika batu besar depan rumahnya mulai terlihat dia baru bisa mengembuskan nafas lega. Rumahmu adalah surgamu, ya rumah Saga memang bukan sebuah istana mewah atau tempat yang memiliki banyak kolam air mancur seperti milik dewa-dewa tapi setidaknya cukup nyaman—tak akan ada yang mengejeknya.

Desau dua suara yang terlibat dalam sebuah pembicaraan tiba-tiba berdengung di telinganya.

Siapa?

Itu adalah pertanyaan paling tepat untuk Saga. Selama dia tinggal di rumah kecil yang sederhana ini tak ada yang mau bertandang ke rumahnya kecuali para Kalderoi atau beberapa Elder—untuk alas an yang tidak menyenangkan pula. Namun, sekarang nampaknya ada sesuatu yang berbeda.

Adalah Ibunya dan seorang yang tak ia kenal tengah berbincang, saling lempar kalimat dalam tawa. Saga tak bisa menerka, dia tak tahu siapa-siapa disini kecuali Ibunya. Ini aneh, sungguh! Hari ini dia menemukan dua orang yang berbeda.

“Saga? Kau kah itu?” Sial. Ibunya merasakan keberadaan Saga.

“Ya!” Saga hanya berseru saja, dia merasa enggan untuk masuk dan bergabung dengan orang asing itu.

“Masuklah! Ingat apa kata-kataku?”

“Iya Bu!”

Saga membuka pintu dan sekarang dihadapannya nampak jelas, siapa yang tengah berbicara dengan Ibunya.
Bukan elf.

Ujung telinganya tak runcing dan dia tak bisa merasakan hawa peri di sekitarnya. Manik matanya berwarna biru—namun cerah. Ketika melihatnya, pikiran Saga pasti akan melayang kepada warna lautan.

Dahi Saga berkerut-kerut, “Anda siapa?”

Orang asing itu sedikit menyunggingkan bibirnya—menyeringai. Pria dihadapannya ini enggan berkata-kata, bisu? Tak mungkin. Jelas dia bisa mendengar tertawaan renyahnya barusan.

“He—“
“Hai, kau pasti yang bernama Saga,” bukannya menjawab, orang asing itu malah menganggap perkataan Saga bagai senyap. Saga mengangguk, ada dua orang yang bertanya perihal namanya hari ini.

Saga menengok ke belakang sekedar memastikan kemana Ibunya pergi, ah sial. Ibunya pasti pergi keluar untuk mengambil beberapa bahan makanan yang biasa di titipkan di rumah tetangga jauhnya, Saga tak bisa berlama-lama dengan orang asing. Dia tak suka.

Tak ada aroma yang tercium dari pria itu, manusia kah dia? Saga tak tahu. Wajahnya tampan terutama bola mata lautan itu. Wajahnya itu terlihat ramah dan sederhana dengan beberapa helai rambut berwarna cokelat yang jatuh di keningnya, untuk beberapa saat Saga memang terpesona.

***


“Kulitmu sangat pucat untuk ukuran elf,” kata-kata itu keluar begitu saja.
Saga tertegun, “Memangnya kenapa? Kau juga pasti tahu kalau—“ tunggu. Ekspresi macam apa itu? Saga bertanya dalam pikirnya. Pria ini sama sekali tak menyeringai atau setidaknya berwajah ya-aku-tahu.
“Kalau kau?”
“Ti-tidak. Lupakan,” dia tak mengetahui apapun tentangku, dia bukan elf! Runtuk Saga gemas pada dirinya sendiri. “Lalu…kenapa kau tahu namaku?” gigi Saga sedikit bergemeletuk.
“Ibumu yang bilang, dia punya seorang putra bernama Saga. Ah, yak au pasti bingung kenapa aku ada disini, padahal aku bukanlah elf,” Pria ini seolah membaca pikirannya dengan lancaran, layaknya alkitab yang biasa dihafal para elder. “Namaku Shou,” uluran tangan yang terlihat ramah menyambut Saga.
Ditatapnya balik pria itu, keraguan kembali menyeruak.
“Kau…apa?”
“Eh? Maksudmu?”
“Kau ini apa? Manusia?”
Pria itu terkekeh, menimbulkan suara yang renyah. “Aku tak bisa mengatakannya jika kau masih tetap berdiri disana dengan pakaian kotormu,”
Ah sial. Saga baru ingat bahwa tadi dia jatuh dan kini pakaiannya penuh noda tanah yang bukan sekedar bercak. Untuk beberapa alasan, kulit wajah Saga sedikit memerah kembali. Lekas Saga berjalan dan mengganti pakaiannya, lalu kembali ke tempat makhluk yang berjudul Shou tadi. Ketika Saga datang, Shou tengah memandang ke luar jendela.
Saga berdehem sekedar untuk mengalihkan perhatian Shou.
“Hei, katakan kau ini apa?” dengan nada yang sama Saga bertanya.
“Yakin ingin tahu? Aku khawatir kau akan berteriak dan menyangkal,”
“Katakanlah, aku tak bisa membiarkan orang asing berkeliaran disini,”
“Wow… benarkah? Baiklah, asalkan jangan teriak,” Shou mengambil langkah mendekati Saga. Astaga, pria itu memang tampan. Saga ingin sekali mengutuk dirinya saat itu juga.
“Aku… putra dari Archangel,”
Saga tersedak, udara-udara yang dihisapnya bak merajang paru-parunya. Putra Archangel? Saga ingin sekali menyangkal tapi dia tak punya bukti lagipula ia tak tahu menahu soal dunia luar apalagi mengenai kehidupan para Archangel. Entah dia putra dari Raphael, Uriel atau siapalah yang jelas Saga merasa kalau dia tengah dihadapkan pada situasi yang sama ketika dia bersama Aoi dan yang lainnya tadi. Ingin percaya namun sulit.
“Tidak apa-apa kalau kau tidak percaya, aku hanya sedang lewat ke gunung Crux. Sebenarnya aku dari beberapa hari yang lalu tinggal di kota,”
“Untuk apa?”
“Hm? Aku hanya ingin saja,”
Kalau dia manusia Saga masih bisa mempercayainya tapi kalau dia mengatakan bahwa dia adalah mungkin salah seorang putra dari ketujuh Archangel itu, lain persoalan. Archangel bukanlah sebuah suku, Archangel adalah penghulu angel yang disegani. Mereka adalah berpangkat tinggi dan tak sepantasnya berada di lereng gunung terisolir seperti ini.
“Apa kau putra Lucifer?” karena Saga merasa bahwa pria ini sama sekali tak memiliki niat buruk padanya. Apabila dia bukan putra Lucifer tentunya Saga akan tewas detik itu juga, dia adalah setengah demon. Kenyataan paling pahit yang mau tak mau harus dia bopong sedari lahir.
“Bukan, aku putra dari Chamuel,”
Saga tersedak lagi.
“Tenanglah, aku ini hanya putranya. Selebihnya aku normal, kau tak harus khawatir dan tak usah sungkan padaku, oke?” Shou tersenyum, dan itu sedikit membuat Saga diliputi rasa keheranan lagi.
Tadi elf muda dan sekarang putra Chamuel? Memangnya Saga itu seorang yang sangat terkenal sampai-sampai dia harus bertemu dengan putra Chamuel?
Untuk beberapa alasan, Saga mempercayai Shou. Dia tahu bahwa hanya makhluk-makhluk yang memiliki kekuatan dan ilmu sihir yang tinggi lah yang dapat mengelak dari insting peri, dan Shou memilikinya. Namun Saga jelas tak tahu apa alasan Shou singgah di rumahnya dan juga bahwa kemampuan Shou yang dapat mengelabui insting peri bukan didapatnya dari Chamuel, melainkan karena alasan lain.
Kau masih ingat bukan, Shou adalah salah satu pangeran penjaga gerbang neraka.
Leviathan.





*-*-*-*




Well, mau tidak mau Saga harus bisa percaya pada makhluk asing di rumahnya ini, lagipula tadi ibunya tertawa begitu bebas dengan Shou jadi kenapa ia harus begitu khawatir? Setelah makan malam Saga sama sekali tidak tertarik melanjutkan pembicaraan dengan ibunya ataupun Shou, jadi dia naik menuju kamarnya dan mencoba untuk tidur karena besok adalah hari yang paling ditunggunya setiap minggu, kelas ramuan.

"Aku berangkat dulu bu..."
"Hati-hati di jalan, jangan bolos lag4, ibu sudah bosan dipanggil para elder gara-gara ulahmu.."
Saga hanya memutar matanya kemudian pergi. Jarang sekali melihat saga sudah bangun sebelum kelas pertama di perguruan mereka dimulai. Biasanya ibunya akan berteriak beberapa kali sampai Saga bisa terbangun dan berangkat ke sekolah, itupun dengan bermalas-malasan. Tapi karena hari ini akan ada kelas ramuan Saga menjadi sedikit lebih bersemangat. Bukan hanya mempertajam indera dan mahir mengaplikasikan sihir, Elf juga harus bisa membuat ramuan dan mengenali racun. Dan bukannya sombong atau apa, ramuan adalah pelajaran yang paling dia kuasai.

Pengajar kelas ramuan bukanlah Elder seperti kelas-kelas yang lain, mungkin dia akan terlihat serupa dengan para elf yg ada di desa ini, tapi kalau kau perhatikan baik-baik telinganya tidak runcing seperti para elf, manik matanya juga berwarna cokelat tidak seperti elf pada umumnya yang manik matanya abu-abu atau biru yang sangat pucat. Namanya Kai Yutaka, tapi dia selalu meminta dipanggil Kai, tanpa embel-embel apapun juga. Dia memang bukan elf, dia manusia, tetapi dari bangsa dunedain, keturunan dari numenor yg dianugerahi umur panjang seperti elf.


Kenyataannya Saga tidak bisa memasak. Setiap kali ia menyentuh dapur, ia setidaknya akan membuat sebuah panci menjadi gosong, atau membuat tungku nyaris terbakar. Ibunya selalu melarangnya mendekati dapur—apalagi jika sang ibu tengah memasak. Tapi, dalam kelas meramu, yang juga membutuhkan tungku dan sebuah guci tanah liat untuk memasak, secara mengejutkan Saga sangat handal. Jika murid lain membutuhkan sekitar dua jam untuk membuat sebuah ramuan atau racun, maka ia akan menyelesaikannya hanya dalam waktu satu jam. Tidak hanya cepat, namun Saga sangat lihai mencampuradukkan bahan dengan proporsi yang sangat tepat yang membuat semua ramuannya berhasil. Hal ini membuat Kai, pengajar kelas ramuan yang penuh senyum dan merupakan satu-satunya manusia keturunan numenor yang tinggal di Zephyris, sering merasa kagum padanya.

Dan di hari itu, Saga datang sangat pagi ke perguruan karena mimpi yang ia alami semalam. Di mimpinya, muncul kembali sosok manusia berbadan tinggi tegap dengan kulit putih dan rambut hitam pekat dan berkilau. Lelaki itu hanya berdiri, memunggunginya, ditengah sebuah hutan yang penuh dengan pohon mapple yang berubah warna menjadi merah api ketika musim gugur. Tidak jelas bagaimana wajah lelaki itu ketika menoleh karena angin berhembus sangat kuat membuat dedaunan yang seperti terbakar dari pohon mapple itu berguguran diantara mereka, namun Saga mengingat jelas di kepalanya kedua mata emas dan pupil sabit seperti harimau liar yang menatapnya dengan sangat dingin, membuat Saga tidak bisa bergerak dan bahkan dalam tidurnya, jantungnya berdegup sangat kencang. Mungkinkah dia adalah imago yang ditemuinya di hutan itu?

“Racun untuk imago?” Tanya Kai ketika Saga menghampirinya dan mengatakan apa yang ia inginkan darinya. “Memangnya untuk apa?”
“Aku ingin berburu imago.” Jawab Saga.
“Tidak.” Kai menggelengkan kepalanya. Wajahnya yang penuh senyum kini berubah serius. Berburu imago bukanlah hal yang salah, bahkan sebaliknya. Tapi memiliki rancun? Tidak. “Kau masih belum legal untuk memiliki racun.”
“Kumohon? Tidak harus racun—mungkin obat tidur lebih baik. Aku tidak pandai dalam hal bela diri. Aku hanya bisa memanah, tapi aku tidak bisa membunuh.” Ujarnya memelas. “Aku ingin—”
“Kau ingin menangkap imago dan diakui oleh penduduk desa?” Potong Kai.

Saga hanya diam dan itulah yang ia suguhkan untuk Kai sebagai jawaban. Kai mendesah. Ia beranjak dari mejanya dan mengajak Saga masuk ke dalam ruangannya yang penuh dengan ramuan-ramuan buatannya sendiri. Belum pernah sebelumnya ia masuk ke dalam ruangan di bawah tanah yang seperti gua itu, yang terlihat berwarna-warni oleh ramuan-ramuan Kai. Ia duduk di sebuah kursi dan menunggu Kai yang sedang memindai rak-rak ramuannya. Ketika sang pengajar itu menemukan apa yang ia cari, ia segera kembali menghampiri Saga dan memberikan botol bening dengan cairan berwarna hijau menyala itu padanya.

“Ramuan ini cukup pekat.” Ujarnya menjelaskan, ketika Saga mengambil botol itu. “Imago adalah makhluk yang sangat kuat, sehingga tidak akan mempan bila meminum obat tidur biasa. Jadi kukira ramuan ini yang paling tepat untuk mematahkan pertahanan mereka dari jarak dekat—seperti obat bius, mereka akan jatuh tertidur. Kau bisa langsung menyiramkan isinya ke imago yang kau incar, mencampurkannya ke makanan mereka, atau melumurinya di ujung anak panahmu jika kau ingin menyerang dari jarak jauh.”

Saga memandang kagum pada warna menyala dari ramuan itu. Mendengar penjelasan Kai, ia mengangguk mengerti.

“Tapi kau harus ekstra hati-hati menggunakannya. Jika bukan imago yang terkena cairan ini, dia akan mati.” Nada suara Kai semakin serius. “Elf tidak terkecuali.”
“Aku sebenarnya... tidak ingin menggunakan benda ini.” Ujar Saga dengan jujur, membuat Kai sedikit mengernyit karena heran. “Ini hanya untuk berjaga-jaga. Kau tahu, mempertahankan diri. Tapi walaupun begitu, aku tidak ingin melukai siapapun—apapun.”

Masih tidak mengerti, Kai hanya terdiam memandang murid didikannya itu. Untuk ukuran darah campuran yang dibilang sangat kotor seperti yang digembar-gemborkan oleh penduduk desa, Saga sangat, sangat jauh dari sifat jahat yang biasa dimiliki oleh para demon—atau setidaknya, inkubus. Saga seperti malaikat, ia tidak pernah memiliki maksud buruk didalam benaknya, dan sebagai satu-satunya manusia yang tinggal di desa sekecil Zephyris, Kai bisa menilai dengan baik.

Senyuman ramah Kai kembali terlihat di wajahnya.

“Sekarang kembali ke luar, kelas akan segera dimulai.” Ujar Kai. Ia menyilakan Saga berjalan keluar dari ruangan itu lebih dulu, lalu menguncinya kembali sesampainya mereka di ruangan kelas.

Beberapa peri muda sudah berada didalam kelas dan duduk di tempat mereka masing-masing. Tapi seperti biasanya, tidak ada yang mau berbagi meja dengan Saga, sehingga ia harus mau duduk sendirian di sebuah meja panjang dari batu yang seharusnya digunakan oleh dua orang murid. Bagi Saga, hal ini sudah biasa. Lagipula, dia akan menangkap imago. Jika ia berhasil menangkap satu saja, maka harapan agar suatu saat peri-peri disekitarnya ini mau menerimanya akan terwujud. Benar, kan?

“Apakah kalian sudah membawa daun athelas dan akar valerian seperti yang aku perintahkan kemarin?” Tanya Kai didepan kelas.

Semua peri mengeluarkan bahan-bahan itu dari dalam tas mereka, begitu pula dengan Saga. Suasana kelas sangat tenang dan sejuk karena belum ada satupun tungku yang apinya dinyalakan. Setelah semua bahan siap diatas meja, Kai mulai menjelaskan kegunaan dari bahan-bahan yang akan mereka gunakan hari itu, tidak terkecuali kontra indikasi dan lain sebagainya. Ketika tengah menjelaskan dengan asiknya, Kai diinterupsi oleh sosok yang tiba-tiba muncul didepan pintu sambil terengah-engah; dia seperti baru saja berlari mengelilingi Zaphyris empat atau lima kali putaran.

“Hosh.. Hosh.. Maaf aku terlambat! Hosh...” Elf muda berambut pirang terang itu membungkuk, tangannya menyangga tubuhnya, dan ia banyak berkeringat.
“Bukankah kau murid tingkat dasar?” Tanya Kai padanya sembari menutup buku.
“Elder bilang aku boleh mengikuti kelas ini karena... hosh... aku sudah mendapatkannya di Ellmiore.” Nafasnya mulai kembali normal. Mendengar kata Ellmiore disebut, Saga yang awalnya berkonsentrasi pada bukunya kini mengalihkan pandangannya kedepan kelas.
“Baiklah, masuk kalau begitu,” Ujar Kai, mempersilakan elf itu masuk.

Saga nyaris melongo tak percaya melihat siapa yang masuk kedalam kelasnya pagi itu.

“Hiroto...” Ia berkata, nyaris berbisik pada dirinya sendiri.
“Ah, Saga!” Hiroto melambaikan tangannya pada Saga, membuat semua mata elf didalam kelas itu tertuju padanya; bahkan Kai tidak terkecuali.

Mereka melongo tak percaya sama sepertinya. Elf-tingat-dasar ini mengenal elf-setengah-inkubus itu? Tidak mungkin, pikir mereka. Tapi kenyataannya, Hiroto berjalan mendekati Saga dan duduk di meja yang sama dengannya. Untuk sekian tahun meja itu selalu kosong, Hiroto adalah orang pertama yang mengisinya dan lebih buruk lagi, mereka berdua seperti sudah lama saling kenal.

“Aku tahu kita akan sekelas!”


*-*-*-*-*



...
TO BE CONTINUED

0 shouts:

Post a Comment