Title - Zephyris Village
Chapter - IV
Pairing(s) - over all Tora x Saga, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)
- Hotaru Miyawaki
- Hihara Nobu
- So, ini adalah fanfic berantai dimana kita bisa menulis sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya. Kita memulainya lewat facebook dan masih berlanjut sampai sekarang (makanya mau dipisahin per-chapter saja) XD I decide to repost this from facebook notes into my blog karena sayang kalau cuma disimpen disana, kan lebih enak kalo berbagi X3
- Demi alasan originalitas gak ada edit mengedit di repost-an ini, tenang aja XDD
- Oh iya, untuk yg berminat ikut gabung dan melanjutkan fanfic ini, silakan hubungi saya, my facebook name is Hotaru Miyawaki, jangan ragu2 kita bisa have fun bareng2 kan? X3b
Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪
Previous Chapter : Chapter I - Chapter II - Chapter III
Zephyris Village
Chapter IV
“Ikut!” Hiroto nyaris berteriak dengan semangat, membuat Saga nyaris terlonjak kaget. “Aku juga ingin menangkap imago!”
Siang itu setelah semua kelas selesai, Saga dan Hiroto berjalan menuju tempat yang sama dengan tempat dimana mereka bertemu kemarin. Hiroto yang sedari tadi mengeluh karena jebakannya tidak berhasil menangkap apapun membuat Saga yang jarang merasa terhibur bisa tersenyum dengan lepasnya. Ia kemudian menceritakan tentang keinginannya untuk berburu imago, mimpinya semalam, serta kesiapannya meninggalkan Zephyris dan ibunya demi berburu imago demi mendapatkan kepercayaan dari penduduk desa bahwa ia adalah elf biasa; minus bagian dimana ia ingin menemukan sang Harimau Putih lebih spesifiknya, minus bagian dimana sebenarnya ia memiliki ramuan itu.
“Tapi kau terlalu muda...”
“Umurku bahkan lebih tua daripada umur manusia biasa yang sudah dewasa.”
“Tapi...”
“Ayolah, Saga!” Hiroto memohon. “Aku bisa sihir—walaupun masih tingkat dasar, tapi aku bisa membantu! Aku pindah kemari karena di Ellmiore sangat membosankan! Maksudku—saking saktinya kota itu, tidak ada imago—atau makhluk jahat lainnya—yang bisa menembus pertahanannya. Aku ingin—”
“Baiklah, baiklah!” Potong Saga. “Tapi aku tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab atas keselamatan kita.”
“Aku bisa membantu,” Tambah sebuah suara.
Saga dan Hiroto terdiam karena kaget. Suara itu nyaris menggema dari atas—seperti langitlah yang berbicara pada mereka—tapi tidak, mana mungkin itu terjadi. Mereka berdua mengadah melihat pepohonan dan tidak menemukan siapapun disana. Tiba-tiba, seseorang terjun dari atas sebuah pohon yang sangat tinggi dan mendarat tepat didepan mata Saga dan Hiroto.
Saga mendesah lega sekaligus merasa jengkel, sedangkan Hiroto, ia tertegun melihat lelaki jangkung yang berdiri didepannya itu.
“Siapa kau?” Tanya Hiroto.
“Hey, santai saja, aku tidak akan memakanmu.” Lelaki itu tersenyum pada Hiroto, sembari ia menunduk dan mendekatkan wajahnnya ke elf muda itu. Wajah Hiroto merah padam karenanya, karena kedua mata biru laut yang dimiliki lelaki itu terasa menenangkan, namun Hiroto tidak malu apalagi sungkan untuk menunjukan rona di wajahnya. “Kalian butuh orang dewasa untuk mendampingi perjalanan kalian, kan?”
Saga memutar matanya.
“Tapi kau bukan elf!” Sahut Hiroto. Lelaki itu hanya tertawa mendengarnya.
“Aku bukan elf tapi aku bisa lebih kuat daripada elf manapun, bahkan rajamu.” Lelaki itu menaikkan kedua alisnya.
“Hentikan celotehanmu itu, Shou.” Potong Saga, membuat Shou, lelaki itu, mengalihkan perhatiannya pada elf berambut cokelat itu. “Kukira kau sudah kembali ke tempatmu semalam.”
“Kau mengenalnya?” Tanya Hiroto agak kaget.
Tapi Shou hanya terkekeh dan mendaratkan telapak tangannya diatas kepala Hiroto, lalu mengusapnya dengan cukup kasar namun lembut, membuat rambut pirang terang elf muda itu berantakan karenanya.
“Hey!” Hiroto berusaha menjauhkan tangan Shou dari kepalanya.
“Aku bilang aku sedang jalan-jalan di sekitar Gungung Crux, kan? Bukankah secara tidak langsung aku berkata ‘aku sangat bosan berada dirumah sehingga aku ingin berpergian kemanapun asal aku tidak berada di tempat asalku itu’?” Shou tersenyum, pada Saga, lalu pada Hiroto. “Aku akan bertanggung jawab atas keselamatan kalian, tenang saja. Jika kau bersamaku, Saga, ibumu tidak akan berceloteh yang aneh-aneh, iya, kan?”
Saga menyipitkan matanya menatap Shou. Senyuman yang terlihat ramah itu sangat meyakinkan, tidak diragukan lagi. Dan Saga, ia tidak bisa tidak mempercayai Shou. Karena Shou terlihat sangat kuat; ia berjalan-jalan di desa elf tanpa dirasakan auranya, membuat ia tidak dicurigai apapun. Siapa yang tahu apakah dia baik atau jahat? Tapi sekali lagi... Saga percaya...
Dan tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah kenal dengan Shou selama lebih dari dua belas jam, ia tersenyum. Dan Shou menangkapnya sebagai sinyal bahwa ia bisa ikut dalam perjalanan dua anak peri ingusan ini mencari imago—atau khayalan mereka. Jika Shou berkata akan bertanggung jawab atas keselamatan mereka, bukanah seharusnya Saga berterima kasih?
Atau setidaknya seperti itulah yang dipikirkan oleh Saga. Ketika ia membalikkan badannya, seringai Sang Pangeran mulai terlihat.
“Tapi... aku tidak tahu dimana kita harus mencari imago.” Ujar Saga lirih, ketika mereka bertiga mulai berjalan meninggalkan Zephyris.
“Aku tahu!” Hiroto mengangkat tangannya. “Dalam perjalanan menuju Zephyris dari Ellmiore, aku dan ayahku sempat singgah di sebuah kota besar manusia. Kotanya sangat beeeeessar dan disana sangat ramai! Kata ayahku, ia bisa merasakan bahwa disana aura imago sering muncul.”
“Hm?” Saga mengernyit tidak mengerti. “Dimana itu?”
“Sebuah kota manusia bernama Akropotamia!”
Saga menoleh kebelakang, kearah Shou, tidak berkata maupun bertanya apa-apa, namun Shou mengerti. Ia mengangguk, lalu Saga kembali menghadap kedepan.
“Baiklah. Kita menuju Akromaniminia.”
“Akropotamia.” Koreksi Shou.
“Akro-terserah.” Saga menggigit bagian dalam pipinya, gemas.
“Yosh! Ke Akropotamia!” Hiroto meninju udara dengan tangannya yang terkepal, penuh semangat.
Sebuah kekehan kecil yang terdengar seperti berbaur dengan angin tak tertangkap oleh indra peri Saga maupun Hiroto yang sibuk tertawa. Namun, ada satu hal yang pasti dibalik kekehan kecil itu yang tidak mereka ketahui.
Leviathan telah mendapatkan hiburan yang dia inginkan.
*********
“Hey, anak-anak,”
Saga dan Hiroto menoleh ketika Shou memanggilnya dari kejauhan. Cukup lama mereka berjalan ternyata Shou tidak ikut bergerak. Hiroto dan Saga saling pandang lalu secara bersamaan pula mereka menggertakkan giginya.
“Hey, Shou! Bukannya kau akan menemani kami?” seru Hiroto nyaring.
Shou tersenyum tipis, dia berjalan sembari merapikan beberapa helai rambutnya yang mulai menghalangi pandangannya. Saga tahu bahwa Shou adalah orang yang misterius—meski tidak se-misterius lelaki harimau itu, Saga tak tahu ada apa di balik senyuman Shou yang selalu terlihat menawan meski terasa janggal.
“Saga, tidakkah seharusnya kau mengucapkan salam perpisahan pada Ibumu?” Shou berjalan mendekati Saga.Salah satu hal yang juga terasa aneh, langkah kaki Shou jelas terlihat lambat tapi mengapa dia tahu-tahu sudah berbicara di depan hidung Saga seperti sekarang ini?
Jangankan Saga—yang memang sangat polos atau entah gampang percaya pada orang baru, Hiroto pun merasa bahwa Shou bukanlah orang biasa. Mungkin saja bukan orang! Ilmu penginderaan dari Ellmiore cukup mampu menembus aura milik Shou meski hanya sejumput—ah tidak barangkali hanya setitik debu saja namun terasa.
Shou memang bukan Elf, tapi Hiroto pun tak bisa menebak jelas siapa sebenarnya Shou. Hiroto mencoba tak memikirkan Shou terlalu dalam karena pemuda itu seperti tahu akan apa yang berputar di dalam isi kepalanya. Tiap kali Hiroto muali menerka siapa Shou, tiba-tiba saja pandangan biru laut itu tertuju padanya.
Hiroto, untuk beberapa saat dia merasa punya saingan baru dalam arena permainannya ini.
“A-aku…” Saga menunduk. “Aku tak tahu…menurutmu aku harus bilang?” ucap Saga terbata. Hiroto dan Shou, memandang Saga dengan tatapan penuh simpati yang tentu saja—bohong.
“Itu tergantung padamu, Saga,” suara lembut Shou menyapu indera pendengarannya.
“Aku rasa… tak usah,” Hiroto berucap, dia bisa merasakan pandangan Shou kembali terarah ke wajahnya. Jangan berpikir! Itulah yang muncul di benaknya. “Tulis saja surat, katakana padanya bahwa kau akan mencari jati dirimu atau apalah, karena kalau kau menemuinya dia pasti akan mengekangmu lagi,”
Saga menghela nafas panjang meskipun kegalauan merongrong paru-parunya. Pupil matanya bergerak—menatap Shou dan Hiroto bergantian, lalu dengan mantap ia berkata “Baik, ayo lanjutkan, kita bergerak ke Akropotamia,”
“Dan bersyukur juga karena kau bisa mengucapkan nama kota itu dengan benar,” Shou tertawa kecil—menyeringai dan menggoda Saga.
Saga hanya memanyunkan bibirnya dan mencoba menggubris segala tingkah laku Shou ataupun Hiroto yang sama sekali sedikit asing baginya. Shou yang selalu menggoda dan Hiroto yang selalu bersemangat, layaknya Hefaistos ah jangan, jangan sampai si elf muda ini berujar bahwa dia adalah Hefaistos. Saga bisa gila mendadak.
“Eh tapi Shou, kita tak bawa bekal,” ucap Saga.
“Kalaupun pulang ke rumahmu memang kita mau bawa apa? Aku tahu betul kondisi keluargamu,”
Rasa bingung bak menggerayangi pikirannya lagi, ah Shou! Dia memang selalu mengatakan apapun di bagian yang-sudah-terlanjur. Sedikit geram, Saga mengadu pandang dengan Shou yang masih memamerkan senyum mutiara miliknya.
“Lalu bagaimana? Aku tak mau kita mati kelaparan. Aku juga tak bisa makan dedaunan yang asal temu saja,” Hiroto ikut mengomel, nadanya sedikit merajuk.
“Tenang saja, serahkan padaku. Kalian pikir apa gunanya aku disini?” Shou mengangkat kedua alisnya lagi. Saga hanya iya iya saja, memangnya apalagi yang sebaiknya dia lakukan? Tak mungkin dia kembali pulang dan menapak ulang jejaknya. Dia harus mempercayai Shou, dia adalah putra Chamuel, pikir Saga. Chamuel akan selalu melindungi dan Saga pikir Shou pun begitu.
Akropotamia—sebuah kota yang sama sekali tak pernah Saga lihat atau kunjungi. Nama kota itu terasa baru di telinganya, Saga jadi mulai membuat daya imaji otaknya bergerak. Dalam pikirnya dia membayangkan Akropotamia adalah sebuah kota yang super besar seperti kata Hiroto dan disana adalah sebuah tempat yang mungkin tak akan ada seorangpun tahu bahwa dia adalah setengah incubus. Ayolah, mereka semua manusia.
“Apa Akropotamia itu jauh?” tanya Saga.
“Hmm…tergantung,” jawab Hiroto polos.
“Maksudmu?”
“Nikmati saja perjalananmu dank au akan merasa sangat sangaaatt nyaman, jauhnya tak akan terasa,” senyum Hiroto kali ini amat…misterius.
“Akropotamia itu jaraknya sedang-sedang saja, hanya saja kita memang harus turun gunung dan melewati laut sempit. Tenang saja tak usah khawatir, ketika sampai nanti kita disambut ramah kok asal jangan perlhatkan kemampuan sihir kita,” Shou menambahkan, dia sudah seperti guardian sungguhan bagi Hiroto dan Saga.
Sekali lagi, Hiroto merasa janggal. Shou tahu sampai dengan detail tentang Akropotamia? Meskipun itu adalah kota besar manusia, beberapa orang ataupun makhluk dengan kekuatan sihir tak bisa bebas masuk dan keluar dengan ringannya dari sana. Ada banyak peraturan bagi mereka yang memiliki kekuatan sihir sehingga tak banyak elf, ataupun makhluk sihir lain yang mau menginjakkan kaki mereka disana, terlalu berbelit-belit. Apalagi hanya untuk mencari Imago, sungguh keinginan yang sia-sia bagi Hiroto.
Imago bukan makhluk yang langka, namun tak bisa juga digolongkan dalam sebuah komunitas besar hanya saja Imago sulit diketahui keberadaannya. Tingkat kecerdasan mereka yang bertambah dan mulai menyaingi manusia itu menjadi salah satu faktornya, dan Saga tak tahu menahu soal itu.
Saga terlalu lama mengurung dirinya dalam sebuah lingkaran kesendirian sehingga tak ada seorangpun yang mengenalkannya tentang dunia para Imago lebih lanjut. Asal kau tahu saja, tidak semua Elder memberikan informasi dengan gamblang di jam pelajaran, mereka selalu berpesan agar siswa mereka mau menyempatkan diri untuk mencari informasi lebih dalam tentang Imago dengan mandiri.
Entah itu ikut perburuan, bertanya pada tetua di desa atau saling berbagi dengan teman satu angkatannya. Hanya saja, Saga tak pernah melakukan hal semacam itu. Dia hanya tahu dunia lewat buku dan gurunya, atau terkadang Kai dengan baik hati akan membagi ilmunya tanpa banyak omel. Tak seperti Elder yang membosankan.
Pikiran Saga kembali melayang, tiba-tiba saja otaknya mulai menggambar sepasang mata emas itu. Tajam. Menusuk. Saga merasa bahwa takdirnya memang Harimau putih itu, sebisa mungkin Saga harus mencoba untuk menggapainya dan juga menangkapnya sebagai perwujudan mimpi-mimpi siang bolong miliknya.
“Hmm…tergantung,” jawab Hiroto polos.
“Maksudmu?”
“Nikmati saja perjalananmu dank au akan merasa sangat sangaaatt nyaman, jauhnya tak akan terasa,” senyum Hiroto kali ini amat…misterius.
“Akropotamia itu jaraknya sedang-sedang saja, hanya saja kita memang harus turun gunung dan melewati laut sempit. Tenang saja tak usah khawatir, ketika sampai nanti kita disambut ramah kok asal jangan perlhatkan kemampuan sihir kita,” Shou menambahkan, dia sudah seperti guardian sungguhan bagi Hiroto dan Saga.
Sekali lagi, Hiroto merasa janggal. Shou tahu sampai dengan detail tentang Akropotamia? Meskipun itu adalah kota besar manusia, beberapa orang ataupun makhluk dengan kekuatan sihir tak bisa bebas masuk dan keluar dengan ringannya dari sana. Ada banyak peraturan bagi mereka yang memiliki kekuatan sihir sehingga tak banyak elf, ataupun makhluk sihir lain yang mau menginjakkan kaki mereka disana, terlalu berbelit-belit. Apalagi hanya untuk mencari Imago, sungguh keinginan yang sia-sia bagi Hiroto.
Imago bukan makhluk yang langka, namun tak bisa juga digolongkan dalam sebuah komunitas besar hanya saja Imago sulit diketahui keberadaannya. Tingkat kecerdasan mereka yang bertambah dan mulai menyaingi manusia itu menjadi salah satu faktornya, dan Saga tak tahu menahu soal itu.
Saga terlalu lama mengurung dirinya dalam sebuah lingkaran kesendirian sehingga tak ada seorangpun yang mengenalkannya tentang dunia para Imago lebih lanjut. Asal kau tahu saja, tidak semua Elder memberikan informasi dengan gamblang di jam pelajaran, mereka selalu berpesan agar siswa mereka mau menyempatkan diri untuk mencari informasi lebih dalam tentang Imago dengan mandiri.
Entah itu ikut perburuan, bertanya pada tetua di desa atau saling berbagi dengan teman satu angkatannya. Hanya saja, Saga tak pernah melakukan hal semacam itu. Dia hanya tahu dunia lewat buku dan gurunya, atau terkadang Kai dengan baik hati akan membagi ilmunya tanpa banyak omel. Tak seperti Elder yang membosankan.
Pikiran Saga kembali melayang, tiba-tiba saja otaknya mulai menggambar sepasang mata emas itu. Tajam. Menusuk. Saga merasa bahwa takdirnya memang Harimau putih itu, sebisa mungkin Saga harus mencoba untuk menggapainya dan juga menangkapnya sebagai perwujudan mimpi-mimpi siang bolong miliknya.
*****
...
TO BE CONTINUED
0 shouts:
Post a Comment