Thursday, December 29, 2011

Zephyris Village - V

General :
Title - Zephyris Village
Chapter - V
Pairing(s) - over all Tora x Saga, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)

  1. Hotaru Miyawaki
  2. Harucchi
Note :
  1. So, ini adalah fanfic berantai dimana kita bisa menulis sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya. Kita memulainya lewat facebook dan masih berlanjut sampai sekarang (makanya mau dipisahin per-chapter saja) XD I decide to repost this from facebook notes into my blog karena sayang kalau cuma disimpen disana, kan lebih enak kalo berbagi X3
  2. Demi alasan originalitas gak ada edit mengedit di repost-an ini, tenang aja XDD
  3. Oh iya, untuk yg berminat ikut gabung dan melanjutkan fanfic ini, silakan hubungi saya, my facebook name is Hotaru Miyawaki, jangan ragu2 kita bisa have fun bareng2 kan? X3b
Disclaimer : the visual key boys ain't ours, but think a hundred of times first if you want to copy this work of fiction because this is a story written by a lot of people with a lot of ideas.

Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪

Previous Chapter : Chapter I - Chapter II - Chapter III - Chapter IV







Zephyris Village
Chapter V


Entah bagaimana bisa terjadi, Shou dan Hiroto meninggalkan Saga sendirian dalam perjalanan mereka ke Akropotamia. Entah bagaimana pula, hutan-hutan yang dilewati olehnya itu terlihat lebih luas dan lebih rapat—dengan pohon-pohon yang luar biasa tinggi yang dedaunannya sangat lebat dan nyaris menghalangi sinar matahari untuk bisa menembus tanah—daripada yang seharusnya. Saga, matanya berkeliling, memperhatikan sekitarnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang tersesat. Zephyris jelas sudah berada jauh di belakang, namun ia sendirian, dan ia tidak tahu harus berjalan kemana.

Saga mulai panik. Ia berjalan ke arah yang tidak tentu, mencari jejak apapun yang bisa membawanya kembali ke kedua temannya itu. Kakinya melangkah semakin cepat seiring indra perinya yang terasa makin pudar, namun hingga ia lelah berlari, hutan itu seperti tidak berujung.

Diantara beberapa pohon mapple yang seperti terbakar di musim gugur, Saga yang terengah-engah mendudukkan diri . Ia mengadah, menatap langit senja yang nyaris tak lagi terlihat. Kaldorei akan segera bermunculan, dan ia sendirian di tengah hutan itu. Ia takut, ia memejamkan matanya dan tidak merasakan bahwa satu kristal air mata jatuh ke pipinya.

Ia merasa sendirian. Atau ia berpikir ia sedang sendirian.

Ketika Saga menoleh ke samping, lelaki itu sudah ada tak jauh didekatnya, membuatnya tersentak kaget dengan mata terbelalak. Lelaki itu, siapa lagi kalau bukan wujud manusia dari imago harimau itu. Mata emasnya yang tajam memandangnya, mengejeknya, meremehkannya. Saga merasa dirinya tak bisa bergerak dan sangat lemah. Kali ini wajahnya sangat jelas; hidungnya sangat mancung dan bibirnya tajam, dengan pipi agak tirus dan bahkan dengan sosok manusia berparas tampan yang dimilikinya, ia masih terlihat seperti seekor harimau liar yang terlampau berbahaya. Dan Saga merasa ia adalah korban harimau itu selanjutnya.

Semakin ia merasakan ketakutan yang luar biasa, Saga semakin tak bisa bergerak; keringat dinginnya mengucur bak air terjun keabadian ketika lelaki itu mendekatinya. Terus dan terus mendekat lalu lelaki itu berlari kearahnya dan melompat, berubah wujud menjadi harimau putih—wujud aslinya—dan menerkam elf yang malang itu bak menerkam seekor rusa yang lemah dan berteriak sekuat tenaga...

Saga terbangun dengan keringat membasahi pelipisnya, terengah-engah. Nafasnya tak teratur, pupil matanya mengecil dan kilauan merah memantul dari irisnya. Langit malam penuh bintang dan pemandangan yang indah membentang didepan matanya; sebuah selat kecil, bayangan Hiroto yang sedang melakukan sesuatu di laut sempit itu dibawah sinar bulan purnama, serta sebuah api unggun tertangkap oleh indra penglihatannya. Saga menelan ludah, ia mulai merasa tenang. Apa yang sedang terjadi?

“Kau bermimpi?” Tanya sebuah suara; suara Shou.

Dengan wajah yang sangat serius dan dingin Shou memandangnya. Ia tahu apa yang dimimpikan oleh Saga, bahwa ia memimpikan sesosok imago tertentu namun ia tidak bisa menembus mimpi yang sepertinya menyenangkan itu, dan itu membuatnya merasa jengkel. Tapi ketika Saga menoleh kearahnya, ekspresi itu seketika berubah seratus delapan puluh derajat; senyum mutiaranya mengembang dan sikap ramahnya yang hanya sebuah bualan kembali terlihat.

“Kurasa iya...” Saga menyeka pelipisnya yang basah dengan lengan bajunya. Ia sama sekali tidak berkeinginan untuk menceritakan apapun tentang mimpinya itu pada siapapun juga. “Tapi itu hanya sebuah mimpi, tidak lebih.”

Hening cukup lama. Sesekali hanya suara serangga atau Hiroto yang berteriak kesal yang terdengar diantara keheningan itu. Saga ingat mereka sudah menyeberangi laut kecil dan meninggalkan pulau dimana Zephyris berada, namun masih belum ada tanda-tanda bahwa Akropotamia sudah dekat.

“Apa Akropotamia masih jauh?”
“Tidak,” Shou menggelengkan kepalanya. “Hanya memakan waktu sekitar seperempat hari dari titik ini. Saat ini kalian butuh istirahat.”

Di telinga Saga, Shou sudah terdengar seperti kakeknya saja.

“Baik,” Saga mengangguk.

Shou masih tersenyum, keningnya sedikit mengerut. Dalam diam ia memandang api unggun itu, dan api itu tiba-tiba saja bertambah besar. Saga menyadari hal itu namun ia tidak mempertanyakannya. Pandangannya tertuju pada Hiroto yang melayangkan tangannya diatas air laut, membuat percik-percik itu naik ke atas—ia seperti sedang mengendalikan air. Hanya saja, entah apa yang terjadi, Hiroto merutuki laut itu setelahnya.

“Apa yang sedang Hiroto lakukan?”
“Berusaha mencari ikan dengan sihir-tingkat-dasarnya,” Shou menjelaskan dengan singkat. Ia terkekeh melihat Hiroto. “Anak bau kencur itu sudah melakukannya sejak tadi sore, dan sekarang nyaris tengah malam dan ia tidak berhasil menangkap satupun.”

Melihat kembali ke api unggun, tiga ekor ikan berukuran cukup besar sudah matang terbakar. Baunya bahkan sudah mengundang untuk cepat dimakan. Saga mengalihkan pandangannya ke Shou, dan menemukan Shou hanya menyunggingkan senyumnya dan tertawa kecil.

“Anak itu tidak pernah mau kalah, ya?” Ujar Shou pada angin yang berhembus.



Hiroto masih sibuk berusaha untuk menangkap ikan bahkan setelah Saga menghabiskan ikan bakarnya yang kedua. Peri muda itu benar-benar pantang menyerah, pikirnya. Atau, mungkin di Ellmiore sihir adalah sebuah hal yang sangat penting, dan jika sihirmu gagal atau dikalahkan oleh sihir lain, kau seperti akan kehilangan sesuatu seperti kebanggaan atau sejenisnya. Padahal menurut Saga, jika Hiroto adalah murid tingkat dasar, menguasai sihir belum sepenuhnya menjadi kewajiban. Bahkan sihir tidak wajib diajarkan di perguruan Zephyris.

Well, tentu saja berbeda. Ellmiore adalah ibukota kerajaan elf, kata Hiroto, sedangkan Zephyris hanya desa kecil di pelosok hutan.

Mengerutkan keningnya melihat Hiroto terus mengatakan “Air sialan!” kepada permukaan air laut itu, Saga beranjak berdiri dan menjauh dari perapian menuju ke tepian pantai. Ia kembali mendudukkan diri diatas pasir yang terasa dingin di tengah malam. Ibunya tidak pernah memperbolehkannya keluar dari rumah di tengah malam, sehingga saat itu yang bisa ia lakukan hanyalah memandang kagum pada keindahan disekitarnya. Bagaimana bisa selama ini ia begitu buta?

Angin berhembus kencang dan dingin terasa merasuk sampai ke tulang. Dibawah jubahnya, Saga mengusap kedua lengannya yang terbalut kain. Bagaimana Hiroto bisa bertahan berada diantara air dan tidak merasa kedinginan seperti itu?

“Hiroto, apa kau tidak lelah?” Tanya Saga.
“Tidak sampai aku berhasil menangkap satu ikan.” Tatapan Hiroto masih terfokus pada jemari kakinya yang terendam air laut.
“Tapi Shou sudah menyiapkan ikan bakar untukmu,”
“Aku tidak mau makan ikan itu!” Ujar Hiroto, wajahnya yang serius kini beralih ke Saga yang memandangnya dengan khawatir. “Aku tidak apa-apa. Aku akan memakan ikan tangkapanku sendiri.”
“Kau sangat keras kepala.” Saga memberi komentar.
“Bukan salahku. Perairan ini sangat bodoh. Kalau aku tidak bisa menangkap ikan disini, berarti bukan aku yang bodoh tapi airnya. Atau ikan-ikannya!” Pandangan Hiroto kini beralih pada Shou yang masih duduk didepan perapian yang cukup jauh darinya. Tapi Hiroto tahu seperti apa ekspresi lelaki misterius itu dari tempatnya berada, dan Hiroto merasa semakin dan semakin sebal karenanya.

Saga terkekeh, menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba Hiroto merasakan ombak air laut itu bergerak semakin cepat menuju ke tepian. Lalu semakin cepat, dan semakin besar, namun airnya masih terlihat tenang. Entah mengapa jantungnya berdegup sangat kencang ketika ia merasakan getaran di kakinya yang menginjak pasir laut itu. Pasir itu bergetar, ia bisa menyadarinya. Ia menyadari ada sesuatu yang salah; seperti ada yang akan datang, tapi sepertinya Saga tidak menyadari hal yang sama.

“Hiroto, ada apa?”

Hiroto hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan dari Saga itu. Ia memfokuskan indranya, merasakan setiap gerakan dari air laut yang tak bisa dibaca. Dan ketika ia memejamkan mata, ia mendengar sebuah suara erangan seperti infrasonik yang muncul dari bawah air. Dengan segera ia mengalihkan pandangannya pada Saga yang kini telah berdiri dengan tegap, yang ternyata juga menyadari hal yang sama.

Cepat-cepat Hiroto berjalan keluar dari air. Tapi belum sempat ia sampai ketepian, tanpa ada tanda apapun sesosok makhluk raksasa tiba-tiba muncul dari dalam selat sempit itu—seperti seekor belut, atau ular laut karena badannya badannya sangat panjang, namun sangat, sangat besar. Di punggungnya terdapat sirip yang sangat tajam, dan dua tanduk mencuat kebelakang dari alisnya. Dan kemunculan makhluk yang biasa disebut Unagi oleh penduduk desa itu membuat Hiroto terpatung di tempatnya.

“Hiroto, cepat keluar dari sana!” Saga berteriak, membangunkan Hiroto dari lamunannya terhadap Unagi itu.

Dengan susah payah—jalannya menjadi lambat karena seperempat bagian tubuhnya masih berada didalam air—Hiroto berusaha keluar. Tapi Unagi itu cepat. Monster yang tak terduga kemunculannya itu tiba-tiba saja sudah sangat dekat denganya dan nyaris menghantam tubuh kecil Hiroto dengan ekornya yang berduri, membuat air laut berombak secara tak teratur dan Hiroto sulit untuk menghadapinya. Tapi sebelum Unagi berhasil mendapatkan Hiroto, Saga berhasil mengambil busur panahnya dan menembakkan dua anak panah ke leher si Unagi. Monster belut raksasa itu secara spontan tersentak ke belakang, namun ia tak pantang menyerah. Hiroto sudah hampir berhasil menyentuh daratan ketika Unagi kembali menyerang.

Tapi tak disangka, Unagi itu malah menyerang Saga. Saga yang tidak siap akan serangan mendadak itu terbelit ekor Unagi yang keras seperti batu, namun sangat licin. Unagi membawanya ekornya yang membelit Saga keudara, bersiap membantingnya kembali keatas air laut karena marah—karena dua anak panah Saga itu menancap tepat di leher Unagi. Saga berteriak kesakitan, sementara Unagi menggeram marah.

Hiroto tidak mempedulikan Shou yang hanya duduk memperhatikan mereka dari kejauhan. Makhluk sialan! Hiroto mengumpati Shou dalam hatinya. Bukankah dia bilang akan menjaga keselamatan mereka sebagai penjaga mereka selama perjalanan? Mengapa sekarang dia hanya diam saja?

Saga, Hiroto berniat menjahili Saga pada awalnya. Tapi Saga telah menyelamatkannya dari Unagi itu bahkan kini ia yang malah diserang, bukan Hiroto yang sedari tadi mengumpati laut dimana Unagi itu tinggal, sehingga mau tidak mau ia berhutang padanya. Ia berlari kembali ke air, berusaha melakukan apapun agar Unagi melepaskan Saga dari lilitannya.

“AAAAARGH!!” Saga berteriak seiring lilitan itu semakin erat, membuat nafasnya sesak dan jemarinya mati rasa.
“SAGA!” Hiroto berteriak. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, lagipula ia hanya anak kecil, dan bahkan di perguruannya ia masih murid tingkat dasar. Ia mengambil dua bongkah batu yang cukup besar, dan dengan kekuatan sihir tingkat dasarnya ia melemparkan batu itu ke salah satu mata Unagi. Di udara, batu itu membesar dan melancip, dan menyabit tepat di mata Unagi, membuatnya melepaskan lilitannya dari tubuh Saga dan melemparkannya ke pantai dengan sangat keras.


Hiroto segera berlari kearah dimana Saga terjatuh, namun Saga sudah tak sadarkan diri dan nyaris kehabisan nafas. Dari ujung bibirnya, Saga mengeluargan darah, sepertinya ada beberapa organ dalam tubuhnya yang rusak setelah lilitan dan bantinga yang terlampau keras itu.

Dengan marah dan kalap Hiroto mengambil busur dan anak panah milik Saga, lalu kembali ke air. Mata Unagi itu hanya tersayat kecil dan tidak membuatnya menjadi buta, sehingga Hiroto harus berjuang lebih keras untuk membunuhnya—atau setidaknya mengusirnya jauh dari pantai. Ia menarik sekaligus dua anak panah dengan busur dan menembakkannya sembarangan—yang terpenting adalah melukai Unagi dan mengusirnya, tidak ada hal lain. Setiap kali kena atau tidak, Unagi akan menyerangnya balik, menyabitkan ekornya yang berduri secara membabi buta. Namun Hiroto yang kecil dengan lincah bisa menduk dan menghindari serangan dari Unagi itu.

Tapi sampai anak panah milik Saga hampir habis, Unagi tak juga dapat dikalahkan. Ini membuat Hiroto yang kelelahan nyaris merasa frustasi. Apa yang harus dilakukannya? Ia hanya anak kecil dan ia tak bisa melakukan apapun. Kerlingan matanya nyaris meneteskan air, dan dalam keputusasaannya, Unagi berhasil menangkapnya dengan moncongnya yang penuh gigi tajam.

“AAAAAAAAH!!” Hiroto berteriak. Pahanya tergigit oleh taring Unagi dan kini ia diontang-anting kesana dan kemari oleh moncong sialan itu. Ia bahkan bisa merasakan darah bercucuran dari pahanya, dan darahnya itu hanya membuat si Unagi semakin merasa lapar. Hiroto nyaris tidak bisa merasakan kakinya lagi, dan rasanya kaki itu akan segera putus dari tubuhnya...

Atau seperti itulah yang ia pikirkan.

Air laut tiba-tiba meninggi; semakin tinggi dan bahkan melilit Unagi itu seperti ia melilit Saga sebelumnya. Unagi itu menggeram sangat keras, terlalu keras hingga menggema ke seluruh penjuru lautan dan dipantulkan oleh pegunungan disekitar mereka. Ia melemparkan Hiroto ke pantai dan Hiroto mendarat sangat keras didekat Saga yang masih pingsan. Dengan susah payah Hiroto bangkit dan berusaha mendekati Saga yang terluka lebih parah darinya. Tapi ia tidak sanggup, sehingga ia terjatuh, dengan mata yang tertuju pada Unagi dibawah sinar bulan purnama itu.

Hiroto terkejut, sangat terkejut bahkan. Disana, ditepian pantai, Shou hanya berdiri memandang Unagi itu tanpa bergerak sedikitpun. Angin berhembus sangat kencang seperti pusaran tornado yang tak terlihat, dan air laut semakin keatas, mencekik Unagi yang notabene monster air. Bagaimana bisa? Apakah Shou yang melakukannya?

Unagi itu berhasil lepas dari jeratan pusaran air laut yang sangat dahsyat itu secara tidak masuk akal. Makhluk buas raksasa itu segera mengambil kuda-kuda, bersiap untuk menyerang Shou. Unagi itu meraung sangat keras tepat didepan Shou, membuat angin yang sangat kencang menerpa tubuh lelaki itu. Tapi Shou tetap berdiri di tempatnya, masih tidak bergerak sama sekali. Bahkan, Unagi itu terlihat seperti ragu-ragu untuk menyerangnya.

Bagaimana tidak. Begitu melihat mata neraka berwarna biru itu, Unagi itu nyaris mundur. Namun ia tetap bertekat bulat menyerang Shou yang tidak ia ketahui wujud aslinya—hingga tiba-tiba angin dan air laut yang luar biasa dahsyat berpusar diantara lelaki itu, menyembunyikannya ditengah pusaran. Air ikut bergemercik dan berombak kearah sebaliknya—menuju ke tengah laut, bukan malah ke tepiannya.

Hiroto melongo dengan mata dan mulut terbuka sangat lebar karena kaget.

Sesosok makhluk yang sama besar, atau bahkan mungkin lebih besar daripada Unagi itu muncul ketika pusaran angin itu mulai memudar—sayapnya berbentuk seperti sayap kelelawar. Di sepanjang belakang punggungnya terdapat duri yang sangat tajam, dengan moncong dan dua tanduk seperti gading mamoth di kepalanya. Badannya bersisip begitu pula kedua kakinya yang bersirip, juga kedua tangannya yang seperti tangan elang—itu seekor naga. Naga malam, berwarna biru yang sangat indah, bersinar keperakan dibawah sinar bulan purnama. Tidak diragukan lagi bagi Hiroto yang pernah menatap Shou sangat dalam, warna biru laut naga itu sama persis dengan warna manik mata lelaki misterius itu. Tapi Hiroto hanya bisa diam. Ia tak bisa bergerak.

Naga itu menyerang Unagi, meraung mengancam. Walaupun demikian, Unagi itu tetap berkeras menyerangnya dengan sangat ceroboh. Naga Biru itu dengan cepat melompat dan terbang ke udara, dan gerakannya terlalu cepat bahkan Hiroto tak bisa menebaknya. Tiba-tiba saja Unagi mengerang dengan sangat keras ketika lehernya patah dan kepalanya terlepas dari badannya yang terus menggeliat-geliat. Dengan menyedihkan Unagi itu terjembab ke air dan tenggelam.

Naga Biru itu menjatuhkan sepotong leher Unagi yang ada di genggaman tangannya ke laut sebelum kembali ke daratan. Ia mendarat tepat di tepi pantai dan tanpa ada apapun yang dahsyat seperti sebelumnya, Naga Biru itu berubah wujud menjadi sosok manusia. Bukan hanya sekedar manusia.

Ia kembali berubah menjadi Shou.

Dan Shou berjalan mendekati Hiroto yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Walaupun bisa duduk, kakinya yang nyaris putus mengkhianatinya dan terasa lebih sakit dari sekedar yang seharusnya. Ia hanya menatap dan berusaha tidak berpikir tentang Shou namun ia tidak bisa. Di perguruannya di Ellmiore, ia telah membaca buku tentang makhluk biru itu...

Shou berlutut tepat didepan Hiroto. Kedua pasang mata mereka saling memandang satu sama lain. Bagi Hiroto, semenakutkan apapun Shou, kedua mata biru laut itu tetap terasa menenangkannya. Tapi di dalam hati, ia merutuki hal itu.

“Kau... curang...” Ucap Hiroto lirih. Matanya sudah basah; ia hampir meneteskan air mata namun ia tetap menahannya.

Shou tertawa kecil. Ia duduk didepan Hiroto, dan jarak mereka tak sampai sejengkal tangan.

“Kakimu...”
“Kau curang!” Potong Hiroto, kali ini setengah membentak. Shou hanya diam menatapnya, namun senyumnya tak lekang dari wajahnya yang sangat tampan itu. “Tentu saja ikan-ikan akan segera datang padamu! Tentu saja aku akan kalah denganmu dalam hal mengendalikan laut karena kau...”

Tak sedikitpun mereka mematahkan koneksi diantara mata mereka. Dan Shou, ia mencondongkan tubuhnya kedepan hingga ia menjadi lebih dekat dengan Hiroto sekarang.

“Leviathan...” Hiroto berujar lirih, nyaris diatas sebuah bisikan.

Kembali Shou hanya memberi Hiroto sebuah tawa kecil untuk sebuah tanggapan. Senyumnya semakin lebar, salah satu tangannya mengayun dan mendarat tepat di pipi Hiroto, mengelusnya dengan lembut, membawanya lebih dekat dengan wajahnya yang dingin. Dan Hiroto tidak memberikan perlawanan sama sekali.

“Ini rahasia kita..., ok?” Ujar Shou, sebelum menghilangkan jarak diantara ia dan Hiroto dengan mencium tepat di bibirnya.

Ya, Shou mencium Hiroto, dan Hiroto memejamkan matanya, merespons ciuman itu dengan perasaan hati yang campur aduk. Hiroto bahkan berhasil meremas lengan baju Shou untuk membantunya tetap duduk seimbang. Dibawah sinar bulan, ciuman itu terus berlanjut, semakin dalam, semakin terasa indah. Bibir Shou terasa panas, kulitnya terasa panas; sedangkan dari tangan Shou muncul sesuatu yang dingin yang mengalir ke luka-lukanya seperti air dan menyembuhkan segala luka-luka parah itu, yang terasa sangat berlawanan dengan rasa panas yang ditimbulkan oleh bibirnya yang terus menciumnya semakin dalam. Dengan adanya dua rasa yang berbeda itu didalam tubuhnya, Hiroto sekamakin menikmati kebersamaannya dengan sang pangeran Leviathan.

Dengan sangat lembut, Hiroto menarik dirinya, namun tetap menjaga jarak bibirnya dengan bibir Shou hanya sejauh satu helaan nafas.

“Kau harus menyembuhkan Saga juga.” Ujarnya.
“Tentu aku akan menyembuhkannya. Tenang saja.” Jawab Shou dengan ringan, sebelum menangkap bibir Hiroto dengan bibirnya sekali lagi.


*-*-*-*-* 


Saga mengerjap-ngerjapkan matanya setelah terkena sinar matahari yang baru terbit. Tapi entah kenapa saat kesadarannya sudah kembali sepenuhnya dia tiba-tiba panik. Bukan tanpa alasan, dia panik karena mengingat kejadian semalam yang membuatnya terluka sangat parah sampai tak sadarkan diri.

Saga mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari mahluk yang membuatnya terluka itu. Tapi nihil, dia hanya menemukan dua orang sedang berdiri di tepi pantai. Shou dan Hiroto. Mereka terlihat sedang melakukan sesuatu dengan air laut di bawah kaki mereka.

Saga merasa heran. Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam? Bukankah dia terluka? Tapi kenapa dia tidak merasakan sakit barang sedikitpun?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Saga sampai Hiroto membangunkannya dari lamunannya itu.

"Saga kau sudah bangun?" tanya Hiroto.

"lihat aku berhasil melakukannya!!" lanjut Hiroto riang sambil menunjukan seekor ikan besar hasil tangkapannya.

"tapi kau tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuanku" ucap Shou tiba-tiba sambil mendekati Saga dan Hiroto.

Hiroto mengerucutkan bibirnya. Tapi terlihat rona merah dipipinya. Shou tersenyum melihatnya.

"hey Saga? Kenapa melamun?" tanya Hiroto sambil mengibas-kibaskan tangannya didepan muka Saga.

"eh maaf" jawab Saga buru-buru.

"sedang memikirkan apa?" tanya Shou dengan ekspresinya yang khas.

"bukankah kemarin malam ada unagi kesini? Dan aku terluka"

hening.

"unagi? Hahaha" Hiroto tertawa.

"tidak ada unagi disini Saga. Mungkin kau bermimpi" ucap Hiroto.

"itu tidak seperti mimpi! Aku merasakannya dan aku terluka"

"kalau itu bukan mimpi, apakah kau terluka? Kau terlihat baik-baik saja." Shou menjawab sambil tersenyum.

"benar juga" Saga memeriksa keseluruh tubuhnya dan dia tidak melihat luka barang setitikpun.

Shou dan Hiroto saling pandang, dan kemudian keduanya tersenyum penuh arti.

¤xxx¤ 


...
TO BE CONTINUED 

0 shouts:

Post a Comment