Title - Zephyris Village
Chapter - IX
Pairing(s) - over all Tora x Saga, Shou x Hiroto, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)
Notes : Buat yang mau gabung ayo dong douzo douzooo, jangan malu-malu, ikut aja
イョ━━━━ヽ(=゚ω゚)人(゚ω゚=)ノ━━━━!!
Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪
Previous Chapter : Chapter I - Chapter II - Chapter III - Chapter IV - Chapter V - Chapter VI - Chapter VII - Chapter VIII
Zephyris Village
Chapter IX
Saga mengambil gelas jus jeruknya lalu menegaknya sampai setengah, tiba-tiba Uruha melempar seringai kearahnya. Seringai yang terlihat menggoda namun berbahaya, seperti sebuah tabir yang menyimpan banyak misteri. Kira-kira seperti itu. Saga mendadak berhenti meminum jusnya, tenggorokannya serasa macet.
“U-uhm…kenapa?” Tanya Saga,
Uruha menggeleng lalu menopangkan dagunya diatas punggung tangannya. Dia memandang Saga lalu berkata, “Tak apa, sudah kubilang ‘kan? Aku suka anak-anak seperti kalian,”
“Hentikan… perkataanmu itu membuatku merinding,” Hiroto terkekeh,
“Merinding? Ow… sabar sayang, aku ini bukan hantu,” Uruha meraih dagu Hiroto lalu kembali menyeringai. Hiroto merasa geli, tidak biasanya dia disentuh orang lain selain Shou.
“Tuan Uruha,” Saga menengok, pelayan yang bernama Rui itu kini berdiri di samping Uruha dengan beberapa serbet yang dilingkarkan di tangannya. Uruha melepas tangannya dari Hiroto dan menoleh, lalu dia tersenyum.
“Kenapa Rui?”
“Tolong jangan mengganggu mereka,” ucap Rui santai lalu kembali ke mejanya.
Uruha tertawa kecil, sebenarnya dia hanya penasaran hari ini. Beberapa waktu yang lalu Uruha dijadikan sebagai pelampiasan kemarahan dari Naoki—musang itu—kalau kau masih bisa mengingatnya. Naoki berteriak padanya bahwa dia sedang sangat kesal dengan Tora, adik sepupunya. Uruha sebenarnya tida terlalu suka mendengarkan cercaan orang mengenai sahabatnya itu, tapi apa boleh buat. Kita bicara soal Naoki disini, Naoki. Seorang yang mempunyai peranan penting dalam kelompok mereka.
Satu hal yang Uruha tahu saat itu adalah, Naoki itu gampangan. Heh, dia bisa mempercayai kata-kata seorang Tora, yang benar saja. Kalau Uruha, mungkin dia akan berpikir berulang kali sampai dia benar-benar yakin. Naoki sangat kesal karena instingnya salah, well sebenarnya tidak salah. Tidak sama sekali. Kalau dia berhadapan dengan Saga, bau yang tercium mungkin akan berbeda. Serasa seperti peradanan dua jenis jus buah, bercampur aduk.
Naoki mengatakan bahwa dia bertemu dengan seekor makhluk yang mirip demon tapi mirip elf. Naoki bilang makhluk itu sangat menarik, dengan kulit pucat dan bola mata berwarna ungu serta rambutnya yang berkilau. Naoki menginginkannya—sebagai hiburan—dan Tora menghancurkan segalanya. Naoki seperti dipermalukan Tora karena kesalahannya, terlebih lagi makhluk itu ternyata memang demon. Imago tak suka berurusan dengan Demon, terutama golongan para Lilith. Mereka bisa sangat menyusahkan, dan yang Naoki temui adalah seorang Inkubus. Golongan paling menjengkelkan dan membuatmu selalu ingin membunuh mereka karena kelakuan mereka yang jahil dan diluar ambang batas. Tapi, Uruha hanya memang seringainya ketika Naoki berteriak-teriak kesal. Dia merasa tahu, siapa yang Naoki bicarakan.
Uruha ditarik paksa oleh Rui—yang mengetahui bahwa dia bukan seorang manusia.
“Tuan, sudah saya bilang ‘kan, jangan bermain-main di pub ini,” jelas Rui sedikit menggerutu.
“Apa ada aturannya?” Tanya Uruha sinis.
“Bukan, aku tidak melarang kau mau melakukan hal ini itu terserah, tapi jangan disini. Aku tak mau punya masalah dengan Byou lagi,”
“Aih, Byou. Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan sekarang,”
Rui tak menggubris perkataan Uruha, terlalu membosankan dan menghabiskan energi. Rui melihat sekelilingnya, Pub belum sepi dan mungkin tak akan pernah sepi sampai kapanpun. Hiroto dan Saga masih duduk di meja mereka dengan ekspresi canggung dan juga agak takut, mungkin mereka terbius perkataan Uruha. Seharusnya Rui menyarankan mereka keluar sedari tadi.
“Ah ya, Byou…mungkinkah dia sedang main bersama Jin?” Uruha tak suka dihiraukan, sehingga dia meraih tangan Rui lalu kembali menggodanya. Sifatnya mengingatkanmu pada seseorang bukan?
“Dia bukan tipikal orang yang suka main-main sepertimu,”
“Aww…kau cemburu?”
“Tuan,”
“Oke, oke. Aku berhenti menggodamu,” Uruha mengangkat kedua lengannya lalu meninggalkan Rui. Dia harus berbicara dengan dua anak tadi, terutama Saga. Anak yang menyembunyikan warna mata ungunya dibalik warna Cokelat.
“Tuan Uruha, sebaiknya jangan melakukan apa-apa terhadap mereka. Mereka tidak tahu apa-apa tentang dunia luar,” suara Rui masih bisa didengar Uruha meskipun mulai sedikit tenggelam diantara tertawaan dan kegilaan yag dibuat tamu lain.
Uruha hanya ingin mengajak mereka berbicara, tak lebih. Dia tahu ada seseorang yang berbahaya menemani mereka. Sihir penyamaran yang mereka berdua pakai begitu sempurna dan tak mungkin anak berambut pirang itu yang melakukannya. Tak mungkin juga Saga. Ketimbang penasaran dengan Saga, Uruha sekarang malah menjadi sangat penasaran pada orang berbahaya yang bersama mereka. Mungkin lebih menarik, atau lebih menakutkan.
“Hey, kenapa belum pulang?” Uruha kembali duduk di hadapan mereka.
“Belum ingin,” jawab Saga cepat.
“Oh?” Uruha mengangkat sebelah alisnya, “ Kalian menunggu penjaga kalian?”
“Tentu tidak!” Saga mulai menaikkan nada bicaranya lagi.
“Hehehe kau sangat lucu, Saga-chan,” Uruha membelai puncak kepala Saga lalu turun sampai ke ujung rambutnya. “Dan rambutmu sangat lembut, seperti bukan manusia,”
Saga tersentak sama seperti Hiroto. Ini hanya kebetulan, Uruha hanyalah pria yang ingin menggodanya namun dia memiliki level yang lebih parah dari Shou. Well, bagi Hiroto mereka sama saja. Bedanya Shou punya wajah yang selalu membuatnya tenang. Hiroto menengok ke samping kirinya, bola matanya bergerak mencari Shou. Pria itu tak ada dimanapun, dan Hiroto mulai sedikit cemas.
Bukan terhadap Shou, tapi terhadap dirinya sendiri.
“Hey, mau kuperlihatkan tempat bagus?” tawar Uruha penuh keramahan.
“tempat bagus?” Saga mengulang kata terakhir.
“Ya, bentuknya seperti pasar namun agak sedikit terlarang. Nama tempatnya Zacouchlaire,”
“Kenapa terlarang?”
“Karena…. Jangan bocorkan pada siapapun oke?”
Saga dan Hiroto mengangguk.
“Tempat itu adalah pasar dimana banyak sekali buku mantra, ramuan dan segala macam benda sihir dijual. Termasuk sihir hitam, karena itu dilarang,” jelas Uruha setengah berbisik.
“Bukannya disini sihir dilarang?”
“Karena itu tempat itu terlarang, hey…dianatara manusia-manusia disini, apa kalian pikir mereka semua adalah golongan yang baik? Tentu tidak, pasti ada satu atau dua atau mungkin mereka semua menaruh minat pada sihir, selain para watcher,”
Saga sangat menyukai sihir. Saga sangat suka hal baru dan dia mulai masuk kedalam perangkap Uruha, dia memandang Hiroto namun Huroto hanya mengedikkan bahunya—mengatakan bahwa dia tak ikut serta membuat keputusan. Tapi, Saga telah berjanji pada Shou untuk menunggunya dan tidak bicara dengan siapapun.
AH, sudahlah! Dia bukan seorang anak kecil! DIa sudah dewasa meskipun Uruha dan juga Shou memanggilnya anak-anak, dia butuh belajar banyak agar derajatnya bisa naik setidaknya dihadapan para penduduk Zephyris. Kai juga mungkin akan bangga apabila Saga mempelajari banyak ilmu sihir melebihi kawan-kawannya seperti Aoi, Kazuki dan juga Reita.
“Hanya sebentar ‘kan?” Tanya Saga khawatir.
Uruha tersenyum, dia seperti mendapatkan hadiah besar. Jackpot!
“Terserah kau saja, mau seberapa lama. Aku hanya ingin menunjukkannya pada anak-anak pemberani macam kalian,” lagi-lagi Uruha membali rambut Saga.
“aku rasa, aku ingin melihatnya sebentar,”
Saga mengangguk dan mulai berjingkat dari tempat duduknya menuju pintu luar bersama Uruha. Uruha baru saja berubah pikiran, dia rasa dia ingin bermain sebentar bersama anak-anak ini. Tapi, Uruha memang benar berjanji akan mengembalikan mereka berdua kepada penjaganya, dia tak mau membuat masalah yang rumit.
...
TO BE CONTINUED
0 shouts:
Post a Comment