Title - Zephyris Village
Chapter - VI
Pairing(s) - over all Tora x Saga, Shou x Hiroto, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)
Notes : Buat yang mau gabung ayo dong douzo douzooo, jangan malu-malu, ikut aja
イョ━━━━ヽ(=゚ω゚)人(゚ω゚=)ノ━━━━!!
Disclaimer : the visual key boys ain't ours, but think a hundred of times first if you want to copy this work of fiction because this is a story written by a lot of people with a lot of ideas.
Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪
Previous Chapter : Chapter I - Chapter II - Chapter III - Chapter IV - Chapter V
Zephyris Village
Chapter VI
Shou dan Hiroto memandang Saga lalu tertawa bersama, tunggu dulu... apa shou punya penyakit tertawaan menular? Cara tertawa Hiroto sekarang persis seperti Shou, sebelas duabelas! Diantara mereka pastilah terjadi sesuatu, entah apa tapi sepertinya itu merupakan hal yang besar. Dan Saga melewatkannya.
“Shou, shou,” Hiroto memanggil nama pria tinggi di sampingnya, bahkan dia melupakan si elf campuran yang sekarang mulai menjauh dari langkahnya.
“Ya?”
“Kau tidak cerita soal itu pada Saga ‘kan?”
Shou mengacak rambut Hiroto dengan lembut, membuat rambut elf itu kusut dan alisnya bertaut. “Hentikan!” seru Hiroto kesal, namun Shou hanya membalasnya dengan tertawaan ringan.
“Tentu saja tidak, anak bodoh. Kau mau dia mati karena kaget? Atau...kau mau dia membunuhku?”
“Apa dia punya dendam pribadi denganmu?”
“Ha? Mana mungkin!”
“Well, aku hanya mengatakan analisaku berdasarkan kelakuanmu,” Hiroto mengatakannya lalu bersiul-siul ringan—manis. Shou mendapat mainan lainnya, dan yang kali ini lebih menyenangkan daripada Saga. Bagi Shou, Hiroto punya banyak ekspresi sehingga dia bisa melihat lebih banyak wajah baru ketimbang Saga.
“Aku ini orang baik, ingat saat aku menolongmu?”
“Kau melakukannya dengan cara yang...eww, menggelikan!”
Hiroto tahu bahwa dia sedang berbohong dan dia tahu bahwa Shou tahu tentang itu, dia berasumsi bahwa Shou bisa menelaah pikirannya sampai dasar. Sampai kepada perasaan yang mungkin tak ia sadari, pemikiran kekanakan Hiroto itu boleh kau ikut yakini juga atau tidak, tak jadi masalah. Hanya saja, pada kenyataannya Shou bahkan tak terlalu berminat untuk membaca isi hati seseorang, dia suka misteri. Dan dia suka Hiroto yang menganggapnya lelaki misterius.
“Menggelikan? Tapi, coba kau ingat-ingat apa yang kau lakukan setelah aku menci—“
“Jangan katakan itu!” Hiroto membekap mulut Shou instan, menekan telapak tangannya ke bibir pria itu.
“Haha, kenapa? Kau malu?”
“Sudahlah! Mengingatnya saja sudah membuatku merinding!” Hiroto mendramatisir, gayanya malah mirip anak-anak pemain teater kecil di Zephyris.
“Itu karena kau tak terbiasa, mau coba membiasakannya?” Shou bergerak—memotong langkah Hiroto—lalu mencondongkan tubuhnya sehingga jarak wajah mereka tak beda jauh dengan jarak yang mereka ciptakan semalam.
Rona wajah Hiroto mendadak merah bahkan terlihat seperti akan meledak, dengan perasaan takut Hiroto mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga namun Shou tak bergeming. Ya, dia lupa bahwa kehebatan Shou berlipat-lipat diatasnya.
Satu hal yang selalu membuat Hiroto sebal, tertawaan Shou yang selalu mengisi penuh ruang otaknya.
Dia tak tahu pastinya kapan, mungkin sejak pertama kali dia bertemu dengan Shou atau mungkin setelah kejadian semalam yang membuatnya selalu ingin kembali ke tepi laut dan membiarkan Unagi meremukkan tubuhnya. Ciuman yang mengerikan, batin Hiroto. Ciuman itu seperti sesuatu yang ringan dan bahkan biasa bagi Shou, tak ada maksud apa-apa! Hiroto kesal, dia ingin sekali membanting Shou karena selalu menggodanya dari tadi pagi hanya karena ciuman bodoh itu! Ditambah lagi, dia selalu mengutuk dirinya sendiri karena respon bodoh yang dia berikan.
Semalam dia memang agak gila, berdiam diri terlalu lama di laut dan kurang tidur sehingga dia jadi ikut-ikut terbawa dalam naskah yang Shou buat. Ikut larut dalam kecupan-kecupan yang diberikan Shou semalam, bersyukur bahwa Zeus tak membiarkannya kehilangan harga diri terlalu jauh.
“Kenapa kau masih cemberut saja? Apa yang aku lakukan kemarin malam kurang bagus buatmu?” Kurang bagus? Ha, Hiroto makin ingin menendangnya.
“Hey, dengar ya tuan Leviathan. Di mulutmu itu, seperti yang aku baca di daerah asalku dulu, aku tahu jelas bahwa di mulutmu ada gerbang neraka. Itu artinya tadi malam aku..ah ini gila, aku mencium gerbang neraka? Yang benar saja,” Hiroto mengumpat,
“Hey, siapa yang bilang itu?”
“Ada di buku kok! Mana, aku ingin melihat mulutmu!”
“Haha kau ini polos sekali, Hiroto. Itu hanya kiasan, jangan percaya. Tapi kalau kau ingin jalan-jalan ke neraka dan underworld aku bisa menitipkanmu pada tuan Hades,”
“Mimpimu! Aku baru tahu kalau...pangeran Leviathan tak sepintar yang ditulis di buku!”
“Anak bodoh, bisakah kau pelankan suaramu! Saga bisa dengar! Memang sih Saga berniat menangkap Imago, tapi kalau dia tahu aku adalah Leviathan, mungkin dia akan berbalik memburuku! Aku tak mau repot,” Shou mencubit pipi Hiroto gemas lalu tertawa terbahak lagi, tambah lagi koleksi ekspresi wajah Hiroto dalam dinding memorinya.
“Aw! Lepaskan!” Hiroto menepis tangan Shou keras,
“Tunggu....ngomong-ngomong tentang Saga, dimana dia?”
Hiroto dan Shou menoleh bersamaan ke arah belakang, sosok elf bermata ungu itu sudah tak terlihat lagi. Di belakang mereka pun tak ada jejak kaki milik Saga, tak ada bau Saga yang tertangkap oleh mereka. Tak ada teriakan memanggil-manggil dari Saga, dan tak ada sahutan pula ketika mereka berdua meneriakkan nama elf campuran itu.
Oh, tidak.
Saga lenyap.
***
Saga menyeka keringatnya lagi, dia marah, kesal campur gelisah. Dia tak tahu arah mana yang harus dia ambil sekarang, dia tak pandai membaca arah Matahari. Kulit wajahnya yang pucat mulai berubah agak kemerahan karena kepanikan yang ia miliki, dia tersesat karena ditinggalkan kedua orang aneh itu.
“Sialan, terutama si Shou itu! Apanya yang mendamipingi?!” Saga mengutuk Shou keras-keras, berharap kawan seperjalannya mendengar dan menghampirinya.
Di tengah hutan yang cukup lebat dan ini bukanlah jalan setapak sehingga Saga tak tahu arah mana yang mesti dia ambil. Akropotamia itu tempat asing abginya, meski Shou bilang tinggal seperempat hari namun tetap saja akan terasa lama bagi Saga yang tak tahu menahu soal tempat asing tadi.
Tunggu dulu...
Keringat Saga mengalir berlipat-lipat lebih deras dari sebelumnya, lututnya melemas. Saga menelan ludah dengan berat, hal ini sama persis dengan apa yang dia alami tempo hari. Ya, mimpi buruk itu! Tak jauh berbeda, dia berada dalam kondisi panik dengan wajah yang berubah lagi menjadi pucat pasi. Diantara semak belukar dan belantara hutan yang lebat dan tak tahu arah, Saga merasa bahwa ini adalah bagian akhir dari hidupnya apabila Imago itu muncul.
Saga mencoba meraba tengkuknya lalu berakhir ke kantung panah yang biasa ia bawa, sial dia tak membawa satupun anak panah. Dia tak membawa apapun bersamanya, dia sendirian dan tersesat.
Saga memaksakan langkah kakinya yang mulai terseok untuk mencari jalan keluar, dia tak mau berakhir sebagai mangsa Harimau itu. Dia takut! Akan menjadi persoalan yang mudah apabila dia tak pernah menampakkan wajahnya di hadapan Imago itu, tapi sayangnya Saga dirundung nasib buruk lagi! Saga yakin, sangat yakin bahwa Imago Harimau itu mengingat jelas bagaimana bentuk dan rupa Saga, mungkin dia tahu Saga itu sebenarnya makhluk apa.
Kembali dia mengutuk dirinya dan Shou dan juga Hiroto,
“Apa hebatnya berdarah campuran kalau aku sama sekali tak memiliki kelebihan?” Saga berteriak; hampir menangis.
“Aku tak butuh dilahirkan, sungguh! Seandainya aku elf murni atau Demon sekalipun, aku tak harus bersusah payah seperti ini!”
Elf muda itu sekarang berjalan lagi mencoba menembus hutan yang ulai semakin gelap karena Matahari sudah mulai menutup dirinya untuk hari ini. Saga berharap dia tak menemukan pohon Mapple, ia tak mau tergolek lemas disana dan menjadi korban dari Imago di mimpinya. Mimpi itu tak boleh menjadi kenyataan.
Ketika Matahari benar-benar selangkah lagi pergi dan memberikan tahtanya kepada selimut gelap di malam hari, Saga mulai merasa putus asa. Pandangannya mengabur dan rasanya ia tak sanggup berjalan lagi. Terpaksa Saga mulai mendudukkan tubuhnya diantara besarnya batang-batang pohon yang ia tak ketahui apa jenisnya, dia terlalu lelah untuk mengira-ngira.
“Apa ini pohon Mapple?” Saga bertanya entah pada siapa.
Saga merasa ketakutan, lebih dari sekedar mimpinya. Tangan Saga meremas rerumputan di sampingnya, dia menahan air matanya agar tak jatuh. Dia tak bisa berubah menjadi anak cengeng hanya karena hal ini, dia yakin bahwa Shou dan Hiroto akan menemukannya. Shou akan melindunginya.
Saga menunduk lemas sembari tetap memanjatkan harapnya, berharap siapapun menolongnya dari kesendirian di hutan asing ini.
Suara semak yang mulai beradu di tengah bunyi-bunyi serangga malam itu mebuyarkan lamunan Saga, entah kenapa dia merasa makin tertekan dengan kondisinya yang sekarang. Langkah kaki berat itu menyapu indera pendengarannya, langkah kaki tunggal. Satu orang!
Indera perinya bergerak—meski tak terlalu maksimal. Tangan Saga mulai mencengkram beberapa akar kecil dari Pohon yang tak ia ketahui jenisnya itu, ini bau Imago. Saga mencoba menggeser tubuhnya, dia mencoba memaksa kakinya untuk bergerak, berdiri dan lari sekencang-kencangnya. Bahkan kalau dia mampu memhohon sekarang, dia berharap sepasang sayap muncul di punggungnya agar dia bisa terbang.
Diantara keremangan malam tampaklah sosok itu. Laki-laki dengan jubah hitamnya yang tak sampai lutut, wajahnya tak terlihat jelas oleh mata Saga yang mulai basah. Langkah kaki itu mendekat dan nafas Saga seperti menggantung di pangkal tenggorokannya.
Bukan. Itu bukan Imago dalam mimpinya.
Dia tak memiliki mata emas tajam berbentuk sabit seperti dalam mimpinya, Imago di dekatnya ini tak memiliki tubuh tinggi dengan senyuman mengejek di bibirnya, ini bukan dia! Rambut Imago yang ada di hadapannya ini berwarna cokelat dan mungkin kehitaman entahlah semuanya tak nampak jelas. Matanya agak sayu dan tak berwarna emas, tubuhnya tak terlalu tinggi kira-kira sepantar dengan Saga namun, satu hal yang sama. Imago ini terlihat lapar begitu menyadari keberadaan Saga.
Saga ingin berteriak, tapi suaranya telah habis karena setiap umpatan dan kutukan yang tadi dia teriakkan. Tak ada lagi yang tersisa.
“Ya ampun... ada elf manis disini,” Imago berwujud pria yang cukup tampan—tak lebih dari pria dimimpinya—itu mendekat, wajah bahagia jelas tergambar pada dirinya.
Saga baru saja ingin memanjatkan do’a pada Uriel ketika pria dihadapannya ini mendadak berubah menjadi seekor Musang—yang ukurannya sangat besar—melebihi Saga. Ekor musang itu mengibas-ngibas tanda bahwa dia senang, Saga masih ingin berlari namun tak ada tenaga dalam dirinya.
Dia benar-benar harus memohon pada Uriel agar mencabut nyawanya secara langsung sehingga dia tak merasa sakit, tak ada hal lain yang bisa ia lakukan.
“NAOKI!” sebuah suara teriakkan yang amat nyaring nyaris terdengar bagai auman.
Saga membuka matanya cepat, bola matanya membulat dan kepanikannya bertambah. Dari semak yang baru saja dilewati oleh pria musang ini, muncul seorang lelaki yang berjalan dengan setengah berlari.
Saga terlonjak, tubuhnya yang lemah sedikit menegang. Laki-laki inilah yang ada dalam mimpinya, bentuk wajah yang sama dan terutama...mata itu. Mata yang tak bisa Saga lupakan sejak awal dia melihatnya, mata yang selalu membuatnya dihujani perasaan takut dan tercekam.
Musang itu menoleh lalu seketika dia berubah menjadi manusia lagi, memasang wajah mengejek pada si pria asing di hadapannya.
“Apa maumu Tora?” ujar si Musang,
“Naoki, hentikan. Aku tak suka melihatnya,” Tora berkata dengan nada dingin namun serius. Bagi Saga itu malah terdengar seperti melodi neraka, tak bedanya dengan nada-nada bicara para Elder di sekolahnya.
“Kenapa? Aku hanya bermain, apa salahnya dengan itu?”
“Aku—“
“Aku tahu kau memang munafik, Tora. Hey, ingatkah? Siapa yang selalu berkata bahwa Elf itu rendah. Elf itu selalu bersikap layaknya mereka manusia, mereka selalu terlihat bagai makhluk paling bersahabat dan itu membuatku muak. Ingat, siapa yang bilang itu?” Naoki mendorong pelan bahu Tora lalu menepuk-nepuknya.
“Lalu, bukankah kau juga yang paling bersemangat untuk menganiaya kaum dari anak macam ini?” Naoki menendang kaki Saga dan membuat elf itu meringis.
“Aku hanya bilang menghancurkan desa mereka, tapi aku tak pernah berniat untuk membunuh!”
“Apa bedanya?!” Naoki menaikkan nada bicaranya, menyaingi Tora dan mengisyaratkan Saga untuk tetap diam di tempatnya dengan tatapan yang dingin. “Anak muda, aku ingin tanya padamu. Apa bedanya menghancurkan dengan membunuh?”
Tora diam. Naoki lebih tua darinya dan dia tak mau membangkang, itulah aturannya.
“Tak bisa menjawab? Oh, mengerikan! Kau adalah anak yang pintar, bukan? Jadi, dari pada kau bingung memikirkan jawabannya, kenapa tak dengarkan saja aku?”
Saga mulai menangis, air matanya mulai tumpah membanjiri pipinya. Ini bahkan lebih buruk dari mimpinya, sekarang ada dua Imago yang bersiap untuk mengoyak tubuh Saga, menjadikannya sebagai sebuah boneka mainan. Sudah terlambat, dia tak bisa mundur. Harimau putih itu tentu akan mengangguk dan ikut menerkamnya juga.
Harimau yang bernama Tora itu melemparkan pandangannya pada Saga, mata mereka bertemu. Saga ketakutan, dia mulai menggigil begitu melihat mata emas milik Tora. Hembusan nafas buas itu seolah muncul kembali di tengkuknya,
“Tora, aku menunggumu,” Naoki menghentak-hentakkan kakinya ke tanah—menunjukkan bahwa ia tak sabar.
“Aku tak bisa,”
“Tora, jangan buat aku merasa kesal, kau paham betul alasan mengapa Veroth—kakek kita meninggal! Dia diburu Elf! Mereka adalah makhluk yang selalu merasa bahwa kita berada di bawah mereka, menginjak-injak kita!” nada Naoki terdengar lebih kejam lagi.
“Dia...dia bukan elf,”
Tangisan Saga terhenti, dia menatap wajah Tora.
BHUUAAAKKK
Sebuah hantaman keras menyapa pipi kanan Tora membuat pria itu sedikit terseret beberapa langkah dari tempat dia berdiri tadi. Naoki menyeringai lalu membentak Tora dengan keras, “Kau mau bilang instingku salah?! Atau..kau ingin membodohi aku? Buka matamu Tora! Gunakan instingmu! Bagaimanapun kau melihatnya, dia adalah elf!”
“Dia bukan Elf! Dia DEMON!”
Naoki mendekati Tora lalu tertawa terbahak, pengakuan dari adik sepupunya itu benar-benar terasa menggelikan. Elf dan Demon jelas berbeda jauh.
“Demon?”
“Enduslah baunya! Dia bukan peri, dia demon. Dia inkubus,”
Naoki mendekati Saga untuk memastikan pengakuan dari Tora, dia mengangkat paksa wajah Saga dan menatap kedua mata Saga yang mulai berwarna ungu kelam. Naoki mendekatkan wajahnya dengan wajah Saga, elf itu sangat gemetar. Hembusan nafas Naoki yang dingin benar-benar membuatnya merinding, setelah beberapa detik Naoki melepaskan wajah Saga dengan kasar. Seperti pada barang yang tak dia rasa fungsinya, mengabaikannya.
“Aku masih bisa mencium bau busuk para peri di tubuhnya,” ucap Naoki.
“Dia baru lewat dari Zephyris, aku melihatnya beberapa waktu lalu,” jawab Tora.
Entah Tora sengaja atau tidak, tapi hidupnya dapat sedikit berada dalam garis batas aman. Mereka mengira Saga adalah demon, karena mata itu. Haruskah dia merasa bersyukur dengan kelahiran campurannya itu? Atau kembali menrutukki nasibnya? Entah.
“Well, kau memang hebat. Tapi aku tak mau minta maaf atas pukulanku tadi, kau pantas mendapatkannya karena membangkang. Kalau dia adalah demon...” Naoki menatap Saga lagi. “Aku rasa lebih baik biarkan saja, mereka tak mengganggu. Biasa saja,”
Tora hanya mengangguk sambil memegangi pipinya yang mulai sedikit terasa ngilu. Naoki melambaikan tangannya pada Tora lalu berjalan melewati Saga tanpa menatapnya sedikitpun. Saga, masih dengan air mata yang belum kunjung berhenti dari matanya mulai menebak-nebak apa yang ada di pikiran Tora. Apakah dia Imago yang bodoh? Atau mungkinkah bau demon ditubuhnya lebih dominan?
Saga merasa bahwa Tora mulai berjalan mendekatinya lalu berlutut di hadapannya. Wajah pria itu memang tampan—sangat. Saga merasa sedikit terpesona meskipun pandangan dari mata emas itu tetap merajang jiwanya. Jantungnya sudah terlalu banyak berdebar sehingga dia pun tak terlalu sadar dengan apa yang sedang terjadi, dia malah berpikir bahwa ini adalah sebuah mimpi yang sama atau lanjutan dari mimpinya kemarin.
“Kau yang tempo hari ingin memanahku, ‘kan?”
Saga tak menjawab, suaranya tercekat di tenggorokan.
“Kau berhutang padaku, darah campuran,”
*****
...
TO BE CONTINUED
0 shouts:
Post a Comment