Title - Zephyris Village
Chapter - VII
Pairing(s) - over all Tora x Saga, Shou x Hiroto, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)
- Pui
- Hotaru M.
イョ━━━━ヽ(=゚ω゚)人(゚ω゚=)ノ━━━━!!
Disclaimer : the visual key boys ain't ours, but think a hundred of times first if you want to copy this work of fiction because this is a story written by a lot of people with a lot of ideas.
Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪
Previous Chapter : Chapter I - Chapter II - Chapter III - Chapter IV - Chapter V - Chapter VI
Zephyris Village
Chapter VII
Sudah hampir 2 jam sejak para imago itu meninggalkannya sendirian di antara akar-akar pohon itu, tetapi Saga bahkan belum beranjak seinchipun dari tempatnya semula, dia takut. Saga merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa lupa pada racun yang diberikan oleh kai?! Padahal dari jarak sedekat itu dia pasti bisa dengan mudah menyiramkan racun itu. Aarrghh! Bodoh! Kenapa dia harus berpisah dengan Shou dan Hiroto sih? Bagaimana kalau dia tidak bisa menemukan mereka lagi? Di hutan ini pasti banyak makhluk berbahaya lain selaim para imago itu, Saga hampir terisak lagi saat dia mendengar sebuah suara.
“Itu dia..Saga disana..” Saga tau itu suara Hiroto.
“Ck.. Kau tiba-tiba menghilang, jadi kami harus kembali lagi dan mencarimu, lain kali hati-hatilah, biar bagaimanapun disini berbahaya.” Hiroto mulai mengomeli Saga.
“Kalian sendiri yang keasyikan dan meninggalkanku” Saga balas menggerutu “Sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan.” Saga mencoba berdiri, tapi sedikit terhunyung.
“ Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Shou
“Aku hanya sedikit lelah, makanya tadi aku beristirahat, lalu kemudian kalian menghilang.” Saga tidak tau kenapa dia berbohong pada Hiroto Dan Shou, Dia hanya tidak ingin menceritakan kejadian dengan para imago tadi kepada mereka berdua. Tapi sayangnya Shou sudah tau kalu Saga berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
* * *
Mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah desa dekat gerbang kota Akropotamia tepat sebelum tengah malam, dan memutuskan untuk menginap di desa itu. Penjagaan malam di Akropotamia terlalu ketat jika mereka memaksa masuk malam ini, jadi lebih baik besok pagi saja mereka melanjutkan perjalanan kembali.
“Disana ada penginapan, ayo kita coba kesana..” Mereka bertiga masuk ke sebuah penginapan kecil di tengah desa itu. Begitu masuk mereka hanya disambut semacam meja penerima tamu yang dijaga oleh seorang laki-laki yang well.. bagaimana menjelaskannya ya… errr—dia ‘ramai’. Baju tenunan yang dipakainya memiliki banyak warna dan dia juga memakai begitu banyak kalung dan gelang. Dari penampilannya saja Hiroto langsung tahu kalau pria itu seorang gypsy.
“Kami mau menyewa tiga kamar..” Shou berkata pada penjaga penginapan itu.
“Maaf tapi hanya ada 2 kamar yang tersisa malam ini.” Dia menjawab dengan sopan.
“Baiklah, tidak apa-apa.. Aku ambil dua-duanya.”
“Silahkan ini kuncinya, kamarnya ada di lantai 2.”
“Aku dapat kamar~” Shou kembali menghampiri 2 anak itu dengan wajah sumringah.
“Ck.. Aku pasti sekamar dengan hiroto, aku ingin sendirian malam ini.” Saga menggerutu dalam hati.
“Karena sepertinya Saga begitu leleh dan tidak ingin diganggu jadi biar aku sekamar dengan Hiroto Saja.”
“Eeeh??!” Hiroto sedikit berteriak tanpa sadar.
“Lagipula kau bilang ingin belajar sihir dariku kan kemarin? Aku bisa ajarkan beberapa sihir pemula malam ini.”
“eh, ta..tapi..”
“Sudah jangan mengeluh ayo kita cepat naik dan istirahat, oh iya, Saga, ini kunci kamarmu.” Shou melemparkan sebuah kunci pada Saga kemudian naik ke lantai atas diikuti oleh Hiroto dibelakangnya.
Saga juga akan naik menuju kamarnya saat tiba-tiba penjaga penginapan itu memenggil Saga dan berkata “Aku khawatir sesuatu yang luar biasa akan mendekatimu seperti sebuah badai. Kau akan mengalami malam-malam yang panjang dan cakar yang seperti petir mengelilingimu. Hati-hatilah terhadap menara-menara yang runtuh itu. Jika kau tidak hati-hati, kematian akan menanti."
"Maaf, tapi... kau siapa?" Tanya Saga dengan sopan, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh lelaki berwarna-warni itu.
"Mereka biasa memanggilku Nao." Gypsy itu tersenyum.
*-*-*-*-*
Gypsy. Nama sebuah kaum, atau etnis, tidak terlalu jelas. Yang pasti mereka sebenarnya hanyalah manusia biasa, yang dulunya adalah pengelana. Kebanyakan dari mereka tidak diterima di tempat-tempat yang mereka singgahi karena keanehan mereka. Memang mereka tidak biasa. Ciri mereka adalah mereka suka memakai satin (atau terkadang sutera) dan baju berwarna-warni serta jubah dan ikat kepala, aksesoris manik dan bebatuan alam seperti rubi, zamrud, giok, dan lain sebagainya. Tidak hanya dari segi berpenampilan. Kebanyakan dari gypsy-gypsy itu memiliki kemampuan supernatural, dan kadang penduduk biasa menganggap mereka sebagai dukun. Mereka suka meramal sembarang orang. Hasil ramalan mereka sering terdengar aneh, dan selalu berujung dengan kejadian besar yang gelap, hitam, dan kematian. Hal itulah yang membuat para gypsy sering diintimidasi bahkan tak jarang diusir dari satu daerah.
Karena itu pula, tak banyak gypsy yang bisa dijumpai saat ini. Kalaupun ada, mereka adalah kaum minoritas dari minoritas sebuah populasi. Tidak terkecuali lelaki penjaga penginapan yang mengaku bernama Nao itu, yang terlihat seperti tipikal gypsy pada umumnya.
Well, sebenarnya, baru pertama kali ini Saga melihat secara langsung seorang gypsy.
Hiroto turun beberapa anak tangga agar ia bisa meraih pergelangan tangan Saga dan mengembalikannya ke bumi dari lamunannya. Hiroto menariknya cukup keras sehingga mau tidak mau Saga menurutinya untuk naik ke lantai dimana kamarnya berada. Setelah mereka masuk ke lorong dan bayangan gypsy itu menghilang, Hiroto menarik Saga dan membisikinya.
“Jangan pernah percaya pada ramalan gypsy,” Ujarnya, sebelum melepaskan Saga dan membiarkannya berdiri mematung.
Di perguruan, sebenarnya ada banyak buku yang mengulas tentang para gypsy dan perjalanan mereka dari Eurasia selatan ke seluruh penjuru dunia; bahkan ada buku tentang mantra mereka di perpustakaan. Tapi Saga tidak pernah membaca buku, berbeda dengan Hiroto yang suka membaca. Dia hanya pernah membaca satu buku tentang ramuan-ramuan ala gypsy hanya karena dia tertarik dengan hal itu. Maksudku, ayolah, satu-satunya keahlian Saga selain memanah hanyalah membuat ramuan.
“Baiklah, malam sudah larut, kalian anak-anak harus segera tidur.” Shou tiba-tiba memotong, mendorong punggung Hiroto, memberinya tanda untuk segera membuka kunci kamar. Seperti biasa, senyumnya tidak pernah lekang dari parasnya yang tampan.
“Kau ini sangat cerewet!” Hiroto nyaris membentak, menarik dirinya dan melepaskan tangan Shou dari punggungnya. “Kenapa pula aku harus sekamar denganmu? Aku ingin menemani Saga!”
“Aku tidak apa-apa,” Ujar Saga dengan ramah. Senyum lemahnya terlihat dari wajahnya yang kelelahan. “Hari ini hari yang panjang. Aku ingin tidur... sendiri,” Tambahnya dengan jujur.
Hiroto mengerutkan dahinya. Sial, bukan itu yang ingin didengarnya. Dia hanya tidak ingin berada didalam ruangan yang sama dengan monster laut itu lama-lama, karena ia tahu Shou akan terus menggodanya hingga ia menyerah seperti apa yang sudah terjadi selama dua hari terakhir ini. Bagaimana kalau ia kalah dalam permainan Shou? Bagaimana kalau ia kehilangan...
“Tapi Saga—” Hiroto merengek memohon.
“Kau ini sangat cerewet.” Shou mengembalikan frase Hiroto barusan, merampas kunci kamar dari genggaman tangan Hiroto dan membuka pintu itu sendiri, lalu masuk kedalamnya. “Biarkan Saga mendapat ruang untuk dirinya sendiri malam ini,”
“Tapi—tsk, aaargh!” Kau membuatku gila, dasar makhluk neraka! Teriak Hiroto dalam hati sebelum akhirnya mengikuti Shou masuk ke dalam kamar mereka. “Saga, selamat malam!” Ujarnya pada Saga yang membalasnya dengan senyuman, sebelum ia menutup kamar dan meninggalkan Saga sendirian di lorong.
Melihat ke sekitarnya, Saga baru sadar bahwa lorong itu sangat sepi. Tidak ada seorangpun berkeliaran. Mungkin tujuan orang-orang yang menginap disini memang hanya untuk singgah dan tidur, bukan bersosialisasi. Bukan berarti Saga ingin ikut bersosialisasi jika mereka melakukannya, hanya saja, suasana malam di penginapan ini tidak berbeda dengan suasana malam di hutan tadi, ketika Tora, imago harimau putih yang bermata emas itu, meninggalkannya sendirian.
Ah, Saga jadi teringat lagi pada lelaki itu. Mengingat punggungnya yang lapang sebelum ia meninggalkan Saga sendirian, lebih tepatnya. Dan betapa bodohnya ia karena melepaskan seekor imago yang jelas-jelas berada tepat didepannya itu. Ia bahkan lupa dengan keberadaan ramuan yang diberikan Kai padanya. Lebih bodohnya lagi ia merahasiakan pertemuannya dengan para imago itu dari Shou dan Hiroto. Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan?
Membuka kunci kamar, Saga memutar kenob dan masuk ke dalam kamar yang disewakan Shou untuknya dengan lesu. Ia segera melepaskan kantung anak panahnya, membuka jubah dan baju luarnya dan sepatunya, lalu merebahkan diri diatas kasur yang tidak senyaman kasur dirumahnya itu. Ah, bagaimana kabar ibunya, ya? Jika ia kembali dengan tangan kosong, pasti ibunya bisa sangat marah dengannya. Bagaimana tidak, selama ini Saga hanya tinggal berdua dengan ibunya, dan mereka menjaga satu sama lain karena tidak ada lagi yang bisa diandalkan di keluarga mereka, lalu tiba-tiba Saga menghilang tanpa memberi tahu ibunya apa tujuannya yang sebenarnya.
Oh, betapa ia sangat mendambakan keluarga yang normal, dimana ia punya ayah yang nyata dan berburu rusa bersamanya, dan tak perlu berhadapan dengan imago seperti musang bernama Naoki itu. Ataupun Tora...
Saga membaringkan badannya, tengkurap, memeluk bantal dan memandang keluar jendela yang sempat ia buka. Malam kedua bulan purnama. Apakah besok ia bisa bertemu lagi dengan lelaki bernama Tora itu? Bagaimana agar ia bisa bertemu dengannya? Tidak, tidak. Ada sesuatu yang aneh dengannya, ia sadar akan hal itu. Ia tak bisa mengeluarkan Tora dari kepalanya. Ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bagaimana dengan perburuan dan semua rencananya sebelumnya?
Tidak. Ini tidak boleh terjadi.
*-*-*-*
Di pagi berikutnya ketika Saga turun ke lantai bawah untuk mendapatkan sarapannya, ia melihat Shou dan Hiroto duduk di sebuah meja tak jauh dari bar. Tidak ada konsumen lain di dalam kafetaria itu selain Shou dan Hiroto, sehingga kedua orang itu langsung sadar ketika Saga muncul dari balik koridor. Aneh, pikirnya. Bukankah semalam gypsy itu bilang bahwa semua kamar sudah penuh? Kemana semua orang?
“Saga!” Hiroto melambaikan tangannya, dan Shou hanya tersenyum padanya.
Berjalan dengan mata menelusuri setiap sudut ruangan, Saga menyadari bahwa Nao si gypsy sedang berada di dapur. Mungkin dia sedang memasak, atau entahlah, itu bukan urusannya. Ia segera duduk berhadapan dengan Hiroto yang terlihat biasa saja. Maksudnya, semalam dia terlihat sangat—tidak enak dilihat. Tapi sekarang, wajahnya itu terlihat seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saga tidak pernah bisa membaca apa dibalik senyum Shou, jadi Saga mulai bisa membaca tingkah Hiroto. Dan tentu saja, ia sangat yakin kedua orang itu menyembunyikan sesuatu darinya.
Tak sadar ia mendaratkan matanya ke dua gelas teh yang ada didepannya.
“Teh gypsy.” Ujar Shou yang menyadari tatapan mata Saga kepada dua gelas kuningan didepannya itu. Ia lalu mengambil gelasnya dan menyesapnya perlahan. “Rooibos. Mengandung tennin dan bagus untuk darah. Mau kupesankan?”
Saga menggelengkan kepalanya.
“Apakah Akropotamia masih jauh?” Tanya Saga untuk kesekian kalinya.
“Tidak juga,” Hiroto menggeleng. “Gerbangnya sudah bisa kau lihat tak jauh dari sini.”
“Emm, Hiroto,”
“Ya?”
Saga terlihat ragu, namun hanya sekilas. Di kepalanya terlalu banyak pertanyaan yang entah bagaimana tumbuh dan semakin tumbuh di kepalanya sampai saat ini, dan dia merasa tidak sanggup jika harus menyimpan itu di kepalanya lama-lama.
“Kau bilang kita bisa menemukan imago di Akropotamia, kan?”
“Yap,” Hiroto mengangguk.
“Tapi kalian bilang peraturan disana ketat, dan tak banyak makhluk magis bisa masuk kesana. Aku pikir, jika memang demikian bukankah mustahil untuk menemukan imago disana? Jadi mana yang benar?”
Hiroto menoleh pada Shou, seperti berbicara dengannya lewat telepati namun telepati itu diblokir dari Saga, atau sesuatu semacam itu. Saga hanya menunggu jawaban dari keduanya, sampai Shou kembali tersenyum dan mencondongkan tubuhnya kebelakang, meletakkan gelasnya di meja, dan menyandarkan punggungnya di punggung kursi.
“Mudah saja.” Ujarnya. “Kau tahu imago adalah makhluk setengah manusia, kan? Imago saat ini memiliki kemampuan untuk menyembunyikan aura binatang mereka. Jadi mereka berpura-pura menjadi manusia biasa, dan masuk ke kota-kota yang ramai dan ketat dengan peraturan agar jejak mereka tak mudah terlacak. Tapi untuk mereka yang bisa merasakan aura sekecil apapun itu, pasti akan merasakan keberadaan mereka di kerumunan. Biasanya yang bisa melacak mereka hanyalah orang-orang tertentu.”
Saga mengernyitkan keningnya. Wow. Kali ini Shou berbicara cukup panjang. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tapi seperti biasa Saga memutuskan untuk diam saja.
“Intinya walaupun sulit kita pasti bisa menemukan mereka disana.” Tambah Hiroto.
“Oh...”
Kini giliran Hiroto yang mengernyit.
“Seharusnya semua itu sudah tertulis di buku. Aku bahkan membacanya di perpustakaan perguruanku dulu di Ellmiore. Tidak pernahkah kau membaca buku, Saga?” Tanya Hiroto lagi.
“Ahaha,” Saga tertawa gugup. “Tidak juga...”
Shou hanya tersenyum miring melihat Saga yang kini menundukkan kepalanya. Ia bisa dengan mudah menebak anak elf berdarah demon itu. Bagaimana tidak. Jika bukan karena keiri-dengkiannya terhadap penduduk desa yang sering mengintimidasinya, Saga tidak akan memiliki niat sampai sejauh ini. Dia belum menginjak dewasa, yang benar saja? Lagipula, Shou sendiri, atau dalam hal ini Leviathan, adalah representasi dari sifat iri dengki itu sendiri. Mungkin itulah salah satu sebab mengapa Saga cukup membuatnya tertarik. Berbeda dengan Hiroto yang selalu bisa memblok pikirannya darinya dan membuat semua diantara mereka terasa lebih misterius.
Seperti mengapa tiba-tiba Hiroto menyenggol Shou dengan sikunya ketika menyadari bahwa lelaki yang jauh lebih tua darinya itu memandang Saga lama-lama.
“Apa?” Tanya Shou, kini tersenyum pada Hiroto. “Kau ingin kuperhatikan juga, Manis?”
Wajah Hiroto merah padam.
“Kau. Sangat. Cerewet!” Hiroto menggerutu, namun itu hanya membuat Shou terkekeh melihatnya. Dan seperti biasa, tawa Shou terasa sangat menyebalkan bagi Hiroto. “Jangan tertawa, Tuan, karena ini sama sekali tidak lucu!”
“Memang tidak,” Ujar Shou. “Tapi cukup menggemaskan.”
“Urgh!”
Tapi adu mulut antara Shou dan Hiroto tidak sampai ke telinga Saga. Walaupun dia peri yang memiliki segala kelebihan di indra-indranya, tapi jika ia sedang tidak ingin mendengarkan, maka dia tidak akan mendengarkan. Saga sibuk dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi dia meyakinkan dirinya bahwa dia harus mendapatkan seekor imago dan membersihkan namanya di desa, di sisi lain dia tidak yakin akan bisa menemukan imago di Akropotamia. Lagipula, jika memang teori Shou benar, maka seharusnya imago yang masuk ke Akropotamia adalah imago-imago yang memiliki kekuatan besar. Apakah itu berarti harimau putih itu tidak terkecuali? Terlebih lagi, Saga memiliki hutang—yang ia tidak tahu harus membayar dengan apa—dengan lelaki bermata emas itu...
“Tora...” Secara tidak sadar, Saga membisikkan nama itu diantara helaan nafasnya.
Entah bagaimana, Hiroto bisa dengan mudah segera menangkap bisikan itu walaupun tidak jelas dengan apa yang Saga katakan.
“Eh? Apa?” Tanya Hiroto.
“Apa?” Agak kaget, Saga nyaris terlonjak dari kursinya. Sial, dia kepergok sedang melamun.
“Kau berkata apa tadi, aku tidak dengar,”
“Tidak, tidak,” Saga cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berkata apa-apa.”
Hiroto memincingkan matanya, curiga. Ternyata tidak hanya ia dan Shou yang menyembunyikan berbagai macam hal dari Saga. Tapi Saga juga menyembunyikan berbagai macam hal darinya.
Disaat yang sama, semangkuk besar makanan berwarna merah kental disajikan diatas meja makan. Aromanya seperti campuran berbagai macam ikan—yang sepertinya memang dimasak sampai terlalu matang dan lembek, dan dicampur rempah-rempah yang sangat banyak yang membuat makanan itu terlihat seperti semangkuk darah yang dibiarkan menjadi kental. Yang benar saja.
“Sarapan!” Ujar Nao dengan riang.
Hiroto menatap cairan kental warna merah itu, lalu mengadah menatap Nao setelahnya.
“Apa ini?”
“Paella. Coba saja! Rasanya pasti enak.” Nao si gypsy itu tersenyum, lalu berjalan kembali ke dapur.
Sekarang mereka tahu mengapa ruang makan itu sangat sepi. Mereka bertiga saling melontarkan pandangan satu sama lainnya. Tapi Saga dan Hiroto memandang satu sama lain lebih lama daripada ketika mereka memandang Shou yang hanya tersenyum dan tak bergerak dari posisinya semula—duduk menyandarkan punggung di punggung kursi dengan tangan terlipat didepan dada. “Yekh—” Adalah respons kedua elf muda itu, dan seperti biasa, Shou hanya terkekeh.
“Makanan gypsy.” Gumam Shou lirih.
***********
...
TO BE CONTINUED
0 shouts:
Post a Comment