Wednesday, February 1, 2012

Zephyris Village - VIII

General :
Title - Zephyris Village
Chapter - VIII 
Pairing(s) - over all Tora x Saga, Shou x Hiroto, more to come
Fandom - no limitation
Rating - still PG 15 for now
Author(s) - (for this chapter)
  • Hihara Nobu
  • Hotaru M.
Notes : Buat yang mau gabung ayo dong douzo douzooo, jangan malu-malu, ikut aja 
 イョ━━━━ヽ(=゚ω゚)人(゚ω゚=)ノ━━━━!!

Disclaimer : the visual key boys ain't ours, but think a hundred of times first if you want to copy this work of fiction because this is a story written by a lot of people with a lot of ideas.


Summary : Saga adalah seorang elf muda setengah inkubus yang dikucilkan oleh penduduk desa Zephyris, desa kecil ditengah hutan tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan. Demi mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari penduduk desa bahwa dia hanyalah elf biasa seperti mereka, Saga memulai petualangannya dengan berburu imago, makhluk setengah manusia, bersama dua orang temannya yang ternyata 'tidak biasa'. Bagaimana kelanjutan petualangan Saga itu? klik link dibawah (≧∀≦)♪


Previous Chapter : Chapter I - Chapter II Chapter III - Chapter IV - Chapter V - Chapter VI - Chapter VII



Zephyris Village
Chapter VIII

“Err...Shou?” Saga dan Hiroto masih mengerutkan dahi mereka meskipun Shou sudah mulai mengambil jatah sarapan paginya.

Kedua elf itu tak habis pikir, bagaimana mungkin Shou bisa dengan santainya mengaduk barang yang di sebut makanan itu lalu memasukkannya kedalam mangkuk. Pria ini sudah gila.

“Kenapa?” respon Shou sungguh sangat biasa.

“Itu…benar-benar enak?” Tanya Saga khawatir.

“Well…” Shou mengunyah beberapa paella di mulutnya, “Tidak. Rasanya sangat buruk,”

“Lalu kenapa kau makan?”

“Aku ini bukan anak-anak seperti kalian berdua, buatku rasa itu nomor paling belakang,”

Saga dan Hiroto memang paling tidak suka, sangat tidak suka apabila Shou menyebut mereka anak-anak hanya karena Shou lebih tua. Saga memandang hidangan di hadapannya sekali lagi, tampilannya memang sangat-sangat tidak menggugah selera. Bau anyir hasil laut juga sangat menyengat, Saga baru pertama kalinya melihat makanan yang bernama Paella itu.

Saga terpaksa mengambil beberapa sendok Paella, dia menegak ludahnya membayangkan rasa macam apa yang nanti akan menjamah mulutnya.

“Aku peringatkan, rasanya tidak enak. Seperti makan bangkai ikan,” ucap Shou sembari memasok Paella ke mulutnya.
Saga memasukkan satu sendok Paella ke mulutnya dengan raut wajah terpaksa,

“S-shou…” desis Saga,

“Yaa?”

“Di bagian mana yang kau bilang tidak enak?”

“Mmm….entahlah, kenapa memang?”

“Rasanya biasa saja! Kau ini… hampir saja aku dan Hiroto mogok makan gara-gara bualanmu itu,” Saga mengumpat kesal. Paella ini hanyalah makanan biasa, tak ada rasa bangkai ikan meskipun boleh dibilang bau-bau hewan laut sangat menyengat di makanan ini. Hiroto yang mendengar pengakuan Saga hanya tecengang, dia masih tak mempercayai bahwa benda di hadapannya ini bisa dimakan. Ayolah, benda itu benar-benar terlihat mengerikan!

“Aku tidak makan!” seru Hiroto—masih belum percaya terhadap Saga.

“Nanti kau kelaparan, Hiroto,” entah lapar atau memang makanan itu benar-benar enak, namun Saga terlihat lahap memakannya.

“Akropotamia ‘kan sebentar lagi, aku kuat kok,”

“Kau itu butuh makan yang banyak, supaya cepat tinggi,” lagi-lagi Shou mengusiknya, Hiroto masih tetap menggeleng. “Ah, atau kau mau kusuapi?”

“Simpan saja kata-kata bodoh itu untukmu, aku tidak makan!”

“Terserahmu saja,”

Saga tidak ambil pusing mengenai apa yang Shou dan Hiroto debatkan saat ini, dia fokus. Fokus pada pertemuannya dengan Imago buruannya itu, bayang-bayangnya masih selalu berputar di kepala Saga. Dia juga penasaran, apakah Tora akan berada di kota besar bernama Akropotamia itu. Saga merasa nyalinya semakin ciut, dia tak pernah didekati Imago sebelumnya. Naoki dan Tora benar-benar membuatnya takut—namun tak ingin mundur juga— yang jelas Saga masih bertekad cukup kuat untuk menangkap seekor Imago saja.

Gypsy pemilik penginapan itu menampakkan wujudnya lagi, dia berjalan ke arah meja makan dan ikut duduk disana. Shou, Hiroto dan tentunya Saga langsung melemparkan pandangannya hanya untuk Nao. Sementara mereka memandanginya, Nao malah santai dan menatap wajah Saga dengan senyuman unik yang terbentuk di garis bibirnya.

Setelah dipikir-pikir, Nao memang sangat aneh.

“Err... kenapa?” tanya Saga—yang merasa agak risih.

“Kau sedang bergerak menuju Akropotamia, bukan?” tanya Nao,

“Ya, kami sedang—“

“Aku bertanya padanya, bukan padamu,” Nao memotong perkataan Hiroto dengan santainya, bahkan tanpa menoleh kepada Hiroto sedikitpun.

Hiroto kesal bukan main, dia menunduk lalu mengumpat. ‘Seberapa spesialnya sih seorang Saga?’ Hiroto berpikir bahwa Saga selalu...selalu saja jadi bahan perhatian. Dia ‘berbeda’ dan Hiroto tak menyukainya. Di tempat asalanya, Hiroto adalah anak yang biasa-biasa saja, tak ada kelebihan dan tak memiliki kekurangan setidaknya untuk dijadikan bahan gunjingan. Dia benar-benar biasa.

“Y-ya,” Saga tergagap, dia tak terbiasa ditatap terlalu dalam oleh orang lain.

“kau...” Nao meraih dagu Saga lalu menatap matanya dalam-dalam.
Saga menghela nafas, mengapa semua orang sangat menyukai wajahnya terutama di bagian bola mata yang abnormal itu.

“Ah...ya, bagus,” Nao tersenyum, Saga dan Hiroto melongo. “Kau punya semangat yang baik ya, Saga. Mau kubantu?” sambung Nao—masih menelaah sinar mata Saga.

“B-bantu? Tunggu dulu..” Saga menarik wajahnya dari lengan Nao, dia menggeser kursinya mundur beberapa jarak. “Apa maksudmu? Kau tidak tahu apa-apa,”

“Tentu aku tahu,”

“Tidak. Kau tak tahu, aku tak mengenalmu Tuan Nao,”

“Itu tak penting. Mau kubantu atau tidak? Pilihannya hanya itu saja,” lagi, Nao mengulas senyum.

Saga tak berani mengangguk, elf muda itu terdiam. Jemarinya dia ketuk-ketukan diatas meja, dia tak akan mau memandang Shou—meminta tolong dengan bahasa tubuhnya—karena Shou bahkan tak meliriknya sedikitpun. Sikapnya acuh tak acuh. Shou malah tengah sibuk berjalan pergi dari meja makan, menjejakkan kakinya ke lantai kayu lalu melpat kedua tangannya di daun Jendela. Shou memang selalu menyebalkan disaat-saat yang membuat Saga dilema seperti ini.

“katakan apa yang kau tahu,” akhirnya Saga berkata setelah keheningan menyelimuti ruangan mereka selama beberapa menit.

“Oh, bagus! Sudah lama tak ada orang yang mempersilakan aku untuk mengatakan sesuatu,” Nao bertepuk tangan kecil, lalu tertawa. Alih-alih menggubris Nao, Saga hanya menaikkan sebelah alisnya.

“Oke, aku tidak akan meramalmu tenang saja,” Tangannya bergerak perlahan, meraih telapak tangan Saga. “Aku hanya akan mengatakan apa yang aku ingin katakan, dan aku harap memabantu. Setelah aku mengatakan ini padamu segera angkat kaki dari sini, mengerti?”

Saga mengangguk dengan mantap.

“Aku tahu kalian, ah tidak maksudku kau. Kau ingin berburu Imago, karena itu kau pergi ke Akropotamia. Agak lucu memang, tapi tak apa, aku mengerti dengan posisimu saat ini,”

“Tunggu dulu, apa maksudmu dengan posisi Saga?!” Hiroto tiba-tiba saja memotong ucapan Nao.

“Jangan memotong ucapan orang lain, itu tak sopan,” Nao lagi-lagi berbicara tanpa memandang Hiroto.

“Lanjutkan perkataanmu tadi,”

“Well, oke. Aku hanya menyarankan agar kau jangan pernah menggunakan sihirmu secara sembarangan, jangan sampai ada yang tahu kalau kau adalah ‘makhluk yang langka’ atau mereka—yang berada di Akropotamia—memburumu. Kau tak akan bisa menemukan Imago disana tanpa instingmu, kan?” Anggukan lainnya. “Baik, karena itu temuilah kawanku. Dia berada di dekat pusat kota, dia seorang manusia yang akan dengan senang hati menolongmu, carilah seseorang yang bernama Jin,”

“Apa yang harus kukatakan padanya?”

“Tidak ada yang harus kau katakan, Saga. Dia akan tahu siapa kau dan dia akan tahu apa yang seharusnya dia lakukan padamu,” Nao menarik lengannya menjauh dari Saga.

“Bagaimana mungkin dia tahu?”

“Saga, ingat apa yang aku katakan barusan? Langsung pergi. Dari sini,” Nao terlihat serius. Wajah cerianya entah ia sembunyikan kemana.

Saga mengangguk cepat lalu mulai mengangkat tubuhnya dari kuris, ketika dia siap-siap kembai ke kamar tempat ia tidur semalam, tangan Nao mencekal pergelangan tangannya. Dengan wajah ragu Saga menoleh lagi,

“Jangan terlalu dekat dengan pria itu,” Nao menunjuk Shou dengan matanya, Saga hanya menautkan kedua alisnya dan mengangguk ragu.

Saga tidak pernah menyangka bahwa petualangannya akan sangat sangat membingungkan. Dia tidak pernah mengira bahwa dia akan menemui banyak orang baru yang aneh dan juga mengalami kejadian yang sama anehnya. Sungguh, sekarang Saga mulai menyadari bahwa jarak pandangnya belum seluas Shou maupun Hiroto, masih sejengkal dan dunia luar masih terasa sebagai dunia gelap yang belum ia jamah.

Namun Saga akan terus mencoba agar dirinya tak goyah, demi Ibu dan kampung halamannya yang telah dia tinggalkan dan demi harga dirinya yang mungkin akan semakin terinjak seumur hidupnya. Saga cepat-cepat mengambil perbekalannya lalu menarik Hiroto dan Shou untuk keluar dari penginapan itu dan segera bergerak ke gerbang Akropotamia. Elf campuran itu terlalu bersemangat sekarang ini.

***

Seperti biasanya, Saga selalu tertinggal di belakang Shou dan Hiroto. Kedua orang itu memang seperti memiliki dunia sendiri dan Saga dianggap sebagai outsider. Saga ingin cepat-cepat melihat gerbang Akropotamia dan berburu Imago—selain Tora. Dia tak mau melihat Tora lagi, terlalu menakutkan atau mungkin...memang dia merasa malu karena hutang budi yang dimilikinya. Dia masih belum tahu apa yang kira-kira ditagih oleh Tora di kemudian hari nanti, semoga Tora tidak meminta jiwanya.

“Saga, lihat. Kita sampai,” Shou menunjuk ke sebuah benteng tinggi besar yang menjulang, disana ada sebuah pintu yang terbuat dari kayu pohon yang terlihat sangat tebal dan berwarna hitam mengkilap. Di tengahnya ada sebuah besi penyangga yang memang terlihat berat dan berlapis-lapis, lalu di samping pintu berdiri dua orang yang sepertinya merupakan penjaga gerbang.
Bibir elf muda itu membentuk kurva senyum yang lebar, lantas dia langsung berlari kecil dan memotong langkah Hiroto juga Shou.

“Ayo, tunggu apalagi! Cepat!” dia berteriak; bahagia.

“Saga, tunggu dulu,” Hiroto memanggilnya.

“Ada apa?”

“Setidaknya kita harus menyamar dan menyembunyikan kekuatan sihir kita,” jelas Hiroto. Saga hanya melongo tak mengerti.

“Ahh...kau pasti tak paham,” Hiroto mengambil tas kulitnya lalu mencari-cari sesuatu.

“Apa ini?” Saga mengernyiykan dahi tatkala sebuah jubah berwarna cokelat usang tersodor di hadapannya.

“Pakai ini, untuk menyembunyikan identitas kita,” Oh iya, barulah Saga paham. Telinga dan matanya. Juga sihirnya. Semuanya harus disembunyikan agar dia tetap berada di garis aman.

Saga meraih jubah itu dan memakainya dengan tergesa, dia tak ingin melewatkan detik-detiknya dengan sia-sia. Dilihatnya Shou hanya menatap dia dan Hiroto tanpa melakukan apapun, lagi-lagi Shou membuatnya penasaran. Lalu, secara tiba-tiba saja Shou menarik Saga dan Hiroto, dia membacakan sesuatu entah apa itu. Terdengar seperti mantra, namun kedua elf itu tidak tahu mantra apa yang dibacakan Shou.

Untuk kali ini saja, senyuman mutiara itu lenyap dari bibir Shou tergantikan dengan mimik wajah serius. Seketika itu juga sekelebat cahaya seperti merajang mata dan seluruh wajah mereka, rasanya hangat dan lama kelamaan mendingin. Hiroto dan Shou reflek menutup mata mereka dan lalu ketika pegangan tangan Shou terlepas, mereka merasakan sesak di rongga paru-paru mereka. Hiroto dan Saga berhadapan, mata mereka saling lempar pandangan.

“Saga..”

“Hiroto..” ucap mereka dalam saat yang bersamaan.

“Matamu... bola matamu..” Hiroto tergagap.

“Seperti warna almond,”

*-*-*-*-*

“Benarkah?!” Saga nyaris melompat kegirangan. Seringai bahagia tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya yang polos. Matanya menjadi cokelat almond? Yang benar saja! Bagaimana Shou melakukan itu? Apa sihir yang ia pakai? Seandainya saja ia telah mengenal Shou lebih lama. Mungkin, hanya mungkin saja, jika Shou adalah ayahnya dan mereka tinggal bersama sejak ia masih bayi, semua petualangan menyedihkannya yang aneh yang dia alami tidak akan pernah terjadi. Tapi Saga bahkan tidak tahu siapa—atau apa—Shou yang sebenarnya. Lagipula karena mata Saga adalah ungu, Shou jelas-jelas bukan ayahnya.

Hiroto mengernyit, ia juga heran. Ia mengadah mencuri pandang pada Shou yang belum juga menampakkan senyumnya yang-seperti-biasa lagi, tapi mereka hanya diam saja dan tidak mengatakan apapun. Sejujurnya ia tak berani mengajak Shou berbicara jika lelaki itu sedang dalam kondisi yang serius. Shou terlihat seperti akan membunuh seribu orang sekaligus dengan wajah seriusnya, dan Hiroto tidak mau menjadi satu dari sekian banyak korban Shou yang jatuh.

Berbeda dengan Saga.

“Shou!” Saga nyaris berteriak, suaranya cukup keras namun bernada positif. Ia mendekati Shou dan berdiri persis didepannya. “Kau sendiri tidak mengubah warnamu?” Tanyanya.

Sepertinya perhitungan Hiroto kali ini meleset. Shou tertawa mendengar celotehan Saga yang seperti bayi. Dan seperti biasa, tawa Shou adalah sesuatu yang sangat menyebalkan bagi Hiroto, apalagi setelah tahu bahwa kecurigaannya tidak terbukti.

“Tahukah kau bahwa mata biru itu memang ada dan dimiliki oleh manusia? Aku tidak akan dicurigai hanya karena mata ini,” Senyum Shou kembali ke raut wajahnya. Ia lalu berjalan lebih dulu menuju gerbang Akropotamia. “Ayo kita masuk ke kota yang maha agung itu,” Terdengar nada sinis dalam kalimat Shou itu, namun tak digubris oleh kedua elf muda dibelakangnya. Mereka sudah mulai terbiasa dengan sifat Shou yang tak bisa ditebak. Shou seperti memiliki seribu wajah, karena itu pula Hiroto yang diam-diam mulai menaruh perhatiannya pada lelaki itu masih ragu untuk mempercayainya.

Berbicara tentang wajah, Hiroto baru teringat dengan prajurit-prajurit khusus yang menjaga perdamaian dan stabilitas kota Akropotamia yang berwajah seram dan berbadan besar dan menjadi satu-satunya yang legal memiliki dan memakai sihir di kota itu.

“Oh ya, Saga, hati-hati dengan para Watcher.” Ujar Hiroto pada Saga.
“Watchers? Siapa mereka?”
“Penjaga keamanan kota.” Jawab Hiroto, sebelum berlari menyusul Shou yang sudah jauh didepan.

*-*-*-*

“Waah,” Saga hanya bisa terkagum dengan mulut setengah terbuka ketika mereka memasuki gerbang Akropotamia.

Di dalam kota itu, bahkan tepat setelah memasuki pintu masuk, kau sudah bisa melihat keramaian—orang-orang yang mendorong gerobak-gerobak pengangkut berisi kebutuhan pokok, kereta kuda yang lalu lalang, anak-anak yang bermain, dan suara air bergemercik dari sebuah sungai besar tak jauh dari sana. Dari tempat itu pula kau sudah bisa melihat seperempat bagian dari sebuah patung yang sangat besar. Ada sebuah jalan besar yang langsung menuntun Saga, Hiroto, dan Shou, menuju ke tengah kota, dimana pemandangannya membuat Saga lebih tertegun daripada sebelumnya. Di sekitar patung seorang dewi yang sekiranya setinggi enam puluh kaki, terdapat sebuah kolam besar berbentuk lingkaran, lalu jalan melingkar yang juga sangat lebar, serta sebuah pasar di bagian barat dan rumah penduduk di sekitarnya. Bangunan-bangunan pengatur birokrasi terdapat cukup jauh dari kota, namun masih bisa dilihat dari tempat dimana patung besar itu berada karena terdapat diatas bukit yang cukup tinggi.

Patung itu sendiri adalah patung titan wanita bernama Themis, dewi yang merepresentasikan aturan, hukum, dan adat. Themis adalah yang dipercaya oleh penduduk Akropotamia telah melindungi kota mereka dari berbagai macam kekacauan—terutama yang disebabkan oleh makhluk-makhluk magis seperti mereka bertiga. Penduduk Akropotamia adalah penduduk yang taat hukum dan aturan, karena itulah posisi para prajurit dan Watcher, terutama Watcher, cukup diagungkan disini. Setidaknya, seperti itulah yang mereka percaya.

Watcher tidak cukup tangguh dan kuat untuk menghalangi makhluk-makhluk tertentu karena mereka hanyalah manusia biasa yang mendapat pelatihan, bukan benar-benar dari ras penyihir. Nyatanya banyak dari mereka yang menyamar menjadi manusia biasa bisa dengan mudah keluar masuk gerbang Akropotamia. Tapi setidaknya, dengan adanya para Watcher yang tak pernah berhenti berpatroli di kota tersebut, tidak pernah terjadi kekacauan yang berarti dalam kurun waktu yang cukup lama.

Mereka bertiga menelusuri jalan raya itu; Saga dan Hiroto sibuk mempelajari seluk beluk kota dan mengaguminya, sedangkan Shou hanya berjalan tanpa menunjukkan ketertarikan terhadap apapun. Ia sengaja menyembunyikan segala yang ia ketahui tentang kota itu dari Saga dan Hiroto, karena ia pikir akan lebih menarik jika keberadaannya diantara mereka hanya sebagai pengamat saja. Lagipula ia merasa bisa mati bosan jika harus berada terus menerus di Ergastulum, salah satu kerajaan di underworld tempat dimana ia tinggal. Yah, walaupun sebenarnya ia tidak akan bisa mati dan tidak akan bisa merasakan mati, tapi tetap saja.

Di persimpangan jalan, Saga tiba-tiba berhenti berjalan. Ia memutar tumitnya kebelakang.

“Oh ya, Kita harus menemukan Jin.” Ujarnya.
“Tapi bagaimana? Gypsy itu sama sekali tidak menyebutkan ciri-ciri apapun tentang lelaki bernama Jin itu.” Sahut Hiroto, menaikkan satu alisnya.
“Benar juga...” Saga mengalihkan pandangannya ke jalan berpaving dibawahnya selama dua atau tiga detik, sebelum kembali mengadah. “Bagaimana kalau kita tanya orang saja?”
“Saga,” Terlihat pundak Hiroto melemas. “Kota ini besar. Pasti tidak hanya satu atau dua orang saja yang bernama Jin yang ada disini. Percuma saja.”

Saga menganggukkan kepalanya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali merasa tak yakin.

“Tapi Nao kan gypsy. Mungkin Jin juga seorang gypsy?”
“Aku tidak yakin. Aku belum pernah melihat gypsy disini sebelumnya,” Jawab Hiroto.

Lalu terdengar suara kekehan yang khas, dan kedua peri itu menoleh pada Shou yang dengan perlahan berjalan melewati mereka berdua.

“Sebaiknya kita mencari orang bernama Jin itu kalau kita tak menemukan apa yang kita cari saja.” Ujarnya, memberi solusi.
“Maksudmu sebagai opsi terakhir, seperti itu?” Tanya Saga.
“Mm... Bisa dibilang demikian,” Shou mengayunkan tangannya di dekat mata, lalu berjalan mendahului mereka berdua.
“Lalu kita mau kemana?” Tanya Hiroto setengah berlari, menghampiri lelaki tinggi itu.
“Mencari penginapan.” Jawab Shou.
“Lagi?”
“Kau mau tidur di jalan? Kau mau pun tak apa, tapi aku tak tega,” Shou menggoda Hiroto dengan membelai dagunya, membuat Hiroto mundur beberapa langkah ke belakang dengan sebal.

Saga memutar matanya, lalu mulai berjalan mengikuti Shou dan Hiroto yang lagi-lagi sudah berjalan cukup jauh didepannya. Sejujurnya, antusiasmenya terhadap kota itu menurun karena ia melihat disekitarnya hanya manusia-manusia biasa yang beraktivitas. Ia pernah merasakan aura imago sebelumnya, jadi seharusnya ia bisa melacak keberadaan mereka, tapi nihil.

Tapi ada sesuatu yang membuat Saga tertarik. Di sebuah gang gelap yang sempit dan cukup kumuh tak jauh dari pusat kota, terdapat sebuah plat bertuliskan ‘Kojima’s Pub’. Ya, pub, sebuah tempat minum-minum yang biasa dikunjungi oleh masyarakat kelas menengah kebawah. Di Zephyris pun ada sebuah pub, namun alkohol tidak berpengaruh apapun terhadap jaringan tubuh elf, sehingga pub hanya digunakan sebagai tempat berkumpul elf-elf dewasa. Meskipun demikian, pub di Zephyris tidak sekotor Kojima’s Pub itu, setidaknya pintunya. Entah apa yang spesial dari pintu pub yang tepat berada di sebelah gerobak sampah itu, tidak ada yang menarik darinya. Tetap saja, pelat nama itu membuat Saga tertarik.

Tak menghiraukan Shou dan Hiroto yang sudah berjalan cukup jauh didepannya, Saga memutar badannya dan memasuki gang itu. Kakinya menuntunnya menuju pintu masuk Kojima’s pub. Ketika ia hendak masuk, ia mendengar Hiroto memanggil-manggil namanya namun ia tak bergerak sama sekali. Hiroto melihatnya berada didepan pub dan berlari kearahnya.

“Saga! Apa yang kau lakukan?!” Teriak Hiroto dari kejauhan, tapi Saga tak menjawab ataupun menghiraukannya. Ia berjalan masuk ke dalam pub itu.

Di dalam, terdapat banyak orang, dan bau bir dan rum sangat menyengat. Didominasi oleh lelaki-lelaki yang kebanyakan berusia paruh baya, tempat itu ramai dengan tawa, dan musik, dan judi di beberapa meja. Saga berjalan menuju meja yang terlihat kosong, pandangannya masih kekanan dan kekiri, mempelajari mereka yang saling membanting, saling bersulang dan menumpahkan bir, dan lain sebagainya, sebelum duduk di meja kosong untuk berempat yang terdapat tak jauh dari meja bar itu.

“Saga!” Hiroto tiba-tiba muncul dan menggebrak meja. “Katakan, apa yang ada di kepalamu? Kenapa kau ke tempat seperti ini?”
“Aku hanya ingin mampir.” Jawab Saga ringan.
“Saga, kita tidak sedang bertamasya, kan?”
“Memang tidak,” Saga mengangkan bahunya. “Anggap saja aku sedang observasi. Duduklah.”
“Tsk,” Hiroto mengeluh, namun akhirnya ia duduk juga di sebelah Saga.

Muncul seorang lelaki manis yang cukup tinggi mendekati mereka. Ia memakai celemek kusam dan rambutnya diikat. Lelaki itu tampaknya tak jauh berbeda umurnya dengan Saga, jika Saga adalah manusia. Senyumnya mengembang menyambut Saga dan Hiroto sebagai tamunya. Saga yakin lelaki berambut cokelat keemasan itu adalah salah satu pelayan di pub ini.

“Mau pesan sesuatu?” Tanya lelaki itu ramah.
“Jus jeruk, ada?” Tanya Saga.
“Tentu. Kau?” Lelaki itu mengalihkan pandangannya pada Hiroto.
“Sama saja.” Ujar Hiroto, mengangguk.
“Baiklah, dua jus jeruk,”
“Rui-sayang, kemari, kemari! Bawakan kami tiga botol rum lagi!” Teriak seorang lelaki mabuk berbadan besar, tak jauh dari meja Saga.

Lelaki manis yang dipanggil Rui itu menoleh ke lelaki berotot itu, lalu tersenyum padanya. “Tunggu sebentar!” Ujarnya, lalu mengalihkan perhatian lagi pada Saga. “Tunggu, ya?”

Saga mengangguk. Tak disangka olehnya akan disambut oleh seorang pelayan yang sangat ramah di sebuah pub yang terlihat kumuh dengan pelanggan yang semuanya seperti bandit-bandit hutan. Ketika Rui pergi, Saga kembali memperhatikan sekitarnya. Ia tak menyadari bahwa seseorang juga memperhatikannya. Seseorang yang duduk di bangku bar, dengan senyumnya yang khas, menunjukkan ketertarikannya terhadap Saga, dan Hiroto yang duduk disampingnya.

Lelaki itu turun dari bangku tingginya di bar, berjalan menghampiri Saga dan duduk berseberangan dengannya tanpa meminta ijin terlebih dulu, membuat Saga hanya memandangnya keheranan. Senyumnya masih ada di wajahnya; bibirnya yang sensual miring ke kiri, tulang pipinya sedikit menonjol, hidungnya mancung, dan ia memiliki kelopak mata yang sempurna. Matanya sendiri terasa sangat seduktif, karena ia terlihat cantik, namun terasa berbahaya. Rambut cokelatnya yang panjang terlihat menyempurnakan segala keindahan yang ada di dirinya, Ia menaruh satu tangannya diatas meja, lalu menyangga dagunya dengan tangan itu—dia terlihat seperti pelacur dengan posenya yang seperti itu. Namun tidak, jelas tidak. Dia terlalu elit untuk menjadi seorang pelacur.

Mata lelaki itu tegas memandang Saga, dan itu membuat Saga merasa tidak enak.

“Permisi?” Saga memulai.
“Kau, belum cukup umur untuk masuk kemari, kan?” Tanya lelaki itu. Senyumnya masih sama.

Hiroto hanya memperhatikan lelaki asing itu. Lagi-lagi ada orang asing yang mendekati Saga, walaupun Saga telah diubah sedemikian rupa sehingga menyerupai manusia biasa pada umumnya. Mungkinkah walau dengan bantuan Shou, lelaki didepannya ini masih bisa merasakan siapa Saga sebenarnya?

“Memangnya kenapa?” Tanya Saga agak kasar.
“Kau tahu tidak,” Lelaki itu memotong cepat. “Seharusnya kau berada dirumah saja, anak manis. Ibumu merindukanmu. Dan disini,” Lelaki itu mengedarkan pandangan kesekeliling. “Berada diantara bandit, perampok, pemerkosa, disini bukan tempat untukmu.”

Oh, Hiroto diam-diam menghela nafas lega. Lelaki ini belum tahu.

“Kau siapa?” Tanya Hiroto, membuat lelaki itu mengalihkan perhatian padanya. Ternyata tak jauh beda dari Shou, pikir Hiroto. Lelaki itu tak memudarkan senyumannya ketika saling pandang dengan Hiroto.
“Aku? Namaku Uruha.” Jawabnya. “Dan aku suka anak-anak.” Senyum seduktifnya itu semakin mengembang. “Maukah kalian memperkenalkan diri kalian padaku?”

Saga dan Hiroto hanya bisa memandang Uruha tanpa mengatakan apapun.

Cukup jauh di belakang, sebenarnya Shou memperhatikan percakapan itu. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan. Senyumnya tak tampak di wajahnya saat itu. Bukan berarti dia serius memperhatikan mereka, ia hanya sedang malas menampangkan senyum palsunya jika tak ada korban didepannya. Lagipula Shou sadar bahwa lelaki bernama Uruha itu mengetahui siapa Saga sebenarnya—bukan dari bau demonnya tapi dari bau elfnya. Shou juga langsung mengetahui sesuatu dari Uruha yang tidak disadari oleh Saga maupun Hiroto. Uruha, lelaki itu, adalah seekor imago. Bukan hanya sekedar imago biasa, karena ia salah satu imago yang bisa masuk ke Akropotamia tanpa dikejar-kejar oleh para Watcher. Dari bau dan tingkahnya, Shou bisa menebak bahwa Uruha adalah imago serigala. Dan dari cara serigala itu memandang Saga, sepertinya ia pernah melihat Saga sebelumnya. Shou bisa merasakan apa yang ada di kelapa Uruha itu, seperti ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia hanya menyimpannya dikepala. Shou beranjak berdiri dan meninggalkan pub, meninggalkan Saga dan Hiroto sibuk dengan Uruha, dan mencarikan penginapan untuk mereka.

Satu hal yang tidak diketahui oleh mereka bertiga adalah, bahwa Uruha adalah salah satu serigala yang pernah hampir dipanah oleh Saga di Zephyris.





...
TO BE CONTINUED

0 shouts:

Post a Comment